Tentang Tafsir Ayat Pluralisme

No comment 1664 views

thSebagian kalangan berusaha mengemukakan hipotesis yang rapuh dan hanya memiliki probabilitas yang kecil. Dengannya, mereka bersikap skeptis terhadap argumen ayat di atas yang mendukung klaim sebelumnya. Untuk memperkuat dan menegaskan hipotesis, mereka memanfaatkan perbedaan pendapat sebagian ahli tafsir dalam masalah kembali kata ganti hu (-nya) dalam kalimat liyuzdhirohu (untuk memenangkannya): kepada ‘agama’ ataukah ‘Rasul-Nya’.

Mereka juga memanfaatkan perbedaan dan keragaman makna ayat itu sendiri. Sebab, jika kata ganti itu kembali  kepada ‘Rasul-Nya’, maka makna liyuzdhirohu akan menjadi pengetahuan, bukan kemenangan. Akibatnya, teks ayat dimaksud bukanlah “kemenangan Islam atas seluruh agama lain”—sebagaimana tesis kemuliaan atau kemenangan Islam atas agama-agama di jazirah Arab.

Tentunya, maksud ayat tidak demikian. Makna tersebut di awal tentu saja menjadi yang paling awal muncul di benak seluruh ahli tafsir, sementara makna terakhir bukanlah kesepakatan para mufasir. Dari Ibnu Abbas, Syaikh Thusi menukil bahwa kata ganti dalam itu dhamir ه dalam kalimat liyuzdhirohu kembali keada Rasulullah saw. Maksudnya, Allah akan mengajarkan ilmu perihal semua agama hingga tak satu pun yang luput dari Rasul Saw. Memang, makna demikian, untuk kata kerja izdhâr atau zduhûr yang disertai elemen ‘alâ, pernah muncul dalam Al-Quran. Namun makna umumnya adalah kemenangan; kendati pada di tempat, bermakna pengetahuan. Ini sebagaimana Allah Swt berfirman:

Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita (QS. al-Nur [24]: 31).[1]

Setelah mengritik argumentasi dari ayat tersebut seputar kemenangan dan berdirinya pemerintahan tunggal Islam atas agama-agama lainnya, kritikus itu lalu menafsirkan dan menjelaskan maksud ayat tersebut:

Tafsir logis lainnya juga dapat diperoleh; bahwa mungkin saja yang dimaksud ayat ini adalah kemenangan akhir ketauhidan atas kesyirikan.[2]

Dalam menyimpulkan pelbagai kemungkinan dan penafsiran atas ayat tersebut, kritikus tadi menulis:

Dengan memperhatikan semua makna yang berbeda dan dapat diterima untuk ayat ini, dapat disimpulkan bahwa kita tidak dapat begitu saja menyatakan bahwa dalam ayat ini dikabarkan kemenangan Islam atas semua agama.[3]

Untuk menjawabnya, kiranya perlu dipertimbangkan beberapa hal:

Pertama: bertentangan dengan makna lahiriah (zdâhir) ayat.

Uniknya, kritikus sendiri menegeaskan dalam kritiknya telah menekankan bahwa makna kemenangan adalah ‘makna paling jelas yang lebih dulu muncul dalam pemahaman: dimana dalam menafsirkan ucapan si pembicara, asas rasional manusia berakal ialah makna lahiriah (zdâhir) ucapan itu, kecuali jika ada indikasi yang mengarahkan pemahaman kepada selain makna lahiriah tersebut. Oleh karena itu, makna kemenangan adalah makna lahiriah ayat dan sudah dapat dijadikan argument, kecuali jika seseorang tidak lagi menerima nilai-bukti dari makna lahiriah ayat-ayat Al-Quran. Namun untungnya, penggagas kritik sendiri dalam gugatannya mengakui nilai-bukti makna lahiriah ayat.[4]

Oleh karena itu, hanya karena adanya kemungkinan lain, penentangan terhadap makna lahiriah ayat tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh siapa saja mengakui premis minor (kemenangan sebagai makna lahiriah ayat) dan premis mayor (makna lahiriah sebagai nilai-bukti), sebab berbagai kemungkinan itu tidak sampai mampu merusak dan melemahkan makna lahiriah ayat.

Kedua: irelevansi dengan teks ayat selanjutnya.

Jika kita menganggap maksud kalimat liyuzdhirohu adalah pengetahuan (bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan agama haq dan menjadikan beliau berpengetahuan dan menguasai informasi seputar agama-agama lain kendati kaum musyrik tidak menyukainya), maka teks awal dalam ayat itu tidak selaras dengan teks selanjutnya. Lagipula, pengetahuan  Rasul ihwal agama-agama dan pemikiran lain tidak membuat kaum musyrik membenci atau tidak menyukainya.

