Wahabi di Mata Pahlawan Pendidikan

No comment 496 views
Greg Mortensonn

Greg Mortensonn

Saya pernah membaca sebuah novel berjudul ‘Three Cups of Tea’. Sebuah novel memoar yang mengabadikan usaha Greg Mortenson membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil di sekitar Pakistan Utara. Novel ini memulai kisahnya ketika Greg Morteson gagal menaklukkan puncak gunung tertinggi kedua, K2. K2 terletak di Pakistan Utara. Ketika ia menyusuri jalan pulang, ia tersesat masuk ke sebuah desa yang bahkan tak pernah ia lihat dalam peta sebelumnya, Korphe. Di sana ia diperlakukan dengan sangat istimewa, meski ia seorang ‘kafir angrezi’(orang kulit putih asing ).

Keramahan orang-orang Korphe meninggalkan kesan yang sangat mendalam dalam diri Greg. Ia bertekad untuk balas budi. Apa yang dapat ia lakukan? Setelah melihat bagaimana anak-anak Korphe yang miskin bersekolah dengan berlutut di atas tanah yang membeku tanpa guru, ia berjanji pada haji Ali, kepala desa Korphe, “aku akan membangun sekolah. Aku berjanji.”

Maka dimulailah kisah pemenuhan janji itu. Selama satu dekade 1993-2003, pahlawan pendidikan ini telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah, terutama untuk anak-anak perempuan, di sekitar Pakistan Utara. Tentu banyak halangan yang harus dilalui Greg; dari masalah dana, ancaman-ancaman dari para mullah hinga madrasah-madrasah wahabi. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin memfokuskan perhatian kita pada pandangan Greg Mortenson tentang wahabi. Kenapa? Karena dalam novel memoar tentang misi kemanusiaannya itu, Greg Mortenson meluangkan waktu untuk membahas tentang wahabi. Aneh bukan? Kenapa dia mau menulis panjang dan lebar, bahkan sampai mengutip sana-sini, tentang ajaran yang menurutnya konservatif dan fundamentalis itu? Apa yang ingin ia sampaikan? Siapapun yang pernah membaca novelnya, tentu akan mengerti betapa Greg Mortenson, seorang pahlawan bagi anak-anak muslim Pakistan Utara, sangat mengkhawatirkan pergerakan wahabi.

Madrasah Wahabi, ‘Sarang Lebah’

Di bab 19 yang berjudul, ‘Sebuah Desa Bernama New York’, halaman 451-547, Greg Mortenson menulis upaya-upaya wahabi yang membuat dia gelisah sepanjang tahun 2001. Mari kita lihat kata Mortenson tentang besarnya skala rencana wahabi yang mendapatkan dana ‘tak terbatas’dari syekh-syekh Kuwait dan Saudi, “aku tahu bahwa selama bertahun-tahun kaum Wahabi dari Saudi membangun masjid-masjid di sepanjang perbatasan Afghanistan,” ujar Mortenson. “Tetapi musim semi itu, musim semi 2001, aku tercengang melihat semua gedung baru yang mereka bangun, tepat di sini, di jantung Baltistan yang Syiah. Untuk pertama kalinya aku mengerti besarnya skala rencana yang tengah mereka jalankan dan itu membuatku takut.”[i]

Selanjutnya, Greg Mortenson menjelaskan apa itu wahabisme. Ia menjelaskan bahwa wahabisme adalah cabang konservatif dan fundamentalis dari Islam Sunni[ii].

Menurut saya, wahabi tidak bisa dikatakan sebagai cabang dari sunni, bagaimanapun wahabi memiliki aqidah-aqidah yang berbeda dengan sunni. Namun satu hal yang harus digaris-bawahi adalah bahwa Wahabi, menurut Greg Mortenson, memiliki dana tak terbatas yang diselundupkan para kaki-tangan wahabi ke Pakistan, baik dalam koper maupun melalui sistem transfer yang tak dapat dilacak, hawala. Dana ini ditujukan pada inkubator ekstremisme religius paling berbahaya di Pakistan-madrasah-madrasah Wahabi.[iii]

Pada halaman-halaman selanjutnya, Greg Mortenson menjelaskan bagaimana wahabi menyebar-luaskan doktrin kekerasannya dengan modal uang. Simak saja penuturan Mortenson berikut ini:

