Mengapa Murtad Dilarang?

No comment 2258 views

murtadPluralisme Agama menyamaratakan agama-agama. Dan bermodal keyakinan alakadarnya terhadap kebenaran agama itu, mereka memparalelkan ajaran Yahudi dan Nasrani dengan Islam, seraya mengklaim ketiganya sebagai jalan yang lurus. Implikasinya, setiap insan bebas memilih salah satu agama tersebut guna memperoleh hidayah dan keselamatan. Atau, sesuai pilihannya sendiri, dia bebas meninggalkan satu agama, misalnya Islam, untuk memeluk agama lain. Pasalnya, dalam hal ini, masing-masing ketiga agama itu tidak punya kelebihan dan keutamaan satu sama lain. Al-Quran, dalam berbagai ayatnya, menolak pandangan ini. Dan melalui tema kemurtadan, Al-Quran mematahkan argumen kaum pluralis secara total.

Kata irtidâd (kemurtadan) merupakan derivasi dari kata rodd, “rujuk dan kembali”.[1] Dalam perspektif Al-Quran, kemurtadan terjadi bila seorang Muslim menanggalkan ajaran sucinya dan menjadi Ahli Kitab (menganut agama Yahudi atau Nasrani). Saat itu dia dicap murtad.

Sedikitnya, terdapat sekitar 10 ayat Al-Quran yang mengemukakan masalah kemurtadan. Secara kategoris, rangkaian ayat tersebut dapat dipilah dalam dua jenis.

Rangkaian ayat jenis pertama secara keras melarang dan mengecam berbuat murtad dari Islam. Dalam pada itu, kemurtadan dicap sebagai kekafiran serta disetarakan dengan “kesesatan”, “pupusnya amal-amal sebelumnya”, “perbuatan setan”, dan “dibenci dan tidak disukai Allah”.

Siapa yang menerima kekafiran dan menolak keimanan, maka ia telah tersesat dari jalan yang lurus (QS. al-Baqarah [2]: 108).

Dan barangsiapa yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka seluruh amal bajiknya (yang telah lalu) akan hilang begitu saja di dunia dan di akhirat dan mereka adalah ahli neraka dan akan kekal selamanya di sana (QS. al-Baqarah [2]: 217).

Wahai orang-orang yang beriman! Siapa saja di antara kamu yang berpaling dari agamanya (tidak akan merugikan Allah) dan Allah akan memunculkan satu kaum yang dicintai-Nya dan mereka (juga) mencintai Allah (QS. al-Maidah [5]: 54).

Argumen yang terkandung dalam ayat-ayat di atas jelas mendukung anggapan sebelumnya. Sebab ayat-ayat tersebut menggambarkan bahwa murtad dari Islam dan memeluk ajaran lain identik dengan kekafiran, kesesatan, dan pupusnya amal baik. Hukum ayat ini mutlak sehingga juga mencakup agama apa pun, termasuk agama Yahudi dan Masihi. Ayat terakhir secara khusus mengingatkan kaum Muslim bahwa Islam itu agama yang diridhai Allah. Bila kaum Muslimin menyeleweng dan berbuat murtad, niscaya Allah akan menghadirkan suatu kelompok yang taat pada Islam, agama yang diridhai Allah. Mereka disebut Allah sebagai kalangan yang dicinta dan mencintai Allah. Maksudnya, Allah tidak menyukai kemurtadan dan keluar dari Islam dalam segala bentuknya.

Adapun rangkaian ayat jenis kedua menengarai kejahatan dan intrik sebagian Ahli Kitab. Dalam hal ini, mereka berupaya mengafirkan dan memaksa kaum Muslimin bergabung dalam kelompoknya.

Dari semua rangkaian ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa di masa fajar Islam, Ahli Kitab berusaha keras mengafirkan kaum Muslimin. Untuk itu, mereka melancarkan berbagai intrik jahat, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Misalnya, melakukan perang urat syaraf agar kaum Muslimin mengimani Islam secara instan untuk kemudian kembali kafir dalam tempo singkat demi tujuan liciknya. Dua ayat berikut membuktikan hal itu:

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian mengikuti sekelompok Ahli Kitab maka kalian akan dikembalikan pada kekafiran setelah kalian beriman (QS. Al Imran [3]: 100).