Justru yang membuat mereka terusik gusar (dalam ayat digunakan kata ‘benci’) adalah kemajuan, keunggulan dan kemenangan Islam atas selainnya. Sementara, dalam kedua ayat di atas, Allah menegaskan bahwa suatu hari, kelak keinginan-Nya kalimat liyuzdhirohu (untuk memenangkan agama Islam) akan terlaksana, kendati kaum musyrik tidak menyukai dan merisaukannya. Struktur kalimat ini cukup jelas untuk menafsirkan kata kalimat liyuzdhirohu tersebut.

Ketiga: riwayat mutawatir.

Terdapat sejumlah riwayat mutawatir yang menafsirkan ayat suci tersebut sesuai makna lahiriah dari teksnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Keempat: indefinisi makna pengetahuan.

Kalaupun benar kata ganti hu dalam kalimat liyuzdhirohu kembali kepada ‘Rasul-Nya’, bukan kepada ‘agama’, tetap tak dapat pastikan bahwa makna kalimat itu secara definitif adalah ‘pengetahuan’. Bahkan, dalam kondisi ini, kemungkinan makna ‘kemenangan’ tetap saja terbuka, yakni “Allah akan memenangkan Rasul-Nya atas para penganut agama lain.” Ini yang juga dikemukakan Zamakhsyari dalam karya tafsirnya.[5]

Kelima: pemakaian kata kerja izdhâr [yang darinya kalimat liyuzdhirohu diderivasi] dalam makna pengetahuan. Ini menjadi bagian dari penjelasan kritikus. Hanya ada poin berikut yang patut digarisbawahi:

i.    Dalam al-Nur [24]: 31 tentang anak-anak, pemaknaan kata kerja ini di sana sebagai ‘pengertian/pengetahun’ bukan hanya tidak disepakati seluruh ahli tafsir, justru menjadi perselisihan kalangan pakar bahasa dan sastra. Sebagaimana ahli tafsir seperti: Fakhru Razi,[6] Thabarsi,[7] dan Allamah Thabathabai,[8] serta jajaran sastrawan seperti: Fara’ dan Zajjaj,[9] telah memaknai kata kerja dalam ayat itu dengan ‘kemenangan’.

ii.  Katakan saja:, kata kerja ini di sejumlah tempat digunakan dengan makna pengetahuan, namun sejauh tidak sampai merusak dan melemahkan makna lahiriah ‘kemenangan’ dalam teks ayat, argumen ini tak tergugatkan.

Keenam: kemenangan khusus agama Islam.

Terhadap tafsiran yang diajukan penulis kritik, yakni kemenangan agama-agama tauhid atas syirik, perlu dicatatkan bahwa tafsiran ini bukan hanya bertentangan dengan makna lahiriah ayat, melainkan dengan keterangan teks ayat itu sendiri. Sebab, dalam ayat ini, Allah telah menubuwatkan kemenangan akhir agama yang dibawa Nabi utusan-Nya. Bahkan Allah berulangkali menekankannya dalam sejumlah ayat. Umpama (terjemahannya telah dicantumkan sebelumnya—penerj.):

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa (QS. al-Nur [24]: 55).

Dalam ayat ini, Allah Swt berjanji dan memberi kabar gembira perihal posisi superior kaum beriman di tengah kaum Muslimin. Begitu pula kabar tentang tercapainya kemenangan agama Muslimin dan berakhirnya masa-masa mencekam dan ketakutan. Dalam ayat ini pula, alih-alih kemenangan diungkapkan dengan kalimat liyuzdhirohu yang bagi sejumlah kalangan boleh jadi terkesan ambigu, makna ini diungkapkan dengan kalimat liyumakkinanna lahum dînahum (sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama). Tentu saja, tak lagi tersisa ambiguitas bagi siapa pun jika saja mau mencermati makna kata ‘meneguhkan’, juga paruh awal, lanjutan bahkan ruh ayat.

[1] Quranpejvuhi, hlm. 548. Perlu diketahui bahwa penulis kritik mengemukakan penggunaan lain dari kata izdhâr dalam Al-Quran dengan makna pengetahuan–dalam terjemahan Al-Quran yang dicetak dua tahun setelah buku tersebut.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm. 46, artikel “Quran wa Quranpezuhi”.

[5] Zamaksyari, Al-Kasysyâf, jld. 2, hlm. 265.

[6] Razi, Fakhruddin, Al-Tafsîr Al-Kabîr, jld. 23, hlm. 209.

[7] Syaikh Thabarsi, Majma’ Al-Bayân, jld. 4, hlm. 138.

[8] Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 15, hlm. 112.

[9] Al-Tafsîr Al-Kabîr, jld. 23, hlm. 209.

No Response

Leave a reply "Tentang Tafsir Ayat Pluralisme"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.