Ketika Syiah Dianggap Sebagai Gerakan Politik

Persatuan IslamOleh Ustad Miqdad Turkan

Sejak Imam Khumaini berhasil menggulingkan Syah Pahlevi 1979, dan mengubah monarki Persia menjadi Republik Islam Iran, Barat dan negara-negara Arab merasa khawatir dan cemas dengan keadaan tersebut. Kecemasan itu sangat beralasan mengingat Iran yang merupakan kerajaan tertua dan terkuat di Timur Tengah, ternyata dengan mudah bisa digulingkan oleh seorang Ayatullah Khumaini yang berpaham syiah.

Di antara pemikiran Ayatullah Khumaini yang dianggap berbahaya adalah; konsep Wilayat Alfaqih sebagai manifestasi dari Imamah, menyatukan politik dan agama sebagai ideologi negara, menolàk dominasi Barat dan Timur, seruan persatuan Sunni dan Syiah untuk melawan Israel dan menghapus Israel dari peta dunia, dan banyak lagi.

Pemikiran-pemikiran di atas, oleh Barat dipahami sebagai sikap politik yang bisa mengancam kepentingan mereka di seluruh dunia. Jika Revolusi Islam Iran ini dibiarkan, maka pengaruhnya akan meluas, terutama di negara-negara Arab. Di samping karena faktor kedekatan giografis, juga karena sebagian penduduk negara-negara tersebut adalah penganut Syiah.

Untuk mencegah pengaruh tersebut, maka Inggris dan Amerika berusaha menjatuhkan Revolusi Iran dengan berbagai macam cara:
1- Memprovokasi dan mendorong beberapa suku untuk memisahkan diri dari Iran dan membentuk negara merdeka. Seperti suku Kurdi, Ozari dan Sistan Balucistan.
2- Menciptakan opini dunia bahwa Revolusi Iran bukan Islam malainkan Revolusi Syiah ekstrim dan masuk dalam katagori negara teroris. Opini ini diciptakan dalam upaya mempengaruhi dunia Islam agar menjahui Iran yang Syiah.
3- Embargo persenjataan dan ekonomi guna melumpuhkan Iran dan menciptakan kekacaun dalam negeri.
4- Memaksa Irak melakun agresi terhadap Iran dengan alasan sengketa perbatasan atau yang dikenal dengan perjajian Aljir.

Berbagai upaya untuk menjatuhkan Iran terus dilakukan, namun semua berakhir dengan kegagalan dan Republik Islam Iran tetap bertahan, bahkan semakin kuat.

Kecemasan ini semakin meningkat, ketika pengaruh pemikiran Imam Khumaini terus mengalir ke seluruh negara Muslim tanpa bisa dibendung, terutama di Negara-negara Teluk. Kepercayaan rakyat terhadap para raja mulai pudar, kebencian terhadap hegemoni Amerika dan Israel di dunia Islam juga semakin kuat.

Untuk menghentikan pengaruh Iran, maka isu sektarian sengajà mereka ciptakan. Syiah bukan lagi dipandang sebagai madzhab melainkan sebagai gerakan politik yang berbahaya. Dengan cara ini, maka konspirasi bahwa Iran sebagai ancaman bagi dunia, telah menemukan alasannya.

Terlebih bagi negara-negara kawasan yang di dalamnya ada komunitas syiah; seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, Saudi, Yaman, Afganistan, Azarbaijan, Pakistan, India, Turki, Suriah, Lebanon dan negara lainnya.

Sebagai negara, Iran memainkan politiknya di kancah internsional adalah sebuah keharusan. Dan demikian pula yang dilakukan oleh setiap negara manapun. Oleh sebab itu perlu dipisahkan antara Syiah sebagai madhab dan Syiah sebagai sistem pemerintahan sebuah negara.

Sebagai madzhab, Syiah hanya mengajarkan kepada pengikutnya prinsip dan nilai-nilai Islam, sama dengan madhab-madhab Islam lainnya. Demikian pula Sunni, ketika menjadi sistem sebuah negara, tentu posisinya akan berbeda karena telah menemukan instrumennya sendiri. Sayangnya, hingga sekarang belum ditemukan pemerintahan Islam berasaskan madhab Sunni murni.

Selama Syiah dipandang sebagai gerakan politik, maka upaya memberangus Syiah akan terus terjadi. Sebab salah satu karakter politik adalah melemahkan lawan dan mengendalikannya.

Secara giografis, Syiah di Indonesia bukanlah syiah Iran dan bukan pula bagian dari politik pemerintah Iran. Syiah di Indonesia adalah mandiri dan bagian tak terpiasahkan dari bangsa ini. Namun, persoalannya menjadi lain ketika Syiah dianggap sebagai gerakan politik. Akibatnya, seluruh komunitas Syiah di dunia dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari gerakan politik Iran.

Pandangan inilah yang sekarang ini terjadi. Sehingga konflik yang pada awalnya dipicu oleh sentimen kepentingan politik, berubah menjadi sentimen madzhab. Dengan demikian, lawan politik Iran berusaha menarik Sunni di seluruh dunia di bawah payung Saudi dan Turki untuk melawan Syiah di seluruh dunia pula.

Jika kondisi ini tidak disadari oleh para ulama, tokoh politik dan pemikir Islam di negeri ini, maka perang sektarian akan terus berlangsung. Apa yang terjadi di Timur Tengah, cepat atau lambat akan terjadi pula di negeri ini. Padahal, baik Sunni maupun Syiah keduanya adalah gerakan madzhab yang jauh dari kepentingan politik. Akan tetapi, ada tangan-tangan kotor yang terus menerus menyeret pengikut ke dua madzhab ini masuk ke dalam ranah politik demi kekuasaan. Dan indikasi ke arah sana sudah sangat jelas sekali.

Kawan, apakah kita ingin negeri Indonesia tetcinta ini tercabik-cabik? Wallahu a’lam.
Salam Pancasila.

No Response

Leave a reply "Ketika Syiah Dianggap Sebagai Gerakan Politik"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.