Sudahkah Anda Menziarahi Kubur Orang Tuamu?

DSCN2135Oleh Ustad Miqdad Turkan

Syaikh Al-Qummi dalam kitab Mafatih Al-Jinan (Kitab Syiah) menjelaskan; Sebagian sahabat Nabi Saw meriwayatkan:

قال رسول الله (ص): اهدوا لموتاكم. فقلنا يا رسول الله، وما نهديه الاموات؟ قال الصدقة والدعاء

.( مفاتيح الجنان باب زيارة قبور المؤمنين)

Rasulullah saw bersabda: “Berilah hadiah orang-orang yang telah meninggal di antara kamu.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, hadiah apakah yang bisa kami berikan kepada orang-orang yang telah meninggal? Beliau Saw menjawab: “Sedekah dan doa…..”

Lalu Rasulullah Saw melanjutkan: “Sesungguhnya ruh orang-orang mukmin setiap Jumat datang ke bumi mengunjungi rumah mereka masing-masing. Dengan suara sedih dan menangis, mereka mengetuk pintu sambil memanggil-manggil: Wahai keluargaku, wahai anakku, wahai ayahku, wahai ibuku, wahai kerabat-kerabat dekatku, kasihanilah aku dengan sesuatu yang pernah kami miliki di dunia, semoga Allah merahmati kalian. Kini aku menjalani siksaan dan hisab karenanya, sementara orang lain yang mengambil manfaatnya.”

Masing-masing berteriak memanggil kerabatnya masing-masing; ”…belas kasihanilah kami dengan sekeping dirham atau secuil roti atau sehelai pakaian, semoga Allah memakaikan pakaian surga untuk kalian…”

Kemudian nabi saw menangis tersedu-sedu dan kamipun menangis bersamanya. Karena tangisannya itu, beliau Saw tak mampu berbicara.

Tak lama kemudian Nabi Saw melanjutkan; “Mereka itu adalah saudara-saudara seagama kalian. Kini tubuh mereka menjadi tanah dan debu, setelah sebelumnya senang dan bahagia. Mereka kini menjerit sedih meratapi diri sendiri. “Ooh andai saja kami belanjakan apa yang kami miliki di dunia untuk taat kepada Allah dan meraih ridha-Nya, niscaya kami tidak akan perlu belas kasih kalian.”

Sambil kembali ke alam kubur, dengan penuh sesal dan sedih, mereka berseru kepada kerabat-kerabatnya: “Segera keluarkanlah sedekah kalian untuk (kami) orang-orang yang telah meninggal.”

Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda: “Apa pun sedekah yang kamu keluarkan untuk seorang mayat, maka (pahala) sedekah tersebut akan diambil malaikat dan ditaruh dalam panci yang terbuat dari cahaya yang sinarnya memancar hingga menerangi tujuh langit. Kemudian malaikat itu berdiri mendekati liang kubur sambil berseru: “Salam bahagia atas kalian wahai para ahli kubur, keluargamu telah mengirimkan hadiah ini untuk kalian”. Lalu hadiah tersebut diambil dan dibawa ke dalam kubur yang kemudian memperluas tempat pembaringannya.

Kemudian Nabi Saw berkata: “Ingatlah, barang siapa mengasihani orang yang telah mati dengan bersedekah, maka dia akan mendapat pahala sebesar gunung Uhud di sisi Allah, dan di hari Kiamat kelak akan berada dalam naungan Arsy-Nya, di hari di mana tiada tempat bernaung selain di bawah Arsy.”

Saudaraku, terlepas dari percaya atau tidak akan kebenaran riwayat ini, yang pasti hidupmu adalah bagian tak terpisahkan dari ayahmu, ibumu, saudaramu, kakek dan nenekmu yang telah terlebih dahulu meninggalkan dunia fana ini.

Mungkin saja tidak meninggalkan harta warisan untukmu, tapi setidaknya keberadaanmu dan hidupmu hingga manjadi dirimu sekarang ini adalah berkat mereka dan susah payah mereka. Darah dagingmu adalah bagian dari darah daging mereka. Lalu akankah kamu lupakan mereka begitu saja? Mampukah Anda melupakan nama ayah dan ibumu yang pernah membelaimu dengan kasih sayangnya itu?

Kenapa kamu berusaha menghapus namanya dari sanubarimu dengan cara tidak mengunjungi kuburnya? Apakah karena mereka sudah menjadi bangkai? Atau karena kamu merasa lebih hebat dari mereka..?

Ingatlah saudaraku, Anda tak lama lagi juga akan menyusul mereka. Keadaan dan nasib Anda kelak akan seperti mereka, atau bahkan mungkin lebih menyedihkan dari mereka dan saat itu Anda hanya bisa menyesalinya.

Apakah karena Anda menganggap ziarah kubur itu musyrik hingga tidak sudi menziarahi kubur ayah dan ibumu.?

Jika ziarah kubur itu musyrik, maka Nabi Saw adalah orang pertama yang mempraktikkan kemusyrikan. Tidakkah kamu tahu bahwa nabi menziarahi kubur ibunya dan menangis di pusaranya? Tidakkah Fatimah Zahra putri Nabi Saw menziarahi kubur ayahnya? Tidakkah para sahabat juga melakukan yang serupa? Lalu kenapa Anda tidak mau menziarahi kubur orang tuamu?

Saudaraku, ziarahilah kubur ayah dan ibumu. Kini mereka manangis sedih dalam kuburnya, menanti belas kasihmu. Lupakan Wahabi, jangan takut dianggap musyrik. Wahabi bukan Tuhan atau Nabi hingga berhak memvonis orang lain musyrik atau kafir.

Ingat! Ajaran Wahabi bukan untuk manusia yang bermartabat. Apabila kamu melihat di antara mereka ada yang mati, lalu dikuburkan begitu saja dan ditinggal tanpa dikenang sama sekali, maka itu wajar saja. Sebab bagi mereka, mayat manusia tak ubahnya bangkai binatang yang tak lagi ada hukumnya.

Saudaraku, ayah, ibu, saudara, kakek, nenek, kerabat dan gurumu kini menangis terhimpit oleh sempitnya liang kubur yang pengap, perluaslah kuburnya dan cahayailah dengan membacakan surat Al fatihah untuk mereka sekarang juga. Sebab bisa jadi kita tidak punya waktu lagi untuk berbuat baik kepada mereka.

Oh…ayah, ibu, maafkan putra putrimu yang kini melupakanmu. (DarutTaqrib/Adrikna!)

*diambil dari akun facebook Ustad Miqdad Turkan di https://www.facebook.com/miqdad.turkan

**Komplek makam Sunan Kudus

No Response

Leave a reply "Sudahkah Anda Menziarahi Kubur Orang Tuamu?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.