Khulasoh Ta’lim Ustadz Alam Firdaus Tentang Iri Hati (Hasad)

Ta’lim dilaksanakan di Masjid Imam Mahdi afs selepas salat isya’ berjamaah. Berikut poin-poin pentingnya.

  1. iri hati ada dua. Yang pertama, iri hati yang positif. Iri hati ini hanya sebatas iri dan tidak ada niat untuk merebut ataupun merusak karunia Allah yang telah diberikan kepada orang yang kita hasad tersebut. Artinya, selama kita hanya sekedar iri, tanpa mengganggu orang lain, maka iri hati seperti ini disebut sebagai iri hati yang positif. Kenapa demikian ? Karena sudah menjadi perkara fitrah, manusia hasad kepada orang yang lebih berkecukupan dari dia. Dan selama itu tak mendorong ia untuk melakukan kejahatan pada orang yang ia hasadi tentu ini adalah hal yang positif. Apalagi hal yang ia hasadi berupa masalah ukhrawi. Yang kedua, iri hati yang negatif. Iri hati ini merupakan akhlak tercela yang harus dihindari. Karena hasad ini membuat seseorang menjadi gelap mata dan akan melakukan apa saja agar orang yang ia hasadi tidak memiliki lagi apa yang telah diberikan Allah kepadanya dan ia (orang yang hasad) saja yang bisa memiliki karunia tersebut. Untuk menegaskan betapa tiada bergunanya iri hati (yang negatif tentunya), akan dibawakan dua buah kisah yang menarik untuk disimak.
  2. Kisah ini terjadi pada masa khalifah Mu’tashim, salah satu khalifah dinasti Abbasiyah. Dikisahkan, Mu’tashim berteman dekat dengan seorang Baduy. Saking dekatnya, si Baduy tersebut dengan mudah keluar masuk istana tanpa takut terkena hukuman. Melihat kedekatan Baduy dengan Mu’tashim, salah seorang menteri Mu’tashim menjadi hasad. Pikirnya, ia yang merupakan menteri tak mampu berteman dekat dengan khalifah. Sedangkan Baduy itu yang bukan siapa-siapa leluasa berteman dengan khalifah. Maka, muncullah rasa hasad di hatinya. Si menteripun menyiapkan rencana busuk yang akan membuat khalifah menjauhi si Baduy tersebut. Si  menteri, pada suatu hari, mengajak makan-makan si Baduy. Tentu saja si Baduy langsung menyetujui. Dalam acara makan-makan itu, si Baduy disuguhkan lauk yang banyak bawang putihnya. Seperti yang kita tahu, bawang putih itu beraroma tak sedap. Lalu dengan piciknya, si menteri mengatakan pada Baduy bahwa mulutnya bau. Dan jika menghadap khalifah, engkau harus menutup mulutmu karena khalifah tak suka bau mulutmu yang menyengat itu. Si Baduy hanya mengangguk tanpa memiliki rasa curiga sedikitpun. Setelah makan-makan, si menteri langsung menuju khalifah. Dia berkata pada khalifah bahwa si Baduy, teman dekat khalifah itu sungguh tak tahu malu. Dia selalu membicarakan keburukan khalifah kepada orang-orang. Yang lebih parahnya lagi, dia berkata bahwa bau mulut khalifah sangat menyengat. Khalifah marah bukan kepalang. Si Baduy itu pun disuruh menghadap khalifah. Ternyata benar, si Baduy itu menutup mulutnya ketika menghadap khalifah. ‘sunggub tak tahu malu’ pikir khalifah dalam hati. ‘si menteri itu benar. Dia (si Baduy) sungguh tak menghormatiku’ ucap khalifah dalam hati. Maka, tanpa pikir panjang lagi, khalifah segera menulis surat ‘penggallah kepala orang yang membawa surat ini’. Surat ini diberikan kepada si Baduy tersebut dan akan dibawa kepada seseorang yang ternyata adalah seorang algojo. Di tengah jalan, si Baduy tertemu si menteri. Karena hasad, si menteri merampas surat itu dengan dalih, ia lah yang lebih pantas membawakan surat khalifah. Si Baduy hanya mengangguk setuju. Lebih-lebih si menteri itu menggantikan surat (kematian) itu dengan dua puluh ribu