Perspektif Rahbar: Takfiri Sarana Memecah Belah Umat Islam

Albalagh_new_dvd_cover_by_islamicwallpersDalam beberapa tahun terakhir terbentuklah kelompok teroris dengan ideologi fanatik Salafi dan takfiri di Suriah dan baru-baru saja melebarkan sayapnya ke Irak serta menebar api fitnah dan melakukan berbagai kejahatan tak berperikemanusiaan termasuk membantai dengan sadis umat Muslim dengan mengatasnamakan Islam. Gerakan takfiri yang mengkafirkan umat Muslim yang tidak sepaham dengan mereka dan mengaku sebagai yang paling benar, merupakan sarana terbesar dan penting musuh Islam untuk memecah belah serta menciptakan perpecahan di barisan umat Muslim.

Timur Tengah merupakan pusat geografi agama Islam. Kelompok teroris di kawasan ini mulai menebar keganasan dan membantai umat Muslim. Ideologi yang diluarnya tampak Islam yang dimiliki kelompok teroris takfiri dan pembantaian massal serta mengerikan yang dilakukan atas nama ideologi ini menunjukkan kontradiksi nyata dengan Islam. Sementara itu, dukungan kubu imperialis dan Zionisme internasional terhadap kelompok ini yang tampaknya tak bisa ditutupi semakin menguak esensi sejati salafi dan takfiri mereka.

Para takfiri meyakini kembali kepada al-Quran dan syariat sebagai prinsip utama mereka, namun demikian mereka memanfaatkan hal ini untuk mencapai ambisi politik. Sejatinya perilaku sadis mereka tidak pernah dapat dibenarkan meski oleh Islam sendiri. Oleh karena itu, interpretasi keliru kelompok ini terhadap ajaran Islam berubah menjadi ideologi merusak, di mana para pengikutnya tak segan-segan melakukan aksi terorisme dan menebar ketakutan demi menebarkan serta menegakkan ideologi ini.

Contoh nyata dari hal ini dapat kita saksikan pada perilaku kelompok takfiri seperti al-Qaeda, Taliban, Boko Haram dan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Padahal Islam adalah agama rahmat dan kasih sayang. Islam membolehkan kekerasan dalam kasus-kasus tertentu dan dalam kondisi khusus. Interpretasi menyimpang kelompok takfiri dari sisi sejarah, kembali ke era Ibnu Taimiyyah yang hanya bersandar pada zahir al-Quran dan hadis. Ibnu Taimiyyah sangat menentang kecenderungan pada akal, filsafat dan teologi modern. Untuk saat ini, ideologi tersebut menjadi dasar pemikiran munculnya gerakan teroris yang bercita-cita mendirikan kekhalifahan Islam.

Sementara itu, Barat berupaya menundukkan bangsa muslim dunia dengan semangat menyebarkan ideologi menyimpang ini, bahwa Islam tidak selaras dengan dunia modern dan untuk memerangi dunia modern kelompok ini melakukan teror. Dalam wacana ini, Islam digambarkan sebagai agama yang bertentangan dengan rasio dan lari dari akal. Hal ini pula yang memicu terbentuknya Islamphobia dan cap teroris bagi umat Muslim di dunia.

Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran beberapa tahun lalu telah berbicara mengenai ancaman kejumudan dalam Dunia Islam. Imam Khomeni menyebut kejumudan ini sebagai “Islam ala Amerika” yang bertentangan dengan “Islam Murni Muhammadi”. Beliau menilai kejumudan ini sebagai bagian dari Islam ala Amerika yang menerima kepemimpinan musuh agama, mendukung taghut serta bersandar pada sisi zahir Islam.

Adapun Imam Khamenei, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dengan kewaspadaan dan kecerdikan politiknya menilai gerakan takfiri sebagai metode baru musuh Islam untuk memerangi agama samawi ini. Terkait kesesatan kelompok takfiri, Ayatullah Khamenei berkata, “Salafisme, jika memiliki arti fundamentalisme terkait al-Quran dan hadis serta komitmen terhadap ajaran utama serta memerangi khurafat (takhayul) dan penyimpangan serta menghidupkan syariat dan menolak westernisasi, maka jadilah kalian semua Salafi. Namun jika salafisme berarti fanatisme, kejumudan dan kekerasan di antara mazhab dan agama maka tidak akan selaras dengan modernisasi, toleransi dan rasionalitas yang menjadi pilar ideologi dan peradaban Islam. Pemahaman ini malah akan menyebarkan sekularisme dan atheis.”

Rahbar menekankan, “Tidak boleh percaya dengan klaim Islam yang menebar perang sektarian, bersikap keras terhadap mukmin dan lunak terhadap musuh (kafir). Karena ini adalah model Islam Amerika dan Inggris di mana menyeret umat muslim ke jebakan para investor Barat, konsumtif dan mengakibatkan dekandensi moral.” Terkait orientasi takfiri, Rahbar mengatakan, “Yang pasti, mereka 180 derajat bertentangan dengan Islam. Islam senantiasa menilai mengikuti jejak musuh agama, mengakui musuh dan orang-orang arogan sebagai pemimpin termasuk hal-hal yang harus dihindari oleh orang mukmin.” Rahbar juga menyebut Islam takfiri tak ubahnya seperti Islam sekular dalam bagian Islam Amerika yang disebarkan demi kepentingan musuh. “Kalian telah ditawari dua model Islam oleh Barat, Islam takfiri dan Islam sekular, sehingga teladan Islam fundamentalis, seimbang dan selaras dengan akal tidak akan menjadi kuat di tengah-tengah revolusi kawasan,” ungkap Rahbar.

