Sesaat Menghirup Semerbak Aroma Cinta

rahbarAku menghela nafas panjang, dan memulai membaca Al-Qur’an. Aku membaca pelan-pelan dan kukerahkan kemampuan terbaikku. Aku duduk di sisi Imam Khamanei yang begitu khusyuk mendengarkan bacaanku. Aku tetap serius dan fokus dengan bacaanku, sampai tiba-tiba aku terbangun. Akh, aku hanya bermimpi…

Satu pekan setelahnya, pada hari senin, teleponku berdering. Akupun mengangkatnya dan menjawab. Agha Mirzajani, pengurus Perkumpulan Qari menyampaikan informasi adanya undangan untuk bertemu Imam Khamenei di hari pertama bulan Ramadhan. Aku takjub tidak percaya mendengarkannya.

“Kamis nanti, anda yang ditunjuk untuk membaca Al-Qur’an dihadapan Rahbar.”

Lidahku tiba-tiba kaku, dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Mimpi yang aku lihat sepekan sebelumnya, tampak akan nyata didepan mataku.

Hari yang dijanjikanpun tiba. Kamis yang paling dinanti-nantipun tiba, seiring dengan masuknya bulan suci Ramadhan. Pukul 17:30, Imam Khamanei memasuki Husainiyah Imam Khomaini ra. Aku mendengarkan suara detak jantungku sendiri. Aku serasa hendak melayang. Hatiku sudah tidak sabar, agar giliranku dipercepat, membacakan Al-Qur’an dihadapannya, mendekat disisinya dan mencium tangannya.

Sejam berlalu, telah tiba giliranku. Namaku dipanggil. Dalam hati aku berzikir, الا به ذکر الله تطمئن القلوب.

Akupun duduk ditempat yang disediakan, kuhadapkan wajah ke mata Imam Khamanei, untuk kemudian aku tertunduk dan mulai membaca Al-Qur’an.

انما یعمر مساجد الله من آمن بالله و الیوم الآخر و جاهد فی سبیل الله…»

Aku kerahkan semua kemampuan terbaikku, dan waktu serasa cepat berlalu. Bacaanku telah selesai, dan aku benar-benar serasa melayang, dan tidak merasa bahwa sedang berpijak di bumi. Aku malah merasa sedang berada di angkasa dengan langit biru dan awan putih berarak disekelilingku.

Akupun melangkahkan kaki mendekati Imam. Semua kata-kata yang telah kupersiapkan untuk kuucapkan, semuanya hilang dari ingatanku ketika matanya menatap mataku. Aku hanya mengucapkan salam, dan dibalasnya dengan lembut.

Aku tidak tahu hendak berkata apa, lidahku serasa keluh. Akhirnya lidahku berujar juga, “Kukorbankan diriku untukmu…”

Ia tersenyum dan menjawab, “Jangan begitu..”

“Sampai dasar yang terdalam, aku ingin selalu bersamamu…..”

Ia mengusapkan tangannya diatas kepalaku, layaknya kasih sayang seorang ayah, dan didekatkannya kepalaku menyentuh pangkuannya. Kubiarkan itu terjadi selama beberapa detik, dan aku merasakan ketenangan hati yang sangat berada dalam dekapannya.

Sesaat kemudian ia menghadapkan wajahku kewajahnya.

“Pekerjaan kamu apa?”

“Saya santri…”

“Apa yang saat ini kamu pelajari?”

“Lum’ah”

“Barakallah, pelajari Lum’ah itu dengan baik.”

“Insya Allah tuan…” Aku tidak menghendaki percapakan dan kedekatan itu segera berlalu. Namun tidak ada pilihan, lain, aku tidak bisa mengambil waktunya lebih banyak lagi.

Sesaat sebelum berdiri, kuberanikan lidahku berkata, “Bisakah aku meminta sesuatu darimu, yang tidak bisa aku lupakan?”

Imam Khamanei berbicara kepada penjaganya, “Ambilkan cincin buat beliau.”

Aku tertunduk malu, aku ternyata berani juga mengucapkannya. Aku bahagia tak terkira.

Cincin itupun diberikannya, dan aku tidak kuasa menahan haru bahagia.

Selesai. Aku harus kembali ke tempatku. Pertemuan singkat dari jarak paling dekat yang akan terus membekas dalam ingatanku. Kalau dalam dekapannya saja, aku sudah merasakan betapa wanginya aroma cinta itu, aku tidak bisa membayangkan, kalau yang aku datangi itu al Mahdi putera Fatimah, yang akan mengusap kepalaku dan mendekapnya. Aku yakin, aku mati saat itu juga karena cinta.

[Mahmud Nuruzi, juara I cabang Tahfidz al-Qur’an pada MTQ Internasional III Indonesia di Masjid Istiqlal Jakarta 2015]

(DarutTaqrib/https://www.facebook.com/ismail.amin.52?fref=ts/Adrikna!)

 

No Response

Leave a reply "Sesaat Menghirup Semerbak Aroma Cinta"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.