Janji Allah dan Kemenangan Islam

No comment 6447 views

janji AllahDari ayat-ayat berikut, Al-Quran mengabarkan kekalahan pihak lain dan kemenangan Islam atas semua agama lain di masa mendatang. Seraya pula menegaskan agama suci Islam sebagai haq.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hidayah dan ajaran haq agar Dia memenangkannya atas semua ajaran, meskipun kaum musyrik membencinya (QS. at-Taubah [9]: 33).

Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi (QS. al-Fath [48]: 28).

Adapun ayat lainnya persis sama dengan redaksi ayat ke-9 surah al-Shaff.

Poin penting lainnya, Al-Quran bukan hanya memastikan kemenangan Islam atas para raja dan kaisar yang zalim, melainkan juga kemenangan Islam kelak atas seluruh pemikiran dan agama lain—kendati kaum musyrik dan kafir tidak merelakannya.

Bukti ini cukup jelas. Bila kebenaran agama-agama lain sama-sama abadi dengan Islam, niscaya satu sama lain tak akan mampu saling mengalahkan dengan pertolongan Allah.

Kemenangan Islam atas seluruh agama dapat disimpulkan dari huruf imbuhan awal alif-lam yang maktub dalam kata al-dîn (agama) yang menunjuk seluruh agama. Selain itu, penegasan agama dengan kata kullihi (semua) menjadi bukti lain dari maksud umum dari kata al-dîn yang mematahkan segala ambiguitas dan kemungkinan lain.

Bukti ketiga berupa ungkapan para penjelas hakiki kalam Ilahi, yaitu para imam Ahlul Bait seputar kemenangan Islam atas agama-agama lain. Salah satunya, pernyataan imam seputar makna ayat yang disebut berikutnya:

Supaya Allah memenangkan Islam atas seluruh agama di masa kebangkitan sang Qaim.[1]

Allah telah berjanji pada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa mereka akan menjadi penguasa di muka bumi sebagaimana Allah telah memberi kekuasaan (khilafah) pada orang-orang sebelumnya, dan Allah akan mengokohkan agama dan ajaran yang mereka ridhai dan akan mengganti ketakutan mereka dengan keamanan dan ketenangan (QS. an-Nur: 55).

Dengan kalimat yang jelas dan gamblang, ayat suci ini mendeklarasikan kemenangan Islam, seraya mengingatkan bahwa pihak pemenang itu adalah umat Islam.

Sekaitan dengan penjelasan ayat di atas, terdapat sejumlah riwayat yang membenarkan kemenangan Islam atas agama-agama lain—beberapa di antaranya akan dikemukakan berikut ini.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt mewajibkan diri-Nya memenangkan Islam atas agama-agama lain. Hingga akhirnya para penganut agama lain memeluk Islam atau setidaknya membayar jizyah pada kaum Muslim.

Pantas dan haq jika Aku memenangkan agamamu atas seluruh agama agar tidak ada agama lain di Barat dan Timur selain agamamu atau penganut agama lain memberi jizyah kepadamu.[2]

Nabi Islam, dalam suratnya kepada penguasa Nasrani Yamamah, memberitahukan soal kemenangan agamanya di seluruh muka bumi:

Ketahuilah, agamaku akan menang dan muncul hingga akhir jejak kaki unta dan kuda (analogi bagi kemenangan akhir).[3]

Dalam menafsirkan ayat pertama, Allamah Thabathabai menulis:

Ayat ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam di kalangan manusia merupakan keinginan (iradah) Allah dan umat Islam harus berusaha keras di jalan ini.[4]

Ali bin Abi Thalib menyinggung makna ‘kemenangan’ dalam tafsir li yuzdhirohu (untuk memenangkannya) dan ini berarti Islam akan berkuasa di seluruh muka bumi. Dalam menjawab konsultasi Umar sekaitan perang melawan kekaisaran Persia, seraya merujuk ayat di atas, beliau berkata:

Kemenangan atau kekalahan dalam perang ini tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya tentara. Tetapi Allah yang akan memenangkan agama-Nya dan memuliakan tentara-Nya serta menolong agama-Nya hingga mencapai posisi yang seharusnya  dan muncul di tempat semestinya [menunjukkan fase akhir]. Allah telah menjanjikannya kepada kita melalui ayat tadi.

Dalam Nahj Al-Balâghoh, Ali bin Abi Thalib mengemukakan kemuliaan dan kemenangan Islam atas agama-agama lain serta kerendahan agama-agama lainnya plus kekalahan musuh—sebagaimana telah disebutkan dalam argumen tentang naskh pada pembahasan sebelumnya.[]

[1] Bihâr Al-Anwâr, jld. 24, hlm. 336; jld. 16, hlm. 347; jld. 52, hlm. 340.

[2] Ibid., jld. 10, hlm. 46; jld. 16, hlm. 347.

[3] Makâtîb Rosûl, jld, 1, hlm. 136.

[4] Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 9, hlm. 247.

No Response

Leave a reply "Janji Allah dan Kemenangan Islam"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.