Revolusi Islam Iran telah menjadikan penolakan terhadap rezim penjajah al-Quds (Israel) menjadi bagian dari keyakinan agama bagi umat Muslim. Sampai-sampai saat ini Zionis tercatat sebagai musuh utama umat Muslim dan di Timur Tengah telah terbentuk opini sistematis untuk melawan Israel dan menyelamatkan bangsa Palestina dari penjajahan. Kesamaan visi dan pandangan umat Muslim dalam melawan penjajah Palestina, senantiasa membuat Israel berada dalam ketakutan dan khawatir pendudukannya terhadap bumi Palestina akan berakhir. Hal ini juga menjadi kendala utama bagi stabilitas identitas rezim penjajah al-Quds.

Kondisi ini dapat disaksikan dengan adanya realita bahwa sampai kini perundingan damai untuk membuat eksistensi Israel stabil belum juga menunjukkan hasil. Sementara itu, Tel Aviv masih tetap melakukan kebijakan brutal dan sadis menghadapi warga Palestina dan menganggapnya sebagai solusi tunggal untuk melindungi eksistensinya sementara waktu. Namun demikian Israel masih dicekam ketakutan bakal dicap sebagai teroris negara oleh masyarakat internasional.

Seperti saat ini kita menyaksikan kesadaran opini publik untuk melawan genosida dan kejahatan perang di Jalur Gaza, namun demikian yang lebih menguntungkan rezim Zionis adalah krisis internal di Timur Tengah dan Dunia Islam. Dengan demikian isu pendudukan Palestina akan keluar dari prioritas utama umat Muslim dan Tel Aviv bisa mengambil nafas. Yang dapat membuat isu pendudukan di Timur Tengah terpinggirkan adalah friksi dan perpecahan umat Islam.

Ayatullah Khamenei menilai penyebaran paham radikal dan menyimpang yang mengatasnamakan Islam serta terbentuknya gerakan takfiri di Dunia Islam sebagai sebuah kabar gembira bagi musuh Islam dan kubu imperialis dunia. “Hal ini dikarenakan perhatian umat Islam akan terseret ke arah lain dan mereka akan lupa pada realitas bengis rezim Zionis,” ungkap Rahbar.

Dalam pidato lainnya, Rahbar menyebut kelemahan Israel menghadapi 1,5 miliar umat Muslim sebagai faktor yang mendorong rezim ini memilih menggunakan sarana memecah belah umat Islam. “Zonis bila dibanding dengan 1,5 miliar umat Islam tidak termasuk hitungan. Friksi di dunia Islam telah mendorong musuh yang lemah ini menemukan jalannya. Mereka mulai mencari pembantu di antara umat Islam.”

Musuh Islam dengan kesadarannya atas konspirasi seperti ini, mengubah perbedaan mazhab menjadi perseteruan, permusuhan dan pertengkaran. Menurut Rahbar, “Musuh mengetahui dengan baik bahwa jika di dunia Islam terjadi permusuhan antar mazhab maka akan mulailah pertengkaran di antara mereka dan rezim Zionis dapat bernafas dengan lega.”

Rahbar menyebut upaya membenturkan keyakinan di antara mazhab Islam sebagai peninggalan imperialis Barat khususnya Inggris dalam beberada dekade terakhir. Beliau berkeyakinan bahwa “Dewasa ini dalam dunia Islam musuh menciptakan friksi di antara umat Islam demi mencapai kepentingan mereka dan menutupi kesulitan yang mereka hadapi. Mereka memunculkan Syiahphobia demi mempertahankan eksistensi rezim Zionis dan untuk mencari solusi bagi kebijakan kontradiktif mereka di kawasan yang mengalami kegagalan. Mereka melihat bahwa solusinya adalah mengadu domba umat Muslim. Ini yang harus kalian saksikan dan pahami.”

Menebar perang antar-Mazhab sebagai upaya untuk memecah belah umat Islam dan membantu rezim Zionis meredam represi kepada mereka akibat keterpaduan opini umat Muslim dalam memusuhi mereka. Rezim Zionis saat ini ingin memanfaatkan kondisi yang ada di Dunia Islam untuk memperkokoh eksistensinya di kawasan. Di tengah-tengah hiruk pikuk terorisme takfiri, Israel akan mampu menekan lebih besar bangsa Palestina dan bekerjasama dengan pemerintahan pro Barat. Di sinilah dapat dikatakan terorisme membantu terorisme yang lain dan terorisme takfiri membantu terorisme negara (rezim Zionis) dalam memerangi muqawama Islam Palestina.(DarutTaqrib/Irib/Reza)

No Response

Leave a reply "Perspektif Rahbar: Takfiri Sarana Memecah Belah Umat Islam"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.