Khulasoh Ta’lim Ustadz Alam Firdaus tentang Dusta (al-kidzib)

 Ta’lim dilaksanakan di masjid Imam Mahdi af. Ada beberapa poin penting yang disimpulkan dari ta’lim ini, antara lain :

1. Para pendusta akan dijauhi malaikat. Rasulullah saww bersabda “ketika seorang hamba berdusta, maka malaikat akan menjauhinya sejarak satu mil akibat bau busuknya.” Di alam malakut sana (alam di mana segala sesuatu terlihat dalam wujud aslinya) berbohong tak ubahnya seperti bau busuk. Ketika manusia menjauhi bangkai karena bau busuknya, maka malaikatpun juga akan menjauhi manusia pendusta karena bau busuk yang dihasilkan dari perbuatan dustanya.

2. Tidak mungkin keimanan bercampur dengan kedustaan. Imam Ja’far ash-Shodiq as pernah ditanya Hasan bin Mahbub, “apakah bisa seorang mukmin menjadi bakhil ?” imam menjawab, “ya”, 

“menjadi pengecut ?”

“ya”

“kalau menjadi pembohong ?”

“tidak”, beliau lantas berkata, “seorang mukmin bisa saja memiliki sifat baik dan buruk kecuali berdusta dan berkhianat.” Ketika keimanan memang ada dalam diri seseorang, mustahil ia akan berdusta. Jadi, harus dipertanyakan keimanan seseorang apabila ia sering berdusta.

3. Jauhi berdusta dalam kondisi apapun. Imam Ali al-murtadha as berkata, “seorang hamba tidak akan beriman sampai ia meninggalkan kedustaan, baik serius maupun bercanda.” Imam Ali Zainal Abidin as juga pernah berwasiat “jauhilah kebohongan kecil dan besar, saat serius atau bergurau. Karena ketika seseorang berbohong dalam hal remeh, maka ia akan berani berbohong dalam hal besar.” Wasiat imam Ali Zainal Abidin ini sangat tepat. Bahkan dalam melakukan hal baik pun kaidah di atas bisa diterapkan. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita harus menjaga dari kita dari berbohong. Wasiat di atas saja sudah cukup jelas untuk dijadikan pijakan.

4. Berbohong memiliki banyak dampak. Dalam pembahasan ini hanya disebutkan dua dampak saja, yaitu : kekurangan rejeki dan tidak bisa salat malam. Rasulullah saww bersabda “berbohong akan mengurangi rejeki”. Sedangkan berkaitan dengan dampak yang satunya lagi, imam Ja’far ash-Shodiq as berkata, “kalau seseorang berbohong, maka ia akan terhalang untuk melakukan salat malam (qiyamul layl).” Dari dua dampak di atas, dampak kehilangan kesempatan untuk salat malam jelas lebih besar dibanding yang lainnya. Karena sholat malam memiliki pahala yang sangat tinggi yang tak bisa disamakan dengan rejeki. Maka sungguh merugi orang yang kehilangan kesempatan salat malam karena ulahnya sendiri.

5. Berbohong dibolehkan dalam beberapa hal, seperti (berbohong) untuk mencegah kemungkaran dan untuk mendamaikan dua orang yang berseteru. Imam Ja’far ash-shodiq as berkata “berdusta itu tercela kecuali dalam dua hal; untuk mencegah kejahatan orang-orang zalim dan mendamaikan dua orang yang bermusuhan.” Ya, berbohong dalam dua hal ini dibolehkan (ma’fuw). Misalkan kita berbohong kepada si ‘A’ bahwa si ‘B’ telah menyesali perbuatannya (padahal tidak sama sekali). Begitu sebaliknya, kita berbohong kepada si ‘B’ bahwa ‘A’ telah menyesali perbuatannya dan mengajak damai. Hal ini tentu tak mengapa, karena niat kita untuk mendamaikan orang.

6. Ada istilah Tauriyah. Tauriyah dibolehkan. Tauriyah yaitu si mukhotob (orang yang diajak bicara) memahami makna lain dari perkataan kita, karena kita membuat perkataan kita sedemikian rupa hingga si mukhotob berpandangan lain. Tauriyah ini pernah dilakukan Nabi Ibrahim as ketika menghancurkan berhala-berhala. Nabi Ibrahim as (seperti yang kita tahu) berkata, tanyalah kepada yang paling besar ini, dialah yang telah melakukan semua ini.” Kata “yang paling besar ini” bermakna beliau sendiri (karena beliau tentu lebih agung dibanding berhala-berhala), tapi orang-orang mengira bahwa Nabi Ibrahim as mengisyaratkan patung terbesar di tempat itu.

 

Pertanyaan : kenapa banyak pendusta yang tidak kekurangan rejeki, bukankah ini bertentangan dengan hadits diatas ?

Jawab : 1. Dalam ilmu kalam ada istilah istidraj. Istidraj bermakna Allah menghukum hamba-Nya dengan melalaikan hamba tersebut dari-Nya. Ketika banyak pendusta yang tidak kekurangan rejeki ini berarti mereka sedang disiksa dengan cara dijauhkan dari-Nya. Ingat, siksaan seperti ini memang tak dapat disaksikan secara langsung, namun efeknya jauh lebih besar dibanding siksaan yang bersifat materi.

2. Bisa jadi si pendusta itu juga melakukan hal-hal yang memperluas rejekinya, seperti menyambung tali silaturrahmi dsb. Ibaratnya, ketika seseorang meminum obat batuk untuk mencegah batuknya, namun pada saat yang sama ia juga memakan makanan dan meminum minuman yang menyebabkan batuk, maka obat batuk tersebut tidak akan berjalan efektif. Begitu juga, setiap pendusta pasti kekurangan rejeki. Namun jika ia melakukan perbuatan yang bisa memperluas rejeki maka dampak dari berdusta tadi bisa diatasi. Namun, ini jangan kita jadikan alasan untuk berdusta. Bagaimanapun, berdusta tetaplah hal yang buruk, sampai-sampai, Rasulullah saww dan Ahlulbaytnya begitu menekankan untuk tidak berdusta.

 

Walhamdulillahi rabbil alamin. Wa shallallahu ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi ath-thoyyibiina ath-thohiriin.

 

Jpr, minggu malam, 06-03-11

Farazdaq Khaza’i

No Response

Leave a reply "Khulasoh Ta’lim Ustadz Alam Firdaus tentang Dusta (al-kidzib)"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.