Siapa di Balik Terorisme di Irak?

No comment 514 views

Aksi terorisme di berbagai wilayah Irak menunjukkan bahwa hingga kini ada pihak-pihak yang tidak menginginkan ketentraman tercipta di negara itu. Tindakan terorisme terbaru di Baghdad dan sekitarnya telah menewaskan dan melukai 17 orang.

Pada Ahad (30/9), 34 orang dilaporkan tewas dan 104 lainnya terluka dalam berbagai ledakan bom mobil di beberapa kota di Irak. Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Irak, 365 orang tewas di bulan September akibat serangan teroris. Sumber-sumber resmi Irak menegaskan bahwa bulan September adalah bulan yang paling berdarah selama dua tahun lalu.

Tampaknya sejak kasus pengadilan anggota List al-Iraqiya Tariq al-Hashimi di bahas, Irak kembali dilanda gelombang aksi terorisme dan peristiwa-peristiwa berdarah seperti pemboman dan penembakan mewarnai kehidupan warga di Irak dalam beberapa bulan terakhir ini. Bahkan sejak al-Hashimi resmi divonis mati dalam sebuah pengadilan in-absentia, kondisi keamanan Irak semakin memburuk.

Tak ada keraguan bahwa terdapat hubungan antara masalah keamanan Irak dan gerakan List al-Iraqiya khususnya kelompok ini sejak awal mempunyai hubungan dekat dengan kelompok-kelompok teroris di Irak. Meski demikian, aktivitas di balik layar Amerika Serikat di Irak tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Washington selalu berupaya mendapat jalan untuk tetap memiliki posisi kuat di Irak. Selama beberapa tahun terakhir, Gedung Putih berperan besar dalam instabilitas di Irak. Pasalnya, Amerika menggunakan kelompok-kelompok teroris yang aktif di negara itu secara langsung maupun tidak langsung untuk mengejar ambisinya.

Dalam hal ini, peran perusahaan-perusahaan keamanan swasta Amerika di Irak juga tidak boleh dilupakan. Hingga sekarang, banyak dinas keamanan swasta Amerika yang aktif di Irak. Dinas-dinas itu di masa pendudukan Amerika atas Irak aktif sebagai sayap militer resmi Amerika dan berperan aktif dalam menyulut ketidakamanan di Irak.

Pasca penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak, Washington berusaha untuk tetap menempatkan  anggota-anggota dinas keamanannya di Irak. Mereka dikenal sebagai pasukan pengganti militer resmi Amerika di negara itu. Dengan demikian, pengaruh militer tidak resmi Amerika di Irak tidak dapat dikesampingkan dari instabilitas di negara itu.

Terdapat kemungkinan pula bahwa sejumlah negara Arab yang kecewa dengan sikap Irak terhadap Suriah berupaya memprovokasi kelompok-kelompok teroris untuk menyulut kerusuhan di negara itu dan menggunakan mereka sebagai alat untuk menekan pemerintah Baghdad.

Sebagian kalangan politik menuding Arab Saudi dan Qatar telibat dalam instabilitas di Irak. Pasalnya, kedua negara tersebut memusuhi pemerintahan Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki dan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad. Selain itu kebijakan Irak yang lebih mengutamakan penyelesaian krisis Suriah dengan jalan damai membuat geram kedua negara tersebut.

Keterlibatan Riyadh dan Doha dalam instabilitas di Irak telah dibuktikan oleh Baghdad. Hingga kini puluhan teroris yang berasal dari Saudi dan negara-negara sekitar selatan Teluk Persia ditangkap oleh pemerintah Irak.

Tampaknya sejumlah negara Arab di kawasan ingin meraih ambisinya dengan cara menyulut kerusuhan di Irak dan Suriah. Namun mereka lupa bahwa setiap langkah anti-salah satu negara di kawasan akan berdampak bagi semua negara Arab. Jika hal ini tidak diperhatikan maka dalam jangka panjang negara-negara Arab di kawasan akan menjadi tempat nyaman bagi pihak-pihak asing dan hal ini sangat membahayakan stabilitas keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah. (DarutTaqrib/IRIB/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Siapa di Balik Terorisme di Irak?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.