Sistem pendidikan Pakistan yang lemah membuat berkembangnya doktrin Wahabi ini sekedar masalah ekonomi saja. Sebagian kecil anak-anak orang kaya Pakistan bersekolah di sekolah swasta elite yang mahal, warisan sistem kolonial Inggris. Namun, seperti yang sudah diketahui Mortenson, sebagian besar rakyat negeri itu nyaris tak terlayani oleh sekolah-sekolah negeri Pakistan yang pendanaannya sama sekali tak layak. Target dari sistem madrasah ini adalah siswa miskin yang gagal dirangkul oleh sistem publik. Dengan menawarkan sekolah dan asrama gratis, membangun sekolah di wilayah tempat tak ada sekolah lain berdiri, madrasah-madrasah ini menyediakan satu-satunya kesempatan bagi jutaan orang tua Pakistan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka.[iv]

Selanjutnya, Mortenson membebarkan bahwa murid-murid yang bersekolah di madrasah wahabi ini dididik dengan kurikulum yang menekankan jihad serta kebencian terhadap orang Barat dengan mengorbankan materi-materi seperti matematika, ilmu  pengetahuan alam, dan sastra. 15-20 persen siswa madrasah juga menerima latihan militer!

Lebih lanjut, Mortenson mengutip perkataan seorang wartawan yang berbasis di Lahore, Ahmed Rashid dalam buku best-sellernya Taliban, “Murid-murid madrasah ini adalah mereka yang tak memiliki akar dan gelisah, pengangguran serta secara ekonomi kekurangan, dan sangat sedikit atau bahkan sama sekali tak memiliki pengetahuan umum.” “Mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. Kepercayaan mereka yang sederhana terhadap suatu bentuk islam puritan dan fanatik dijejalkan pada mereka oleh mullah-mullah desa sederhana adalah satu-satunya keyakinan yang dapat mereka pegang dan memberi sedikit makna dalam hidup mereka.”[v]

Kesimpulannya adalah yang membuat Greg Mortenson, seorang yang sangat memerhatikan nasib anak-anak muslim di Pakistan dan Afghanistan, ketakutan adalah upaya wahabi dalam menyebarkan ajaran fanatiknya. Mortenson tahu betul, madrasah wahabi merupakan ‘sarang lebah’ yang dapat merusak generasi islam, karena alih-alih mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan yang penting bagi anak-anak, mereka malah mengajarkan kebencian yang menurut Mortenson, tak dibetulkan dalam islam. Madrasah Wahabi sangat lihai dalam memilih murid. Dengan dana tak terbatasnya, mereka melakukan indoktrinisasi kepada pemuda-pemuda miskin yang kehilangan semangat hidup. Dengan cara ini, mereka memiliki pengikut yang rela-mati karena merasa berhutang segalanya pada madrasah mereka. Ala kulli hal, dia mengakhiri penjelasannya tentang wahabi sebagai berikut:

Memikirkan siasat kaum wahabi membuat kepalaku pusing.” Kata Mortenson. “Ini bukan sekedar beberapa syaikh Arab yang keluar dari penerbangan Gulf Air seraya membawa koper-koper penuh uang. Mereka membawa siswa madrasah yang palimg pandai kembali ke Arab Saudi dan Kuwait untuk diindoktrinisasi selama satu dekade, lalu mendorong mereka agar menikahi empat orang wanita sepulangnya ke Pakistan, dan berkembang biak seperti kelinci.

“Istilah ‘sarang lebah’ yang diberikan Apo pada madrasah wahabi memang tepat. Mereka memproduksi generasi demi generasi murid yang telah dicuci otak dan berpikir dua puluh, empat puluh, bahkan enam puluh tahun ke depan, ke waktu saat bala tentara ekstremis mereka akan cukup banyak untuk memenuhi Pakistan dan seluruh dunia islam.”

Di awal September 2001, menara merah darah dari sebuah masjid dan kompleks madrasah Wahabi yang baru dibangun menjulang dari balik tembok tinggi di jantung Skardu, seakan menguatkan kegelisahan yang dirasakan Mortenson sepanjang musim panas. [vi]

Alangkah baiknya sebelum mengakhiri penjelasan pandangan Mortenson tentang Wahabi, kita simak kata-katanya berikut, “Aku tidak ingin memberi kesan bahwa semua Wahabi itu buruk. Banyak sekolah dan masjid mereka yang melakukan pekerjaan mulia, menolong masyarakat miskin Pakistan. Tetapi sebagian dari sekolah itu tampaknya didirikan hanya untuk mengajarkan jihad yang militan. ”

Note: Tulisan ini hanya untuk latihan menulis semata. (DarutTaqrib/Farazdaq/Adrikna!)

[i] Three Cups of Tea, hal. 452

[ii] Ibid, hal. 452

[iii] Ibid, hal. 453

[iv] Ibid, hal. 454

[v] Ibid, hal. 456

[vi] Ibid, hal. 457

No Response

Leave a reply "Wahabi di Mata Pahlawan Pendidikan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.