Siapa Ahli Kitab?

No comment 1337 views

ahli-kitabSebelum ini telah dicatat bahwa Nabi Islam adalah nabi sedunia; Al-Quran juga kitab langit yang berbicara kepada seluruh umat manusia. Jadi, kitab suci ini tentu juga berlaku atas Ahli Kitab, seperti berlakunya perkara umum atas subjek-subjek khususnya. Namun demikian, cukup banyak ayat Al-Quran yang secara khusus mengarah ke Ahli Kitab. Ada juga sejumlah ayat yang menunjukkan bahwa diutusnya Nabi Islam dan diturunkannya Al-Quran juga meliputi mereka—yang diperintahkan untuk mengimani ajaran suci ini.

Hai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami; menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus (QS. al-Maidah [5]: 15-16).

Hai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. al-Maidah [5]: 19).

Selain menyinggung kemunculan Islam pasca masa fakum (fatroh), ayat terakhir mengingatkan Ahli Kitab agar tidak menolak Islam. Setelah mengabarkan fajar Islam, ayat pertama juga mengingatkan Ahli Kitab bahwa jalan keselamatan dan melepaskan diri dari kegelapan ke ufuk cahaya hanya mungkin terjadi di bawah naungan Al-Quran. Di dalamnya, jalan yang lurus juga akan terbuka.

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al-Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayatku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa (QS. al-Baqarah [2]: 41).

Ayat ini jelas menyeru Ahli Kitab untuk menerima Islam dan mencap kalangan pengingkarnya sebagai kaum kafir.

Hai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampur adukkan yang Haq dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya (QS. Al Imran [3]: 70-71).

Argumentasi dua ayat ini cukup jelas: mengecam dan menyalahkan Ahli Kitab lantaran menutupi dan menyangkal kebenaran Islam.

Sejarah Nabi Muhammad

Didukung ilham Al-Quran, Nabi Muhammad Saw menyeru Ahli Kitab agar menerima Islam dan meninggalkan agama sebelumnya. Manakala pohon Islam yang baru tumbuh itu membutuhkan proteksi ekstra dan jauh dari konflik dengan kekuatan-kekuatan eksternal, beliau memulai dakwahnya secara tertulis dan formal [dengan menyurati] sejumlah pimpinan imperium saat itu, seperti kaisar Iran, Roma, Habasyah, serta beberapa pemimpin kabilah Yahudi dan Nasrani.

Bukti terjadinya naskh dari dakwah ini kiranya cukup jelas. Tentunya sangat absurd jika ajaran Nasrani dan Yahudi tidak di-naskh, alias masih berlaku kebenarannya sehingga sama nilainya dengan Islam. Surat bernuansa dakwah yang ditulis Rasulullah Saw dan dilayangkan kepada mereka agar meninggalkan ajaran agama sebelumnya, otomatis menjadi tak berarti apa-apa. Selain itu, dalam rangkaian surat untuk para pembesar Yahudi dan Nasrani, Nabi Saw menyebutkan, syarat petunjuk dan meniti jalan yang lurus adalah memeluk Islam. Ini dengan sendirinya merupakan peristiwa naskh.

Nabi Islam Saw meminta Najasyi, penguasa Nasrani Habasyah, untuk bertauhid dan mengimani beliau berikut ajarannya.

Sesungguhnya aku mengajak kalian mengimani dan menaati Allah yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku meminta kalian mengikutiku dan mengimani ajaranku. Sebab aku utusan Allah.[1]

Dalam suratnya kepada Maqumes, pembesar Nasrani Qebt di Mesir dan Harqel, Raja Romawi, beliau bersabda:

Aku mengajakmu kepada Islam dan jika kau tidak menerima, kau akan bertanggung jawab atas dosa seluruh penduduk Qebt dan Roma.[2]

Dalam surat lain, Nabi juga menyebutkan soal naskh agama-agama sebelumnya. Juga serangkaian kabar gembira mengenai kedatangan beliau dalam agama-agama sebelumnya serta kemenangan dan keunggulan akhir Islam.

Asas Mahdawiyah

Persoalan keharusan Ahli Kitab dan agama-agama lain memeluk Islam kian jelas dan tegas dalam riwayat-riwayat perihal kemunculan Imam Mahdi. Karena, dalam rangkaian riwayat ini, pernyataan yang tertera bukan hanya menyinggung soal kemuliaan Islam; melainkan siapapun yang mengingkari dan menentang kemestian ini juga diancam mati.

Kemukakanlah Islam kepada mereka. Barangsiapa memeluk Islam secara sukarela, perintahkanlah untuk menunaikan shalat, zakat, dan segenap apa yang diperintahkan dan diwajibkan bagi Muslim. Barangsiapa tidak beriman, penggallah lehernya hingga tak satu pun manusia di Barat dan Timur yang hidup kecuali seorang muwahhid (orang bertauhid).

Bila memang agama-agama lain benar dan tidak mengalami naskh, tidakkah pesan dan dakwah ini sia-sia belaka? Apakah tidak lebih baik Nabi Saw yang telah membawa agama baru dan mendirikan pemerintahan baru ini menerangkan kebenaran dan jalan yang lurus, ketimbang berdakwah dan berperang?

Distorsi Dakwah Nabi

Sebagian pluralis sadar, argumentasi gamblang dan tak terbantahkan seputar dakwah dan seruan Islam kepada Ahli Kitab dan kaum lainnya itu mematahkan pandangannya. Karenanya mereka lantas menafsirkan dakwah tersebut sebagai bentuk penawaran dan pengenalan Islam. Ini mereka lakukan manakala dipahami adanya disharmoni antara dakwah Islam dengan prinsip Pluralisme.[3]

Namun rapuhnya argumentasi mereka sudah amat jelas. Seruan Islam bukan sekadar masalah pemaparan dan pengenalan agama baru, sebab kalangan penolak dakwah ini juga disebut kafir, tidak beroleh hidayah, vis-a-vis  kebenaran, dan terancam azab Ilahi. Dakwah Nabi ihwal Islam ibarat menuntun orang buta ke arah dan jalan yang benar; bukan ibarat pelukis yang cuma memajang lukisannya di lokasi pameran.

Sebagian pluralis lain menyangkal asas keharusan memilih Islam dan mengikuti dakwahnya.[4] Memperhatikan uraian sebelumnya, kelemahan argumentasi ini juga tampak jelas.

———————————-
[1] Makâtîb Al-Rosûl, jld. 1, hlm. 121

[2] Ibid., hlm. 97 & 105.

[3] Sorousy, Abdulkarim: op. cit., hlm. 185 & 156.

[4] Bila teman saya beragama Hindu dan punya syariat sendiri, tentunya tidak etis bila saya mengajaknya memeluk Islam (tanpa nama), Dr. Mahmud, Haft Osemon, no. 2, hlm. 14.

No Response

Leave a reply "Siapa Ahli Kitab?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.