Selain Islam Tertolak

No comment 1138 views

islamSebelumnya telah diuraikan sejumlah ayat yang menyampaikan berita gembira tentang Nabi Muhammad Saw dan kecaman terhadap sikap [ingkar] Ahli Kitab. Sekarang, akan diulas ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa hidayah atau petunjuk hakiki dan paripurna bagi Ahli Kitab bergantung pada keimanannya terhadap Islam; sebaliknya, mengingkari Islam akan menimbulkan kekafiran dan amarah Ilahi.

Dan jika Ahli Kitab beriman dan bertakwa, Kami akan mengampuni dosa-dosa mereka dan Kami akan masukkan mereka ke dalam surga yang penuh dengan nikmat (QS. al-Maidah [5]: 65).

Wahai manusia! Berimanlah kepada Allah dan utusan-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah ia supaya kalian mendapat hidayah (QS. al-A’raf [7]: 158).

Bagaimana Allah akan menghidayahi (memberi petunjuk) suatu kaum yang malah menjadi kafir setelah mengimani dan menyaksikan kebenaran rasul dan tanda-tanda yang jelas bagi mereka? Allah tidak akan menghidayahi kaum yang zalim. (QS. Al Imran [3]: 86).

Dan jika Ahli Kitab mengimani (petunjuk Islam yang jelas) maka sesungguhnya mereka telah mendapat hidayah, dan jika mereka menentang sesungguhnya mereka telah terpisah dari kebenaran. Dan Allah akan menolak rencana jahat mereka kepadamu dan Allah Mahadengar lagi Mahatahu (QS. Al Imran [3]: 110).

Dan katakanlah kepada Ahli Kitab dan orang-orang jahil (musyrikin), “Apakah kalian juga telah menyerah? Jika mereka menyerah maka mereka akan mendapatkan hidayah.” (QS. al-Baqarah [2]: 147).

Rangkaian ayat terakhir, khususnya yang mengajukan syarat bahwa hidayah dan pengampunan dosa bergantung keimanan seseorang pada Islam, jelas-jelas membenarkan klaim sebelumnya. Sebab, jika agama-agama lain masih berlaku dan benar, tentunya semua ketegasan makna dan kandungan redaksi ayat yang berbentuk klausa kondisional ini tidak lagi berarti apa-apa. Mencermati syarat hidayah berupa mengimani Islam, makna dan pemahaman Islam yang dikandung ayat-ayat di atas menjadi jelas.

Selain Islam Tertolak

Hakikat Islam adalah ketundukan total pada Tuhan. Namun, ketundukan ini akan terwujud di setiap zaman dalam format ajaran tertentu. Misalnya, hakikat ketundukan dan Islam di masa Nabi Musa as adalah menerima ajaran beliau. Sementara di masa Nabi Isa as adalah memeluk ajaran beliau. Adapun hakikat ketundukan di masa Islam adalah menerima syariat Nabi Muhamamd Saw.

Dengan kata lain, Islam hakiki merupakan keyakinan seorang hamba beriman kepada seluruh ajaran samawi dan keinginan Allah. Jika tidak, iman ini akan berujung pada kekafiran dan neraka. Menurut Al-Quran, mengimani sebagian ajaran saja identik dengan kekafiran.

Mereka yang mengingkari Allah dan para nabi serta ingin membedakan antara Allah dan para nabi-Nya seraya berkata, “Kami mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain, dan ingin memilih jalan lain di antara keduanya,” maka mereka adalah kafir yang sebenarnya. Dan Kami telah menyediakan azab yang hina bagi orang-orang kafir (QS. al-Nisa [4]: 150-151).

Berdasarkan ayat ini, iman yang diterima di sisi Allah adalah iman seutuhnya, yaitu meyakini kebenaran agama-agama samawi, termasuk mengimani Islam sebagai agama penutup dan juru naskh agama-agama lain.

Ayat di atas menyebutkan keimanan Ahli Kitab sebagai ‘keimanan pada sebagian’ dan memosisikannya sejajar dengan kekafiran. Darinya jelas, istilah ‘Islam’ yang digunakan rangkaian ayat tersebut untuk menyebut agama bukanlah bermakna semantik, melainkan “ketundukan mutlak kepada Allah”. Namun ketundukan mutlak pada Allah hanya akan tercipta dengan mengimani Islam (agama penutup dan juru naskh agama lain) dan menerima kenabian Muhammad Saw.

Ayat-ayat di bawah ini menegaskan pemahaman ayat di atas; bahwa tak satu pun agama lain yang diterima di sisi Allah kecuali Islam. Dan para penganut agama lain akan dianggap merugi di hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa memilih agama lain selain Islam tidak akan diterima dan di hari akhirat dia adalah orang yang merugi.(QS. Al Imran [3]: 85).

