Al-quran dan Eksklusivisme Islam

No comment 983 views
Pluralisme

Pluralisme

Islam: Subjek Janji Para Nabi dan Umat Terdahulu

Telah disebutkan pengertian dari Pluralisme Agama, yaitu pengakuan terhadap kesejajaran semua agama dengan kebenaran Islam. Ini tidak selaras dengan Al-Quran sebagai salah satu fondasi Islam. Penilaian ini tentu saja membutuhkan telaah, analisis, dan penelitian pada berbagai dimensinya. Kendati begitu, pada kesempatan ini akan diulas secara singkat sebagian teks Al-Quran yang berhubungan dengannya.

Dalil pertama Al-Quran yang menolak Pluralisme adalah Al Imran [3]: 881 & 82. Dua ayat ini menyatakan bahwa Allah telah mengambil janji dari semua nabi dan umat-umat terdahulu: agar mengikuti agama Nabi Muhammad Saw manakala ia muncul.

Dan (ingatlah) ketika mengambil janji teguh dari para nabi (dan umatnya) bahwa kapan saja kitab dan pengetahuan Kuberikan kepada kalian, kemudian datang seorang nabi yang membenarkan apa-apa yang kalian bawa, kalian harus beriman kepadanya dan menolongnya. Kemudian (Allah) berkata kepada mereka, “Apakah kalian menerima hal ini? Dan berjanji dengan teguh?” Mereka berkata, “Ya, kami berjanji.” (Kepada mereka, Allah) berkata, “ Maka saksikanlah bahwa Aku juga salah satu saksi.” Maka siapa yang berpaling dari ajaran ini adalah orang yang fasik (QS. Al Imran [3]: 81-82).

Dalam ayat itu, Allah menuntut para nabi agar beriman dan membela Nabi Muhammad Saw tatkala ia muncul. Maksud ayat ini sudah sangat gamblang: jika kebenaran agama-agama sebelumnya itu bernilai sama dan sejajar, pengambilan janji serta tuntutan untuk beriman dan membela Nabi tentu tak lagi berarti. Selain itu, penggalan akhir ayat yang menyatakan pengingkar janji sebagai orang fasik merupakan argumen atas kewajiban menaati nabi yang akan datang itu.

Terdapat sejumlah riwayat yang relevan dengan keterangan ayat di atas. Di antaranya, riwayat dari Imam Ali bin Abi Thalib:

Allah tidak mengutus Nabi Adam dan nabi-nabi setelahnya kecuali setelah mengambil janji dari mereka perihal Nabi Muhamamd Saw. Yaitu, saat diutusnya Nabi Muhammad saw dan para nabi itu masih hidup, mereka harus beriman kepadanya, menolong dan menaatinya. Para nabi juga harus mengambil janji yang sama dari umatnya.[1]

Riwayat dari Imam Musa Kazhim juga menyatakan:

Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali setelah mengumumkan kenabian Muhammad Saw dan keimamahan Ali [bin Abi Thalib].[2]

Demikian juga hadis dari Ibnu Abbas:

Allah telah mewahyukan Nabi Isa as, “Berimanlah pada Muhammad saw dan perintahkan orang yang menjumpainya agar beriman padanya”.[3]

Jelas, keimanan para nabi dan umat terdahulu pada syariat Islam tidak relevan dengan paham Pluralisme Agama. Di sisi lain, Allah juga telah menjanjikan laknat, ketidaan rahmat dan menetapkan nasib buruk bagi pelanggar janji Ilahi tersebut.

————————-

[1] Nahj Al-Balâghoh, pidato ke-189, no. 10.

[2] Mulla Muhsin Feiz Kasyani, ‘Ilm Al-Yaqîn, jld. 1, hlm. 419.

[3] Ibid., hlm. 421.

No Response

Leave a reply "Al-quran dan Eksklusivisme Islam"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.