Hindari Konflik, Sunni Syiah Harus Duduk Bersama

Kerusuhan antaretnis, golongan, dan agama terjadi beberapa kali di Indonesia. Salah satunya adalah kerusahan di Sampang, Madura, Jawa Timur, yang terjadi pada Agustus lalu.

Menurut intelektual NU, Zuhairi Misrawi, saat orang memahami demokrasi secara prosedural maka suara terbanyaklah yang akan menang. Konteks demokrasi di Timur Tengah dan Indonesia berbeda. Jika demokrasi tidak digunakan secara benar maka hal tersebut akan membunuh keberagaman yang ada, baik di Indonesia maupun Timur Tengah.

“Kita tidak punya keberanian mengatakan sikap yang kita lakukan adalah salah. Pemerintah terkesan lambat merespon kejadian tersebut,” terangnya dalam seminar bertajuk Syiah Dan Keberagaman di Universitas Paramadina pada Selasa (25/9).

Orang seringkali meributkan perbedaan Sunni dan Syiah padahal sesungguhnya masih banyak kesamaan di antara kedua golongan tersebut.

“Mereka melupakan sesungguhnya landasan teologis Sunni dan Syiah itu sama. Tauhidnya sama, meyakini keesaan Tuhan yang sama yaitu Allah SWT,” tegasnya.

Ia menambahkan nabi-nabi yang diyakini juga sama, bahkan pedomannya sama-sama Alquran. Sunni dan Syiah sama-sama meyakini sunnah dan hadis sebagai pedoman sebagaimana Alquran. Sahabat-sahabt nabi mendapatkan kedudukan yang baik pada golongan Sunni. Sementara Syiah sangat hati-hati dalam hal ini.

Pria berkacamata ini menghimbau orang-orang Syiah untuk muncul dan mengkonfirmasi hal-hal yang dituduhkan kepada mereka supaya kesalahpahaman yang terjadi bisa diatasi.

“Hendaknya dilakukan dialog dan duduk bersama untuk bisa menemukan banyak persamaan, jangan menonjolkan perbedaan,” tambahnya.

Pihak-pihak yang ada, lanjutnya, hendaknya membuka hati dan pikiran untuk saling belajar, begitu juga masyarakat Syiah.

Andar Nurboyo dari Muhammadiyah menjelaskan penerimaan keberagaman dan konsep satu nusa satu bangsa sangat penting. Terjadinya kerusuhan dan kekerasan antargolongan karena masing-masing golongan terjebak dalam ego masing-masing. Semua golongan dan kelompok harus duduk bersama untuk mengidentifikasi kesamaan-kesamaan yang ada. Jangan terus menerus mencari perbedaan. Jika tidak, Indonesia terancam terpecah-pecah baik karena etnis, golongan maupun agama.

“Di satu sisi negara berada pada posisi yangtidak kuat, yang kuat adalah civil society yang memiliki identitas masing-masing. Reformasi adalah satu momentum perjalanan bangsa dimana bangsa ini sedang mengalami kebingungan,” urai dia.

Dalam keadaan labil seperti ini, konflik mudah disulut. Ia mengatakan sesungguhnya hal ini merupakan proses. Namun keinginan untuk hidup dalam damai dan tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada perpecahan harus menjadi landasan kuat dalam menerima perbedaan yang ada.

Syaikh Alamul Huda, seorang ulama Sunni Iran sekaligus Wakil Sekjen Assosiasi Internasional Pendekatan Antar Mazhab (Majma’ taqrib baynal mazahib al-Islamiyah) mengatakan semua perpecahan yang terjadi adalah konspirasi untuk memecah belah Islam.

“Kami mengenal Indonesia sebagai bangsa yang ramah. Kami tidak mempercayai bangsa Indonesia menghancurkan dan membakar kampung di Sampang,” terangnya. Ia menjelaskan keyakinannya akan adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Ia juga mengungkapkan pentingnya duduk bersama antargolongan untuk menemukan persamaan, bukannya memperbesar perbedaan.
Tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini, kata dia, adalah bagaimana bersatu di tengah-tengah kepungan media yang bisa saja dibayar untuk memberitakan hal yang tidak baik tentang Islam. Media sekarang ini, lanjutnya, tidak semuanya murni dan tidak memihak.

Ia mencontohkan tidak semua yang diberitakan mengenai Iran adalah benar. Umat Islam Iran, baik Sunni maupun Syiah, dapat hidup dengan damai secara berdampingan kendati tidak tertutup kemungkinan adanya pergesekan yang memicu pertentangan. (DarutTaqrib/ABI/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Hindari Konflik, Sunni Syiah Harus Duduk Bersama"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.