Syiah Dan Islam Nusantara

No comment 172 views
*Oleh Ustad Miqdad Turkan

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah Islam yang dikembangkan di Nusantara sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi dan interpretasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2015, sabagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.

Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya.

Ciri utama Islam Nusantara adalah tawasut (moderat), rahmah (pengasih), anti-radikal, inklusif dan toleran.

Dalam menjalankan syiar, Islam Nusantara menggunakan pendekatan budaya yang simpatik, tidak menghancurkan, merusak, atau membasmi budaya asli, tetapi sebaliknya, merangkul, menghormati, memelihara, serta melestarikan budaya lokal.

Salah satu aspek khas Islam Nusantara adalah penekanan pada prinsip Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi semesta alam) sebagai nilai universal Islam yang mengedepankan perdamaian, toleransi, saling hormat-menghormati, serta pandangan yang berbhineka dalam hubungannya dengan sesama umat Islam, ataupun hubungan antaragama dengan pemeluk agama lain.

Sejak diumumkan, Islam Nusantara telah mendapat tantangan dan kritikan keras dari berbagai ormas Islam, termasuk dari internal NU sendiri. Mereka menganggap gagasan Islam Nusantara adalah sebagai bentuk Islam sinkretisme yang merusak “kesempurnaan” dan ketunggalan Islam, serta dianggap merusak persatuan umat.

Lalu bagaimana pandangan dan sikap masyarakat syiah?

Dalam syiah, Islam sebagai agama sejatinya hanya memiliki satu corak dan bersifat universal serta lintas sektoral. Islam yang dianut oleh orang Arab, Eropa dan Afrika adalah sama dengan Islam yang dianut oleh orang Indonesia. Landasan dan sumber pijakannya sama; yaitu Quran dan sunnah Nabi.

Apabila ada perbedaan paham di antara umat Islam, hal itu disebabkan oleh faktor perbedaan metode dalam memahami sumber aslinya. Dan apabila ditemukan perbedaan karakter umat Islam di masing-masing kawasan, itu karena faktor budaya yang berbeda telah membentuk karakter mereka.

Indonesia adalah negara besar, terdiri dari ratusan pulau, suku, etnis, budaya, agama dan bahasa. Sebelum Islam masuk ke Nusantara yang kemudian menjadi mayoritas, semua keragaman tersebut sudah terlebih dahulu ada dan mengakar.

Sementara “Islam Nusantara” yang digagas NU, sama sekali tidak menyentuh pada ranah prinsip-prinsip ideologi Islam, sehingga layak dituduh bid’ah atau mazhab baru. Ia lebih menitikberatkan pada etika sosial dan cara Islam menyikapi budaya, agama dan suku lokal yang beragam.

Semua paham bahwa tidak semua budaya lokal bertentangan dengan syariat Islam, dan yang seperti itu harus dilestarikan. Sedang budaya yang dianggap bertentangan dengan syariat, tidak lantas dibinasakan, melainkan perlu dihormati dan dibina.

Budaya sebuah bangsa adalah cermin identitas diri dan peradabannya. Apabila dibinasakan, berarti membinasakan sebuah bangsa itu senmdiri.

Dengan demikian, maka Islam sebagai penebar kedamaian dan rahmatan lil alamin benar-benar dapat dirasakan oleh semua orang dan semua penganut agama. Prinsip seperti ini sejalan dengan doktrin Syiah yang diajarkan oleh Nabi Saw dan Ahlul Baitnya yang kemudian dipertegas melalui fatwa para marja’ Syiah.

Contoh, konsep bela negara. Imam Ali as bersabda: “Negara dapat dibangun secara makmur, apabila panduduknya mencintai negaranya”.

Tanpa cinta negara, maka bela negara tidak akan pernah ada, keamanan akan hilang, pembangunan tidak akan berjalan, kemakmuran rakyat dan keadilan sosial tidak akan terwujud, korupsi dan penindasan akan terus merajalela.

Dalam syiah, keadilan sosial dan kemanusiaan adalah sebuah konsep yang bersifat universal, lintas mazhab, agama dan lintas sektoral. Imam ali as berkata kepada Malik Al-Astar: “Manusia itu adakalanya saudaramu dalam agama atau sesamamu dalam penciptaan”.

Hal ini dapat dipahami bahwa setiap manusia, apapun agama, suku dan etnisnya adalah makhluk Allah yang sama-sama memiliki hak hidup yang harus dihormati dan tidak boleh ditindas atau dibasmi.

Sayid Ali Khomenei dalam fatwanya menegaskan: “Setiap ucapan atau tindakan atau prilaku yang memberi celah kepada musuh untuk berbuat kejahatan, atau yang bisa mengakibatkan perpecahan di kalangan umat Islam, maka haram hukumnya secara syar’i”.

Al-quran juga berkata: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan….” (QS An’am: 108)

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Syiah di Indonesia, tidak hanya mendukung gagasan Islam Nusantara, tapi Syiah di Indonesia itu sendiri adalah “Islam Nusantara”.

Waallahu a’lam.

*Pengasuh PP Darut Taqrib Jepara.
No Response

Leave a reply "Syiah Dan Islam Nusantara"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.