Mengenal Rabi`ah, Ahli Fikih Guru Malik bin Anas

Rabi’ah adalah seorang ahli fiqih dan ulama’ di Madinah. Dia telah berjumpa dengan sejumlah sahabat Nabi Saw dan menimbah ilmu dari mereka. Disebutkan bahwa dia seorang orator yang menarik para pendengarnya. Meskipun  usianya tergolong sangat muda, Rabi’ah sudah mulai mengajar di Mesjid Nabi Saw di hadapan para pelajar yang berkumpul disekelilingnya. Salah satu muridnya adalah Malik bin Anas, imam madzhab Maliki.

Suatu hari, ayahnya yang bernama Abdurahman Farukh pergi ke Khurasan bersama pasukan tentara pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Dia tinggal di Khurasan untuk waktu yang panjang. Pada saat kepergiannya itu, istrinya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Rabi’ah.

Ibunya adalah seorang wanita pintar dan bijak. Dia mendidik dan merawat anaknya pada saat suaminya pergi jauh dan lama. Dalam didikan ibunya, Rabi’ah menjadi anak teladan dan tokoh pada masanya.

Diceritakan bahwa pada saat ayahnya pergi ke Khurasan, dia meninggalkan uang untuk istrinya sebesar tiga puluh ribu dinar agar disimpa dan di kemballikan ketika ia sudah pulang. Ayahnya tinggal di Khurasan selama dua puluh tujuh tahun. Ketika ayahnya pulang ke Madinah dengan menaiki kuda dan membawa lembing, dan hendak masuk ke rumahnya, tiba-tiba ia dihadang oleh seorang pemuda yang gagah di depan pintu rumahnya. Pemuda itu berkata, ”Hai musuh Allah! Mengapa kamu menyerang rumahku?”

Ayah itu menjawab, “Kamulah musuh Allah, karena kamu berada di rumahku dan telah menodai kehormatankku!”

Terjadilah pertengkaran dan perkelahian hingga terdengar oleh para tetangga. Mereka datang untuk mlihat apa yang terjadi. Kejadian ini sampai juga kepada Anas bin Malik dan para tokoh lain di Madinah. Mereka membela Rabi’ah karena mereka tidak percaya bahwa Rabi’ah sebagai ulama’ akan melakukan kesalahan.

“Aku tidak akan membiarkan orang asing ini sampai aku membawanya ke hadapan hakim,” ujar Rabi’ah marah.

“Aku bersumpah atas nama Allah, bahwa aku tidak akan membiarkan perkara ini sampai di hadapan hakim, karena aku melihat dia bersama istriku di rumahku, “ tukas ayah itu.

Dalam suasana seperti itu, ibu Rabiah diam di dalam rumah dan melihat mereka dengan sedih dan bingung. Dia mulai memikirkan kata-kata orang asing itu, “Istriku…rumahku…” dia mulai ingat dan mendekati orang itu untuk melihat wajahya dari dekat. Setelah itu,dia mengenalinya, dan lalu berteriak, “Hai saudara-saudaraku sekalian, orang ini adalah saumiku, dan anak muda ini adalah anakku. Aku melahirkan pada saat suamiku pergi.”

Ketika mereka berdua saling tahu bahwa mereka ayah dan anak, meraka berpeluk dan menangis. Si ayah lalu masuk ke rumah dan beristirahat sejenak. Kemudian bertanya pada istrinya, “Apakah benar dia adalah anakku?”

“Ya,benar,” jawab istrinya.

“Baik. Kamu telah menjaga amanat ini dengan baik. Sekarang ,mana uang tiga puluh ribu dinar yang aku titipkan padamu pada saat aku pergi? Dan ini empat ribu dinar aku bawa untuk di kumpulkan dengan uang itu,” kata ayah itu.

“Aku telah menyimpan uang itu ditempat yang tepat setelah kamu pergi. Nanti akan aku ambil setelah bertahun-tahun aku simpan.” Jawab ibu itu.

Ketika ibu Rabi’ah berbincang-bincang dengan suaminya itu, Rabi’ah keluar dari rumahnya dan pergi ke Mesjid Nabi untuk mengajar sebagaimana biasanya. Para murid, seperti Malik bin Anas, Hasan bin Zaid bin Abu Lahbi al-Masahiqi, dan lain-lainnya datang untuk belajar kepadanya.

Ketika Rabiah sedang berada di mesjid Nabi, ibunya berkata pada ayahnya, “Baik,karena kamu baru datang, sebaiknya kamu pergi dulu ke mesjid Nabi dan sholat disana, kemudian pulang dan beristirahatlah.”

Pada saat ayah Rabiah masuk ke dalam Mesjid Nabi, dia melihat majlis taklim besar yang dihadiri oleh banyak orang yang mengelilingi seorang pemuda. Pemuda itu menajar dengan memakai serban di atas kepalanya. Lalu si ayah itu duduk di tempat paling belakang.

Ketika pemuda yang bernama Rabiah itu melihat ayahnya, maka dia menundukkan kepalanya, sehingga ayahnya tidak dapat mengenalinya. Ayah itu mengagumi pengajar yang masih muda tersebut, dan bertanya kepada orang yang ada di sampingnya, siapakah anak muda itu?

“Rabi’ah bin Abdurahman Farukh,” jawab orang itu.

Mendengar jawaban itu, si ayah berkata dalam hati, “Ilahi, betapa terhormatnya anakku ini.”

Ayah itu pulang ke rumahnya dengan senang hati dan berkata dengan bangga pada istrinya, “Aku tadi melihat anakku dalam posisi yang tidak pernah aku lihat seorang pun dari kalangan ulama seperti dia. Aku yakin, saat ini tidak ada seorang pun yang dapat menandingi kedudukannya,”

Sebenarnya, istrinya  sudah menunggu ucapan ini keluar dari suaminya. Lalu ia berkata, “Baik. Sekarang, katakanlah padaku, manakah yang lebih berharga bagimu, apakah uang tiga puluh ribu dinar emas atau anak yang telah mencapai kedudukan seperti itu?”

“Aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa mempunyai anak dengan kedudukan seperti itu lebih berharga daripada uang tiga puluh ribu dinar,” jawab ayah Rabiah.

“Kalau begitu, ketahuilah bahwa ketika kamu pergi, aku telah menggunakan uang itu untuk keperluan belajar dan mendidik anak kita sehingga dia mencapai kedudukan seperti itu dalam usia yang masih muda,” jelas ibu Rabi’ah.

“Aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh kamu telah menggunakan uang itu dengan baik, dan kamu tidak menyalahgunakannya,” kata ayah Rabi’ah. (DarutTaqrib/Sajjad/Adrikna!)

Sumber: Meraih Sejuta Berkah (Husein al-Kaff) hal,58-62.

 

No Response

Leave a reply "Mengenal Rabi`ah, Ahli Fikih Guru Malik bin Anas"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.