Pada ayat di atas, memahami Islam sebagai ketundukan mutlak pada Allah tanpa dibarengi keniscayaan memeluk agama khas (umpama, Islam) tidak sejalan dengan maksud yang dikandung rangkaian ayat  sebelumnya. Padahal, dalam memahami sebuah ayat, rangkaian ayat lainnya harus pula dipertimbangkan.

Lagipula, pemahaman pertama terhadap istilah ‘Islam’ yang terbersit awal di benak adalah agama Islam, bukan ketundukan mutlak. Pada ayat di bawah ini juga diperlihatkan pembatasan jalan yang lurus hanya pada Islam—sebagaimana ayat-ayat sebelumnya.

Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam (dan tunduk mutlak kepada Allah). (QS. Al Imran [3]: 19).

Allah akan menghidayahi siapa saja yang diinginkan-Nya dengan membuka hatinya untuk (menerima) Islam. (QS. Ali An’am: 125).

Ayat terakhir menegaskan bahwa jalan utama memperoleh hidayah adalah memeluk Islam. (Penjelasan lebih lanjut mengenai ayat dan pendapat sebagian ahli tafsir yang berkaitan dengan argumen-argumen Pluralisme terhadap ayat ini akan dikemukakan dalam pembahasan selanjutnya.

Ahli Kitab dan Status Kafir

Pada rangkaian ayat sebelumnya, diketahui bahwa Al-Quran mengajak para penentang, khususnya Ahli Kitab, untuk memeluk Islam. Seraya pula mengungkapkan bahwa syarat bagi mereka beroleh hidayah adalah mengimani Islam. Rangkaian ayat terakhir juga mengingatkan bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Jika tidak menerimanya, Islam hakiki tidak akan pernah terwujud.

Pada ayat di bawah ini, mula-mula Al-Quran menyempurnakan bukti terhadap Ahli Kitab dan penentangan mereka, lalu menerbitkan hokum kekafiran hakiki bagi mreka. Rangkaian ayat ini, sebagaimana ayat sebelumnya, juga menekankan hal yang sama. Yakni, jika mereka tak mengimani Rasulullah Saw dan membeda-bedakan para nabi utusan Allah, maka landasan imannya pada Allah dan hari kiamat—yang sebelumnya mereka yakini—akan diragukan dan tertolak.

Dan berimanlah pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Quran) yang tanda-tandanya ada dalam kitab-kitab kalian dan janganlah menjadi orang pertama yang mengingkarinya  dan janganlah menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit dan takutlah hanya kepada-Ku. (QS. al-Baqarah [2]: 41)

Ayat suci di atas jelas-jelas berbicara langsung kepada kaum Yahudi dan menyeru mereka agar Al-Quran yang juga menjadi pembenar Injil, juga mengingatkan agar jangan sampai terperosok ke jurang kekafiran lantaran sikap penentangan dan bujukan hawa nafsu.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (QS. at-Taubah: 29)

Ayat ini mencap Ahli Kitab tidak beriman kepada Allah dan kiamat[1] serta tidak komit terhadap agama haq. Karena itulah, Al-Quran membolehkan kaum Muslimin memerangi mereka; kecuali jika pihak mereka meminta gencatan senjata dan menyerahkan jizyah.

Argumen kedua ayat di atas seputar naskh agama Nabi Isa as dan Nabi Musa as kiranya sangat jelas. Bila ajaran Nabi Isa as dan Nabi Musa as memang jalan yang lurus dan tidak di-naskh Islam, niscaya Al-Quran tak akan meminta para penganutnya memeluk Islam; apalagi mengafirkan dan memerangi mereka.

Pada ayat ke-150 surah al-Nisa [4] di atas, mengimani sebagian nabi dan tidak bagi sebagian lainnya diidentikkan dengan kekafiran. Terdapat pula serangkaian ayat lain yang menyebut Ahli Kitab sebagai kafir. Sebagian ayat tersebut telah dibahas sebelumnya, sementara sebagian lainnya akan diulas kemudian.

[1] Dalam menjawab keraguan tentang bagaimana Al-Quran memvonis Ahli Kitab dengan ketiadaan iman kepada Allah dan hari kiamat, sementara ayat-ayat lain seperti ayat 80 dan 111 surah al-Baqarah, menyebut Ahli Kitab plus keimanannya, Allamah Thabathabai mengatakan, “Dengan tidak mengimani Islam, esensi iman mereka kepada Allah dan hari kiamat menjadi rusak. Sebab, iman sempurna bukanlah menerima sebagian perkara saja. Dengan kata lain, iman mereka tidak terkabul di sisi Allah.” Lih., Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 9, hlm. 241; jld. 5, hlm. 126.

No Response

Leave a reply "Selain Islam Tertolak"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.