Kenapa Prilaku Umat Islam Berubah?

No comment 742 views

12734042_1103781232967554_6490621361949187416_nOleh Ustad Miqdad Turkan

Dilihat dari sisi etika dan moralitas beragama, umat Islam sekarang ini telah mengalami perubahan karakter yang sangat signifikan, terutama muslim Indonesia. Hampir setiap peristiwa kekerasan dan anarkisme di negeri ini, ujung-ujungnya selalu melibatkan agama.

Saya tidak tahu kenapa sebagian umat Islam Indonesia berprilaku seperti itu? Apa karena pemahaman terhadap Islam terlalu dangkal, atau malah kerana terlalu dalam? Artinya, apakah semakin dalam seseorang memahami Islam, semakin hilang rasa toleransi dan sifat kamanusiaannya? Ataukah ada faktor lain di luar agama?

Lihat saja contoh kasus perusakan tempat peribadatan, masjid, pesantren dan tempat tinggal bagi kelompok-kelompok yang dianggap kafir dan sesat, seperti Ahmadiyah, Syiah dan Gafatar. Tidak hanya dihancurkan tempat tinggalnya, tapi hak hidup mereka pun dirampas.

Harus diakui bahwa Islam tidak mentolerir kebatilan dan kesesatan serta kekafiran. Dan itu adalah kenyataan dalam Islam. Batil adalah batil, sesat adalah sesat, kafir adalah kafir yang tidak bisa ditolerir sama sekali. Antara kebatilan dan kebenaran, antara kekafiran dan keimanan tidak boleh dicampuradukkan.

Meski demikian, tidak berarti Islam berlaku semena-mena terhadap orang kafir dan sesat. Islam membedakan antara keduanya, antara kebatilan dan orang batil, antara kesesatan dan orang sesat, antara kekafiran dan orang kafir. Masing-masing ada porsinya sendiri-sendiri.

Secara teologis, Allah tidak pernah menciptakan kekafiran atau kesesatan itu sendiri. Kebatilan adalah efek dari adanya kebenaran, kesesatan adalah efek dari adanya petunjuk, kekafiran adalah efek dari adanya keimanan.

Kasusnya hampir sama dengan pelanggaran hukum. Disebut melanggar dan maksiat karena adanya hukum yang membatasinya. Seandainya dalam hidup ini tanpa hukum, maka tidak ada yang namanya pelanggaran dan maksiat. Jadi hukumlah sebagai standarnya . Ketika manusia melampaui batas yang ditentukan, maka disebut melanggar dan layak mendapat sanksi. Sedang hukum, tidak bisa diterapkan kecuali setelah disosialisasikan.

Demikian pula tentang sesat, kafir dan musyrik. Bisa jadi sesat karena petunjuk belum sampai kepadanya, bisa jadi kafir dan musyrik karena argumentasi iman dan pembuktian tauhid belum sampai kepadanya, atau bisa jadi sudah sampai, akan tetapi argumentasi dan bukti yang diterima tidak memuaskan. Karena itu, Al Quran menggunakan metode pendekatan argumentatif. “Bawalah bukti-bukti kebenaran kalian jika kalian orang yang benar.” (QS. 2:111) “Dan debatlah mereka denga cara yang baik.” (QS. 16:125).

Jika hujjah sudah disampaikan secara benar dan sempurna, tapi menolak bahkan melawan, maka Nabi akan mengambil tindakan. Oleh sebab itu, tidak satupun ulama yang bisa membuktikan bahwa Nabi pernah membunuh dan atau mengusir orang kafir sebelum proses pendekatan dialogis. Coba Anda cari dalam sejarah manapun dan buktikan.

Persoalan paham, keyakinan agama dan atau madzhab adalah persoalan ideologis yang tidak bisa dipaksa apa lagi diancaman dan intimidasi.
Lalu apa standar kesesatan suatu kelompok atau kekafiran suatu madzhab dan kemusyrikan suatu ajaran? Apakah karena mayoritas dan minoritas, seperti yang berkembang sekarang ini?

Jika mayoritas dan minoritas dijadikan sebagai standar, maka logikanya umat Islam adalah kelompok yang sesat, kafir, dan musyrik. Sebab jumlah mereka lebih sedikit dibanding non muslim di seluruh dunia. Apalagi Al Quran sendiri menolak standard tersebut. Menurut bahasa Al Quran, orang yang benar itu minoritas, yang berakal itu minoritas, yang berada dalam petunjuk itu minoritas. Sebaliknya, yang di luar petunjuk itu mayoritas, yang kafir itu mayoritas, yang musyrik itu mayoritas dan seterusnya. Lalu apa standarnya?

