‘Paham Takfiri Tidak Cocok untuk Indonesia yang Toleran’

327239Masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun silam terbiasa menerapkan kehidupan bertoleransi, terbiasa hidup berdampingan, meski beda paham agama, suku, ras, kebudayaan dan lain sebagainya, kata Menteri Lukman Hakim Saifuddin di hadapan para aktivis Universal Justice Network (UJN) yang terdiri atas berbagai ormas di belahan dunia, di kantor Kemenag Jakarta, Jumat 29/1.

“Saat ini, karena adanya revolusi dibidang tekhnologi informasi dan komunikasi, banyak masuk paham-paham yang sebenarnya tidak terlalu sesuai dengan jati diri Bangsa kami. Faham tersebut, sedikit banyak mampu mempengaruhi sebagian masyarakat kami. Nah untuk itu, maka Pemerintah Negara kami melakukan dua hal,” kata menteri Lukman.

Pertama, Kultural. Kami lebih mengedepankan lagi kearifan lokal kami, yakni hidup bertoleransi, tenggangrasa, hormat menghormati dan lain sebagainya. Intinya, meski beda, kami akan berusaha untuk saling menghormati, karena masing-masing individu mempunyai hak untuk menjalankan keyakinannya, tanpa harus terganggu dan mengganggu.

Kedua, Struktural. Pemerintah Indonesia akan memperkuat peraturan perundang-undangan. Karena interaksi antarkita semakin komplek, maka harus ada aturan yang disepakati bersama yang mengatur interaksi tersebut, agar hal-hal yang tidak diinginkan bersama, semaksimal mungkin bisa dihindari. Oleh karena itu, Kami di Kemenag, telah menyiapkan RUU PUB.  Dikatakan Menag, bangsa Indonesia memaknai Agama, adalah dijadikan sebagai acuan dan panduan bagaimana kita berperilaku pada orang lain. Bukannya dijadikan sebagai acuan untuk menilai orang lain.

“Alhamdulillah, Indonesia beruntung mempunyai ormas-ormas yang moderat seperti NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya. Indonesia juga mempunyai pondok pesantren, sebuah lembaga pendidikan khas Indonesia yang menjaga, memelihara dan merawat Islam ala Indonesia yang moderat, ” Ujar Menag.

Diantara aktivis Universal Justice Network yang hadir yaitu, Massoud Shadjareh (Ketua IHCR; Islamic Human Rights Commission), Mohammad al-Asi (ekcted Imam Washington DC Islamic Center), Mujtahid Hashem, Ahmet Faruk Unsal (Human Rights Organization in Turkey) dan Mohideen Abdul Kader.

“Paham takfiri adalah paham di luar Syari’ah. Seorang muslim juga dilarang untuk menghina Sahabat Nabi Muhammad SAW, apa pun aliran ideologinya,” kata Massoud. Dia berharap ke depan Indonesia mampu terus toleran dan moderat dan tidak terseret konflik berdarah seperti negara-negara Timur Tengah. (DarutTaqrib/Kemenag.go.id/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "‘Paham Takfiri Tidak Cocok untuk Indonesia yang Toleran’"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.