Muhammad Saw, Nabi Semesta Alam

brainCukup banyak ayat Al-Quran yang menyeru masyarakat sedunia agar memeluk Islam. Rangkaian ayat itu mendeskripsikan Islam sebagai agama penuntun hidup dan mengenalkan nabinya sebagai utusan untuk seluruh umat. Berikut sejumlah ayat yang berkenaan dengannya:

Kami telah mengutusmu sebagai rasul untuk umat manusia dan cukuplah Allah sebagai saksi (QS. al-Nisa [4]’ [4]: 79).

Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49).

Memperhatikan awalan huruf alif-lam (al) pada kata nâs (al-nâs: manusia), kedua ayat ini menegaskan bahwa Nabi Islam diutus untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk satu bangsa atau kalangan tertentu.

Katakanlah, “Wahai manusia! Aku adalah utusan Allah untuk kalian semua.” (QS. al-A’raf: 158)

Dan Kami tidak mengutusmu melainkan untuk segenap umat manusia agar engkau memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Saba [34]: 28).

Pada kedua ayat ini, selain kata al-nâs yang dibubuhi awalan huruf alif-lam (al), juga dicantumkan kata umum lainnya seperti: jamî‘an (semua) dan kâffah (segenap) untuk memberikan penekanan lebih kuat lagi. Karenanya, jelas sudah, makna kata al-nâs dalam ayat-ayat itu adalah seluruh manusia.

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (QS. al-Furqan [25]: 1).

Dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. al-Anbiya [21]: 107).

Ayat pertama di atas menjelaskan tujuan diturunkannya Al-Quran kepada Nabi Islam sebagai peringatan bagi seluruh umat manusia (seluruh alam). Ayat kedua juga mengangkat Nabi Islam sebagai sumber rahmat bagi semesta alam.

Beberapa ayat ini dengan sangat jelas menyebutkan Nabi Islam sebagai nabi seluruh umat manusia. Sedemikian rupa, sehingga tak ada eksepsi individu, ras, bangsa, dan atau ajaran tertentu. Jelas, seruan ini juga meliputi Ahli Kitab. Kalau tidak, substansi dakwah dan posisi Nabi sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan secara mutlak dan general akan rusak dan gugur.

Inilah maksud dari kesemestaan dan universalitas kenabian Nabi Islam. Integralitas dakwah beliau bagi semua manusia cukup jelas dan tidak selaras dengan paham Pluralisme Agama.

Al-Quran, Kitab Semesta

Selain mengenalkan Nabi Islam sebagai nabi seluruh manusia, Al-Quran juga menggambarkan dirinya sebagai kitab seluruh manusia. Predikat yang disandangnya juga berbeda-beda seperti: penuntun, penjelas, penyampai, pemberi peringatan, pemberi nasihat, zikir, cahaya, burhan (bukti jelas), dan hujjah Tuhan.

Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya sesuai dengan izin Tuhan mereka (QS. Ibrahim [14]: 1).

Inilah penjelas bagi seluruh umat manusia, petunjuk dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Imran [3] [3]: 138).

Dan inilah Al-Quran yang telah diwahyukan kepadaku agar aku member peringatakan kepada kalian dengannya dan kepada orang-orang yang Al-Quran sampai kepadanya (QS. al-An’am [6]: 19).

Inilah (Al-Quran) pesan bagi seluruh manusia (QS. Ibrahim [14]: 52).

Wahai manusia! Telah datang bukti yang jelas dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepada kalian cahaya yang jelas (QS. Al-Nisa [4] [4]: 174).

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (QS. al-Furqan [25]: 1).

Ia (Quran) tak lain adalah peringatan bagi seluruh alam (QS. at-Takwir [81]: 27; Yusuf [12]: 104;  Shad [38]: 38; al-An’am [6]: 90).

Jelas sudah, rangkaian ayat tersebut menjadi dalil bagi kebenaran klaim tentang naskh ajaran-ajaran sebelumnya serta seruan menerima Islam dan Al-Quran. Sebab, jika sekelompok manusia dikecualikan dari generalisasi dan kemutlakan ini, atau dibebaskan entah menerima atau menolak Al-Quran seraya tetap berpedoman pada kitab suci agamanya, maka sifat kesempurnaan Al-Quran seperti: penuntun umum dan bukti mutlak, akan menjadi absurd. Predikat furqon (pemisah kebenaran vis-a-vis kebatilan) baginya akan berlaku khusus pada kondisi tertentu. Sementara, pengkhususan dan pembatasan ayat-ayat di atas tak hanya bertentangan dengan makna lahiriah ayat, bahkan bertolak belakang dengan teksnya (nash). Dengan kata lain, ketegasan teks ayat-ayat itu menolak pengkhususan, pembatasan dan pengecualian.

Berkenaan dengan universalitas Al-Quran dan agama Nabi Islam Saw, ada banyak riwayat yang akan dikemukakan dalam pembahasan selanjutnya.