Kemuliaan Sayyidah Fathimah Zahra as

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (sambil berkata) ‘sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu. Sungguh, kami takut akan azab Tuhan pada hari ketika orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.”[1]

 

Rasulullah saw bersabda, “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang mengganggunya berarti telah menggangguku dan siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku.”[2]

 

Dalam lembaran sejarah, telah kita saksikan betapa besar pengorbanan Sayyidah Fathimah binti Muhammad as. Hidup beliau yang singkat, dipenuhi aral rintangan yang tidak sedikit. Ditinggal ibunda pada umur yang masih sangat belia, melihat dan menanggung penderitaan ayahnya dalam menyebarkan islam, hingga kepergian Rasulullah, semua ini membuat Fathimah menjadi pribadi yang benar-benar teruji. Berbekal keberanian untuk membuka membuka lembaran kelam sejarah islam, kita dapat menyaksikan betapa berat ujian yang dihadapi beliau setelah wafatnya Rasulullah saw.

Kembali pada ayat di atas, semua mufassirin sepakat bahwa ayat di atas turun untuk Sayyidah Fathimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as, serta Fiddhah, pembantu Sayyidah Fathimah. Suatu ketika, Sayyidah Fathimah as dan keluarganya, melaksanakan puasa nadzar selama tiga hari. Namun, di malam pertama, tatkala hendak berbuka puasa datanglah orang miskin yang mengetuk pintu seraya meminta iba Sayyidah Fathimah as. Kontan saja Sayyidah Fathimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as serta Fiddhah memberikan makanan buka puasa mereka kepada orang miskin tersebut. Sehingga, mereka hanya berbuka dengan seteguk air. Pada hari kedua, datang seorang anak yatim meminta iba kepada mereka ketika mereka hendak berbuka puasa. Mereka pun memberikan makanan mereka kepada anak yatim tersebut, sehingga mereka harus kembali berbuka dengan seteguk air saja. Hari ketiga pun demikian. Sayyidah Fathimah as dan keluarga beliau kembali berbuka dengan seteguk air ketika makanan mereka diminta oleh seorang tawanan. Maka turunlah ayat di atas yang memuji -dengan pujian yang setinggi-tingginya- Sayyidah Fathimah as dan keluarga beliau.

Ayat ini, sejatinya, sudah cukup membuktikan bahwa Sayyidah Fathimah as bukanlah wanita biasa. Allah swt memuji Sayyidah Fathimah as dengan kata, “sesungguhnya kami (Sayyidah Fathimah as dan keluarga) memberi makanan kepadamu (orang miskin, anak yatim dan tawanan) hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah.” Bahkan dalam lanjutan ayat di atas, yang membahas tentang kenikmatan-kenikmatan surga, tidak terdapat kata-kata ‘bidadari.’ Kenapa? Karena ini merupakan bentuk penghormatan kepada Sayyidah Fathimah as. Kenyataan ini diperkuat dengan hadits dari Rasulullah saw yang berbunyi, “di hari kiamat kelak, terdengar suara yang menyeru dari ketinggian ‘arsy, ‘wahai sekalian manusia, tundukkanlah kepala kalian dan pejamkanlah mata kalian sampai Fathimah melintasi shirath. Lalu beliaupun melintasinya bersama 70 ribu budak dari kalangan bidadari.’ ”[3]

Kedudukan Sayyidah Fathimah as yang sangat tinggi ini, selayaknya kita jadikan bukti bagi kita untuk mencintai beliau as. Terlebih, Rasul saw begitu memuliakan beliau as. Kita tidak bisa menafsirkan sikap penghormatan Rasul saw kepada Sayyidah Fathimah as dikarenakan Sayyidah Fathimah as adalah putrinya. Tidak! Rasul yang semua perkataannya adalah wahyu[4] memuliakan Sayyidah Fathimah as dikarenakan Rasulullah saw tahu betapa tinggi kedudukan Sayyidah Fathimah as di sisi Allah ‘azza wa jalla. Hal ini terungkap lewat hadits beliau yang sangat indah. Diriwayatkan, beliau saw pernah bersabda, “…Adapun putriku, Fathimah, sesungguhnya adalah penghulu kaum wanita alam semesta, dari awal sampai akhir. Dan dia adalah bagian dariku dan cahaya mataku. Dia itu buah hatiku dan ruhku yang berada di antara kedua sisiku. Dia adalah bidadari manusia. Kapanpun, dirinya berdiri di mihrab, di sisi Tuhannya, niscaya cahayanya akan memancar ke arah para malaikat langit, sebagaimana terpancarnya cahaya planet-planet kepada penduduk bumi. Dan Allah berfirman kepada malaikat-Nya, ‘wahai para malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku, Fathimah, sang penghulu hamba-hamba wanita-Ku yang sedang berdiri di sisi-Ku dan bergetar lantaran takut kepada-Ku, dan dia menghadap-Ku dengan sepenuh hati. Manakala ia beribadah kepada-Ku, dan Aku bersaksi pada kalian bahwa Aku akan menyelamatkan pengikutnya dari api neraka.’ ”[5]

Dari hadits di atas, kita dapat mengetahui alasan Rasul saw bersabda, “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang mengganggunya berarti telah menggangguku dan siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku.” Rasul, sang pembawa kabar dari langit, mengetahui betapa Allah mencintai Sayyidah Fathimah as dan betapa Sayyidah Fathimah as mencintai Allah. Rasul tahu, berbekal cinta kepada Sayyidah Fathimah as, seseorang bisa terbebas dari api neraka. Sebaliknya, berbekal benci kepada Sayyidah Fathimah as, seseorang bisa masuk dalam api neraka. Rasul juga hendak menjelaskan kepada kita, Sayyidah Fathimah as adalah belahan jiwanya. Jadi, sebagaimana kita mencintai Rasul melebihi apapun, kitapun harus mencintai Sayyidah Fathimah as melebihi apapun. Bersedih karena penderitaan beliau dan bergembira karena kegembiraan beliau.

 

‘Salam atasmu, wahai wanita teruji yang telah diuji oleh Zat yang telah menciptakanmu sebelum Ia menciptakanmu dan engkau telah bersabar atas ujian tersebut. Kami adalah pecinta dan pendukungmu, serta menerima setiap yang dibawa oleh ayahmu saw dan washinya as. Dan kami memohon pada-Mu, ya Allah, ketika kami membenarkan mereka agar Engkau mengantarkan kami kepada derajat (surga) yang tinggi sehingga Engkau membahagiakan kami bahwa kami telah suci dengan mencintai mereka.’

 

Referensi             : -Keistimewaan dan Tanggung Jawab Syiah Ali as,/Ali Umar al-Habsyi,-cet 1-                                                    Jakarta:Ilya,2008

                                -Syiah dalam Sunah/Sayyid Muhammad Reza Modarrese,-cet 1-Citra,2005

                                -Sejarah Singkat 14 Maksum jilid 1/Lajnah at-Tahrir,-cet 1-Jakarta:Cahaya,2009

 

(DarutTaqrib/Farazdaq/Adrikna!)

[1]    Q.S Al-Insan : 7-10

[2]    Shahih Muslim, kitab Fadhail ash-shahabah, bab Fadhail Fathimah

[3]    Kasyful Ghummah, juz 2, hal 13

[4]    Q.S An-Najm : 3-4

[5]    Amali Ash-shaduq, hal 99-100

No Response

Leave a reply "Kemuliaan Sayyidah Fathimah Zahra as"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.