Oke, anggap saja minoritas itu kafir, sesat dan musyrik. Apakah perlakuan kaum muslimin terhadap mereka selama ini sudah sesuai syariat Islam?

Lebih spesifik lagi, anggap Ahmadiyah, Gafatar dan Syiah itu kafir, sesat dan musyrik. Lalu apakah kekerasan, pengusiran dan bahkan penghapusan hak hidup yang selama ini berlaku sudah sesuai syariat Islam? Coba buktikan?

Rasulullah Saw adalah orang yang paling keras terhadap orang kafir dan musyrik, tapi apakah beliau Saw memperlakukan mereka semena-mena seperti yang dipraktekkan kaum muslimin sekarang ini?

Ketika Makkah ditaklukkan oleh kaum Muslimin, seperti janji Allah yang dikenal dengan fathu Makkah, Nabi dan pasukannya telah menawan banyak tokoh kafir Qurays, termasuk Abu Sofyan ayah sahabat Muawiyah dan kakeknya Yazid. Karena khawatair dibunuh, mereka berteriak: “Alyaum yaumul malhamah” (hari ini adalah hari bencana). Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Nabi Saw? Apakah kekhawatiran mereka benar-benar terjadi? Apakah Nabi memancung kepala mereka? Mengusir dan merampas hak-hak mereka? Sama sekali tidak!

Padahal mereka itu musuh Nabi, mereka memerangi Nabi dan berusaha membunuh Nabi. Tapi karena beliau adalah rahmat yang Allah hadiahkan kepada alam semesta, Nabi justru berbuat di luar dugaan mereka: “alayaum yaumul marhamah, idzhabu wa antum tulaqo” (hari ini adalah hari kasih sayang, pergilah kalian, kalian aku bebaskan).

Lalu bagaimana dengan prilaku kaum Muslimin sekarang? Ajaran Nabi siapa yang mereka teladani? Muhammad bin Abdillah atau Muhammad bin Abdul Wahhab?

Jangankan pendekatan dialogis seperti perintah Al Quran, jangankan kasih sayang seperti yang Nabi lakukan, berjumpa dengan orang Syiah saja menghindar apalagi berdialog. Lalu apa agama mereka ini? Islamkah atau bukan? Sungguh mereka benar-benat jauh dari ajaran Islam.

Mereka menyerang Syiah sedemikian rupa dengan alasan menjaga kemurnian akidah dari kesesatan. Tanpa disadari penyataan tersebut membuktikan akan lemahnya akidah yang mereka yakini.

Argumentasi yang mereka bangun sebagai pondasi akidah, tak sekuat rumah jaring laba-laba yang akan hancur tatkala diterjang angin. Siapa pun yang berbeda dianggap musuh dan kafir yang berbahaya, dan itu adalah trik pertahanan bagi orang yang benteng keamanannya lemah.

Perubahan prilaku seperti ini terjadi secara drastis dan sangat tidak wajar. Di balik semua ini, sepertinya ada yang mengendalikan dan ada target yang hendak mereka capai. Diantaranya:
1- Islamphobia, yaitu penciptaan opini yang mendorong orang lain untuk anti Islam, dan kecenderungan ke arah itu sudah sangat terlihat di negeri ini.
2- Memecah belah antar kaum Muslimin, seperti konflik sektarian yang terjadi di Irak
3- Terciptanya disintregrasi bangsa, seperti yang terjadi di Suriah sekarang ini.

Kawan, jangan takut mempelajari pemikiran yang berbeda dengan anda. Telitilah sedalam mungkin ajaran yang berbeda dengan Anda dan setelah itu tersarah Anda, itu hak individu Anda sendiri.

Satu hal yang penting, jangan pernah menghukumi sesuatu sebelum memahaminya dengan benar. Jadilah orang merdeka dan jangan pernah jadi keledai dungu, yang tidak punya rasa peka.

Kawan, yang bisa menjaga keutuhan NKRI dan PANCASILA di negera ini adalah kita sendiri. Ayo bergandeng tangan, apa pun agama dan keyakinan kita, lawan intoleran!

Salam PANCASILA.

No Response

Leave a reply "Kenapa Prilaku Umat Islam Berubah?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.