Berziarah dan Bertabaruk ke Makam Para Wali Tradisi Sunni dan Syiah

DSCN5606Berziarah ke makam para wali dan bertabaruk dengan orang-orang shaleh adalah tradisi Islam. Maka tak heran baik di Indonesia yang mayoritas Ahlusunnah dan di Iran yang Syiah, dua tradisi ini ada dan mengakar kuat di kalangan masyarakat.

Sebagaimana di Indonesia banyak makam para wali dan habaib, begitu juga di iran. Dua sayap Islam ini, Ahlusunnah dan syiah, menjaga kedekatan dengan Allah melalui orang-orang shaleh di sekitar mereka secara turun temurun.

Selasa, 9 Agustus 2016 kemarin, para pelayan makam wali dari Iran, Imam Ridho, berkunjung ke Pesantren Darut Taqrib, Jepara. Selain bersilaturahmi, tamu-tamu dari Masyhad ini juga melakukan studi banding budaya ziarah yang ada di Indonesia, dan mencari titik persamaan muslim Indonesia dan Iran.

Di samping itu, tamu yang terdiri dari ulama dan juga Qori dan tahfid Quran itu membawa bendera yang biasanya ditancapkan di kubah makam yang disucikan muslimin di sana untuk tabarukan, atau mengambil berkah.

Tak ayal, sekitar 250 hadirin, Muslimin dan Muslimat yang berkumpulkan di  Masjid Imam Mahdi pun berebut  bertabaruk. Isak tangis haru menyelimuti malam itu, berharap bisa berziarah langsung ke makam yang berada nun jauh di sana.

Dalam ceramahnya, Prof. Dr. Muhammad Jawad Nejawad Yazdi selaku ketua rombongan mengatakan bahwa para wali adalah syiar Allah bagi umat, salah satu obat bagi jiwa manusia yang sakit.

“Manusia memiliki dua sisi, ruh dan fisik. Dan keduanya bisa terkena penyakit. Ketika pergi ke dokter akan ditukiskan resep. Resep dokter adalah langkah-langkah dalam menyembuhkan penyakit. Jika dokter hanya menukiskan dan kita tidak menebus obatnya, maka penyakit tidak akan sembuh.” Katanya.

Allah menyatakan bahwa jiwa bisa sembuh melalui beberapa tahap, lanjutnya.  Apa pun yang kita lakukan dengan al quran, membacanya apa yang mudah dari Quran dan lain sebagainya adalah upaya menebus rasa sakit dalam jiwa kita.

“Di samping membaca, Allah juga memerintahkn kita agar mendengarkan Al Quran. Namun disamping itu kita juga diperintahkan merenungkan ayat-ayat Quran, supaya dapat pemahaman yang benar tentang Al Quran.” Lanjutnya.

Menurut ulama dan juga peneliti ini, pemahaman saja juga tidak cukup, karena sebenarnya pemahaman hanya muqodimah agar kita mengamalkan Al Quran.

“Mereka yang hanya memegang botol madu tidak akan mendapatkn manfat madu sama sekali, mereka yang hanya berkata madu itu manis tidaklah berarti merasakan manisnya madu.“ Tambahnya.

“Namun jiwa kita juga harus dibuat manis agar bisa merasakan manisnya Quran.” Tandasnya.

Masalah utama muslimin saat ini dalah tidak mengamalkan Al Quran, lanjutnya. Ada yang hanya berpegang dengn dzohir Quran dan dzohir Ahlul Bait saja.

“Padahal Allah memerintahkan kita agar berpegang teguh dengan Quran dan Ahlul Bait keduanya, secara dohir dan batinnya.”

Dan Imam Ridho adalah dzohir dan bathin Ahlul Bait, dia juga Al Quran yang berjalan, pungkasnya. (DarutTaqrib/Adrikna!)

 

 

No Response

Leave a reply "Berziarah dan Bertabaruk ke Makam Para Wali Tradisi Sunni dan Syiah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.