Ramadhan dan Penanaman Akhlak

No comment 236 views

Oleh: Ahmad Saefudin, M.Pd.I., dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara

Muslim yang taat, senantiasa menjaga diri dari kebengisan nafsu. Salah satu caranya adalah mentransmisikan basis keilmuannya untuk memperbaiki perilaku (لاتمم مكارم الاخلاق). Sengaja saya menggunakan kata “اخلاق” daripada “اداب”. Apa bedanya?

Adab saya maknai dengan etika. Etika berhubungan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya, tradisi “unggah-ungguh” bagi orang Jawa terhadap mereka yang lebih tua. Santun bercakap dengan cara “kromo” sekaligus menghindari bahasa “ngoko”. Itulah adab atau tradisi kesantunan. Standarnya adalah elok dan tidak elok. Sedangkan “akhlak” mempunyai terminologi lebih luas. Melampaui kadar etika. Sebagaimana risalah kenabian yang membawa misi “penyempurnaan moral”.

Sangsi terhadap pelanggar norma kesusilaan ialah cemoohan yang bersifat kultural. Bukankah ada adagium populer di kalangan pesantren bahwa “من ليس له الاداب كاالذباب”. Orang yang tidak mampu menjaga etikanya, ibarat lalat. Sudah jamak diketahui, lalat merupakan simbol binatang yang kotor dan menyukai tempat kumuh. Artinya, ketika kita kehilangan etika, sama saja kita terjebak ke dalam kubangan lumpur kehinaan.

Berbeda dengan akhlak yang semakna dengan karakter yang melekat dalam diri seseorang. Tabiat ini bersifat refleks, “automatically”, batiniyah, dan tidak bisa dibuat-buat. Bagi umat Islam, “role model” ideal dalam persoalan akhlak ialah perangai Nabi Muhammad SAW. Keagungannya sudah dipuji oleh Allah melalui firman-Nya, “وانك لعلی خلق عظيم.

Akhlak seperti apa yang bisa kita contoh? Banyak sekali. Sebuah syair ad-diba’i dengan indah melukiskan, “وكان صلی الله عليه وسلم احسن الناس خلقا وخلقا” (Wa kâna shollâllâhu ‘alaihi wa sallama ahsanan-nâsi kholqôn wa khuluqôn). Sungguh! Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik manusia, fisiknya maupun budi pekertinya. Sudah jelas. Mustahil kita meniru Nabi Muhammad secara fiik. Takdir mnggariskan kita menjadi bangsa “ajam” alias non-Arab. Sehingga, mencontoh Nabi Muhammad SAW. bukan hanya disandarkan kepada “fisiknya” an sich, melainkan yang lebih esensial ialah “budi pekertinya”. Buat apa berjenggot dan berjubah, jika tindakan-tindakan kita belum mampu lepas dari sikap amarah, culas, brutal, dan amoral. Bukankah semua itu jauh dari laku qur’any? Muslim yang demikian dengan sendirinya menegasikan prinsip “كان خلقه القران”.

Semoga momentum Ramadhan ini melatih diri kita untuk menjadi manusia yang beradab dan berakhlak. Amin. والله اعلم بالصواب.

note: Ceramah kajian Ramadhan ustad Miqdad Turkan, Selasa 4 Ramadhan 1438 H, di pesantren Darut Taqrib Jepara.

(DarutTaqrib/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Ramadhan dan Penanaman Akhlak"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.