dinar. Siapa yang tak mau. Hasilnya, menteri itu mati dibawah pedang algojo. Isu segera tersebar. Khalifah membunuh menterinya sendiri! Khalifah bingung setengah mati. Bagaimana mungkin menterinya yang mati, sedangkan yang hendak ia bunuh adalah si Baduy ? Maka si Baduy dipanggil khalifah. Ia kemudian menceritakan semuanya. Bahwa menutup mulut di depan khalifah adalah skenario si menteri. Setelah mendengar pengakuan si Baduy, khalifah lantas berkata semoga Allah mengancurkan sikap hasad. Dan orangnya lah yang pertama-tama Allah hancurkan.”
  3. Kisah ini terjadi kepada imam kesepuluh, imam Ali al-hadi as yang hidup semasa dengan Mutawakkil. Alkisah, Mutawakkil terkenal bisul yang ganas. Para tabib dinasti Abbasiyah tak mampu menyembuhkan bisul tersebut. Maka, ibu Mutawakkil yang masih memiliki sedikit cinta terhadap Ahlulbayt, memberikan surat kepada imam Hadi as untuk mendapatkan obat bagi anaknya. Imam lantas memberi resep, ‘campur minyak dan sari mawar kemudian oleskan pada bisul tersebut’. Para tabib menertawakan resep Imam. Sebuah resep yang tak pernah mereka pelajari. Karena para tabib tak ada yang mau menjalankan resep imam, maka ibunya Mutawakkil sendiri yang menjalankan resep tersebut. Dan ternyata, hasilnya sangat mengagumkan. Bisul itu segera sembuh. Tentu saja, Mutawakkil senang sekali. Sebagai rasa terima kasihnya kepada Imam, Mutawakkil menghadiahkan 10.000 dinar kepada imam. Hal ini membuat orang-orang dekat Mutawakkil menjadi hasad dengan Imam. Mereka menyebar rumor yang berkata bahwa uang pemberian khalifah itu dipakai Imam untuk membeli senjata demi revolusi penggulingan kekuasaan khalifah. Mendengar rumor ini, khalifah lantas mengutus salah satu menterinya yang bernama Said. Dia ditugaskan untuk menggeledah rumah Imam pada malam hari dan tanpa diketahui orang-orang. Sesampainya di rumah Imam, Said yang berada di atap rumah imam kebingungan, dari mana ia harus memulai penggeladahan. Ditengah kebingungannya, Imam menghampirinya dan berkata, “wahai Said, turunlah dan selidikilah rumahku semaumu.” Said tentu heran, bagaimana Imam bisa tahu, sedangkan ia melakukan ini secara diam-diam. Said pun segera turun dari atap rumah Imam. Imam kemudian memberikan obor kepadanya. Setelah menggeledah seluruh rumah Imam, Said tak menemukan senjata apapun, seperti yang dirumorkan. Ketika menemui imam, dia melihat sebilah pedang dan pundi-pundi uang yang diberikan khalifah berada di samping Imam. Imam lantas menjelaskan bahwa pedang dan pundi-pundi uang itu adalah barang-barang kerajaan. Dan imam tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Said pun pulang dan segera melaporkan hasil penggeledahannya kepada Mutawakkil. Mutawakkil pun menyuruh membunuh orang-orang yang hasad. Sedangkan, sebagai permohonan maaf, Mutawakkil kembali memberikan sejumlah uang kepada imam. Subhanallah, kisah ini sangat serasi dengan syair yang berbunyi,  “Allah akan menyebarkan kemuliaan seseorang melalui lidah orang yang hasud.”
  4. permisalan yang tepat untuk orang yang di-hasad-i adalah dupa. Dupa tak akan menyebarkan bau harumnya jika tak dibakar. Dan hasad diibaratkan sebagai api yang membakar dupa. Semakin dupa dibakar (semakin orang yang di-hasad-i dibakar oleh api hasad) semakin harum dupa tersebut (semakin mulia orang yang di-hasad-i tersebut). (DarutTaqrib/Farazdaq/Adrikna!)
No Response

Leave a reply "Khulasoh Ta’lim Ustadz Alam Firdaus Tentang Iri Hati (Hasad)"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.