Gus Mus: Menjadi Orang Indonesia Diantara Nikmat yang Sering Lupa Disyukuri

Menurut KH. Mustofa Bisri ada tiga hal kenikmatan namun sering luput disyukuri oleh manusia, katanya dalam tausiyah peringatan Haul Mbah Mohammad Arif di dukuh Sendang Sari Banjaran Bangsri Jepara, Rabu (13/9).
Kenikmatan pertama adalah akal dan pikiran, inilah yang membedakan manusia dan mahluk lainnya.
“Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, sebab manusia diberi akal dan nurani.  Bisa berfikir, merasakan sesuatu, dan bisa mengekspresikan sesuatu,” katanya di halaman masjid Jami Muhammad Arif.
Namun sayangnya manusia jarang mensyukurinya, katanya. Bersyukur bukan hanya dengan ucapan ‘hamdalah’ karena itu hanyalah syukur kecil-kecilan.
“Namun syukur yang sebenarnya adalah menggunakan sebaik-baiknya semua pemberian. Akal dipakai, nurani digunakan,” katanya.
Gus Mus mencontohkan, Pilkada dan Pilpres itu cuma untuk jabatan lima tahun sekali,  tapi ada yang berpikir dan menyulut permusuhan seakan-akan jabatannya hingga hari kiamat.
“Bahkan ada yang mengumpakan seperti perang Uhud, perang Badar dan lain sebagainya,” tandasnya.
Nikmat kedua yang jarang disyukuri adalah mendapat hidayat menjadi umat Muhammaad.
“Kita ini siapa kok sampe kenal dengan nabi Muhammad? kita ini jauh dengan beliau baik secara kerabat maupun suku dan bahasa. Tapi ternyata kita sekarang menjadi umat Muhammad!”, Kata mustasyar NU ini.
Padahal, lanjutnya, ada juga yang dekat secara kerabat, bertetangga dekat, bahkan paman nabi sendiri namun tidak menjadi umatnya bahkan menjadi musuhnya, yaitu Abu Lahab.
“Karena Allah itu Maha semau gue, menjadi umat Muhammad itu adalah hidayah, yang merupakan hak khusus Allah. Maka akan diberikan kepada hamba-Nya yang layak,” tutur ulama dan budayawan itu.
Menurutnya, tetaplah menjadi manusia yang mencontoh nabi,  jangan model-model apalagi menyerupai malaikat yang mengaku-ngaku paling baik dari pada yg lain. Karena Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan demikian.
Kenikmatan ketiga yang jarang disyukuri, menurut ulama asal Rembang ini adalah dipilihnya kita oleh Allah menjadi orang indonesia.
“Saya pernah pergi ke Amerika, Eropa, Timur Tengah, Jepang dan banyak negara lainnya,  namun tidak ada negri yg lebih indah dan lebih baik dari pada indonesia,” katanya.
Menurutnya, Syaikhul Azhar Syeikh Saltut  pernah berkata bahwa orang Indonesia tidak akan kaget dengan surga nanti. Karena negrinya sendiri sudah seperti surga, Indonesia adalah cuilan surga.
“Sebagai orang Indonesia kita wajib bersyukur, dengan cara menjaga negri Indonesia dengan sungguh-sungguh. Karena kita makan, minum, dan besar di Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan seorang muslim yang kebetulan tinggal di Indonesia. Maka memiliki kewajiban menjaga negri ini.
“Mau Jokowi atau Prabowo itu sama saja, sama-sama keduanya orang Indonesia. Meskipun program keduanya bisa saja berbeda. Namun perbedaan itu selayaknya dihadapi dengan santai saja, dibahas sambil ngopi, katanya.
Gus Mus juga berpesan agar tidak usah ‘petentengan’, merasa benar dengan pilihannya  kemudian menuduh yang lain salah.
Hidup cuman sebentar, ga usah berlebihan saat beda pilihan, pungkasnya. (DarutTaqrib/Muh)
No Response

Leave a reply "Gus Mus: Menjadi Orang Indonesia Diantara Nikmat yang Sering Lupa Disyukuri"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.