Kala Ulama Iran Mendedah Halal BIhalal ala Indonesia

photo_2016-08-16_22-10-22Akhir bulan Syawal, Pesantren Darut Taqrib kedatangan tamu dari Jakarta, Sayid Murteza Almusavi, seorang ulama dari Republik Islam Iran. Kedatangan Sayid Murteza  dalam acara halal bihalal masyarakat pecinta Ahlul Bait Nabi di Jepara

Halal Bihalal adalah tradisi khas Muslim Indonesia, namun menurut Sayid Murteza  yang juga Direktur Islamic Cultural Center Jakarta, tradisi ini memiliki akar kuat dalam Islam. Menariknya, ulama Iran yang tidak memiliki tradisi halal bihalal ini mendedah dengan detail hikmah halal bihalal ala Indonesia ini.

Berikut poin-poin ceramah menarik beliau;

Meski halal bihalal adalah tradisi Indonesia, namun halal bihalal berasal dari bahasa Arab dan memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam.

Tradisi halal bihalal memiliki lima poros: kalimat halal bihalal itu sendiri, terciptanya silaturahmi, ungkapan rasa syukur kepada Allah, memperkuat hubungan kemasyarakatan sesama muslim dan menjaga tradisi kebangsaan.

  1. Halal bihalal

Setelah puasa dan idul fitri umat Islam di Indonesia saling mengunjungi, bersilaturahmi dan saling maaf memaafkan. Ini adalah sunah yang baik, setelah meminta maaf kepada Allah selepas Ramadhan kemudian saling melepas beban kesalahan di pundak kita kepada saudara-saudara yang lain selama setahun kedepan.

Halal bihalal mengajarkan agar kita tidak menyimpan dendam dan permusuhan diantara sesama. Karena kesalahan yang masih ada diantara kita akan menjadi beban yang berat dalam kehidupan.

  1. Silaturahmi

Silaturahmi memperkuat persaudaraan, silaturahmi mendatangkan kedamaian dan ketenangan dalam hati di samping mendatangkan rizki.

Silaturahmi di bangsa Indonesia adala tradisi mudik. Seorang anak menempuh jarak yang jauh demi mengunjungi orang tuanya, menempuh resiko apapun asal bisa berkumpul dengan keluarga setahun sekali. Silaturahmi dalam Islam memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri.

  1. Ungkapan syukur

Ketika seorang anak mudik dan mengunjungi orang tuanya, ini adalah ungkapan syukur dan terima kasih anak kepada orang tuanya yang sudah membesarkannya sekian lama.

Keberadaan orang tua dan sesepuh yang dikunjungi dan mencium tangan mereka adalah ungkapan syukur yang agung, anak kepada oran-orang tua.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrahim:7

 

Jika seorang anak mendoakan kebaikan kepada kedua orang tuanya niscaya Allah akan cepat mengijabahnya, maka ketika seorang anak bersilaturahmi dan mendoakan kedua orang tuanya Allah akan mengabulkan permintaan dan memberikan keberkahan padanya.

  1. Memperkuat hubungan sosial

Saling mengunjungi sesama saudara dan tetangga dan saling mendoakan maka akan membuat masyarakat yang kuat dan bersatu, tidak mudah dipecah belah.

Saling mengunjungi akan memperkuat persaudaraan yang sudah lama terpisah, kembali dipertemukan meski lama tidak berjumpa. Dalam silaturahmi tercipta keakraban dan eratnya persaudaraan. Silaturahmi tidak perlu biaya mahal, meski hanya sekedar bertegur sapa, bertanya kabar dan saling berucap salam.

  1. Silaturahmi mendatangkan tentramnya hati dan kedamaian.

Bersilaturahmi menyingkirkan jiwa anti sosial dari dalam hati kita. Karena silaturahmi melebur prasangka-prasangka yang ada.

Islam menganjurkan untuk akrab dengan sanak saudara dan orang tua, karena dengan  keakrabanlah lebih mudah untuk saling menolong kala membutuhkan. (DarutTAqrib/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Kala Ulama Iran Mendedah Halal BIhalal ala Indonesia"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.