Dan sebagian Ahli Kitab berkata, “(Pergilah) Berimanlah pada apa yang telah turun kepada kaum Muslim di pagi hari dan kafirlah kembali di sore hari (dan kembalilah) mungkin mereka juga akan berpaling (dari ajarannya)” (QS. Al Imran [3]: 73).[2]

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa keluar dari Islam identik dengan lenyapnya amal bajik serta keabadian menghuni neraka, kontraposisi dengan klaim pluralitas jalan yang lurus.

Sementara ayat berikut dengan jelas menunjukkan dua hal yang dimaksud sebelumnya. Pertama, usaha kaum Yahudi dan Nasrani memaksa kaum Muslim bergabung dalam kelompoknya. Kedua, pembatasan jalan yang lurus secara ekslusif hanya pada Islam.

Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sampai engkau mengikuti ajaran mereka. Katakanlah, “Hidayah Allah adalah satu-satunya hidayah dan jika kau mengikuti hawa nafsu mereka setelah kau mendapat pengetahuan, maka tidak akan ada satu pun pelindung dan penolong untukmu dari sisi Allah.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Paruh pertama teks ayat ini menegaskan ketidakrelaan kaum Yahudi dan Nasrani pada Rasulullah Saw; kecuali jika beliau—wal ‘iyadzubillah—memilih murtad dan mengikuti ajaran mereka.

Bagian teks ini, menurut klaim kaum pluralis, berbicara tentang beragam jalan yang lurus, serta kesamaan dan paralelisme Yahudi, Nasrani, dan Islam. Namun, paruh kedua teks ayat yang sama justru berlawanan dengan klaim mereka. Karena bukan hanya menyalahkan ajaran Yahudi dan Nasrani, penggalan ayat itu malah membatasi jalan hidayah hanya pada Al-Quran.[3] Selanjutnya, ayat tersebut memperingatkan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin agar tidak mengikuti ajaran mereka, seraya menyebut upaya kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pengikut hawa nafsu. Dan jika Rasulullah dan kaum Muslimin mengikuti mereka sehingga tidak membatasi kebenaran hanya pada Islam, maka Allah akan memutus hubungan (wilayah dan pertolongan) antara diri-Nya dan Rasul-Nya.

Saking jelasnya argumen rangkaian ayat mengenai sesatnya Pluralisme, kiranya tidak lagi dibutuhkan penjelasan tambahan. Kalau pun masih diperlukan bukti tambahan, tersedia serangkaian riwayat Nabi Saw dan para imam mengenai vonis hukuman mati bagi orang murtad. Rangkaian riwayat ini menjelaskan kewajiban membunuh orang yang mutad dari Islam lalu memeluk ajaran Yahudi atau Nasrani.

Rasulullah Saw bersabda:

Bunuhlah siapa yang mengubah agamanya.

Dalam berbagai kesempatan, misalnya dalam peristiwa penaklukan Mekah, Rasulullah Saw memerintahkan agar dibunuh sejumlah orang murtad. Begitu pula Imam Ali, yang dalam sejumlah kesempatan, memerintahkan agar dibunuh orang Muslim yang memeluk ajaran Nasrani.[4]

Jelas sudah, hukum di atas sangat bertentangan dengan klaim kaum pluralis.

———————————–

[1] Lisanul Arab, jld. 3, hlm …. Kata rodd, dan kamus Arab lainnya.

[2] Untuk mengetahui lebih jauh mengenai sebab turunnya ayat ini, silakan rujuk: Al-Durr Al-Mantsur, tafsiran dari ayat tersebut.

[3] Dalil pembatasan ekslusif ini, selain konteks ayat dan sinifikansinya, dapat dirumuskan lewat qasr al-qalb yang merupakan salah satu elemen pembatas dalam tata bahasa Arab. Ulasan tentangnya memerlukan tempat tersendiri. Selengkapnya, rujuk: Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 1, hlm. 265.

[4] Untuk riwayat irtidad, silakan rujuk, Wasa’il Al-Syi’ah, jld, 18, bab “Murtad”; Ushul Al-Kafi, jld. 2, kitab “Iman wal Kufr”, bab “Innal Islam Yahqanu bihid Dam”; Man la Yahdhur, jld. 14; dan Al-Tahzib, jld. 4.

No Response

Leave a reply "Mengapa Murtad Dilarang?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.