Kerukunan Warga Sunny dan Syiah Di Jepara (1

Tahlilan dan Salat Jenazah Bareng, Jumatan Beda Masjid

Seorang warga berdiri di depan Musalla Al Husaini yang merupakan satu-satunya tempat ibadah warga Syiah di Dukuh Candi, Desa Banjaran, Bangsri, Kabupaten Jepara.
Konflik yang berlatangbelakang SARA di Indonesia seakan tak ada habisnya. Namun sebenarnya,potret keberagamaan antarpengikut mazhab keagamaan di negeri tak selalu buram.Di banyak tempat,mereka hidup dengan harmonis dan sangat akur. Seperti yang terekam di Dukuh Candi,Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri,Jepara. Kemarin,SINDO mendatangi desa tersebut untuk melihat lebih jelas keharmonisan mereka.

Beberapa saat SINDO tiba di Dukuh Candi,suara azan terdengar saling bersahutan dari dua bangunan yang jaraknya hanya terbentang sekitar 100 meter.Adzan pertama dari Masjid Mbah Muhammad Arif yang merupakan tempat ibadah warga Sunni (NU) di Dukuh Candi Desa Banjaran.Sedang adzan kedua dari Musalla Al Husaini,yang dijadikan tempat salat warga Syiah. Suara adzan tersebut akan selalu hadir tiap kali masuk waktu salat wajib (rawatib).

Meski jika ditelisik,memang ada perbedaan mulai dari lafadz azan,berwudu hingga tata cara salat.Misalnya, jika lazimnya warga Sunni saat salat menyedekapkan tangan di dada,maka warga Syiah membiarkan tangannya menjuntai.Lalu jika saat mengucapkan salam pertanda salat sudah rampung,warga Sunni menoleh ke kanan dan ke kiri,tapi umat Syiah hanya menepuk-nepukkan tangan di paha.Meski begitu,kedua kelompok berbeda mazhab keagamaan di Dukuh Candi ini tetap akur.

Sejak tahun 1980-an hingga kemarin,tidak pernah ada gesekan antar dua kelompok tersebut sekali pun. “Warga sini,toleransinya sangat tinggi.Meski berbeda mazhab tapi kita saling menghormati dan menghargai,”kata Seksi Dakwah Musala Al Husaini, Alam Firdaus, 33,kemarin. Menurut Alam,pengikut mazhab keagamaan di Dukuh Candi,Desa Banjaran beragam.

Ada yang beraliran NU,Syiah dan Muhammadiyah.Jumlah warga Syiah di sini ada sekitar 200 kepala keluarga (KK), sedang yang beraliran Sunni jumlahnya hampir sama. Sedang Muhammadiyah hanya satu KK.Namun keyakinan yang berbeda tersebut tidak menjadi penghalang kerukunan antarwarganya.Bahkan uniknya,ada juga beberapa rumah yang penghuninya merupakan pengikut mazhab yang berbeda.

Dia mencontohkan,ada yang suaminya pengikut NU, namun istrinya ternyata bermazhab Syiah.Ada juga yang ayahnya Sunni,namun anaknya Syiah dan sebaliknya. “Tapi tetap saja mereka akur. Selain faktor saling menghargai, warga di sini kalau diurutkan silsilahnya memang masih satu keluarga besar,”ujarnya.

Namun Alam keberatan menyebut nama-nama anggota keluarga tersebut. Kebersamaan antarwarga berbeda mazhab tersebut juga diwujudkan dalam sejumlah aktivitas sosial keagamaan di wilayah setempat.Alam mencontohkan,soal aktivitas salat jenazah atau tahlilan manakala ada warga yang meninggal dunia.Jika warga yang meninggal tersebut bermazhab Sunni,maka salat dan tata cara dilakukan di Masjid Mbah Muhammad Arif.

Imam salat dipimpin oleh tokoh agama beraliran Sunni juga.Meski begitu,warga Syiah tetap ikut salat jenazah berjamaah di Masjid Sunni tersebut,meski tata cara ibadahnya berbeda. “Begitu juga sebaliknya. Kalau warga Syiah ada yang meninggal,maka salat jenazah di Musholla Al Husaini.Imam dari kita,tapi jamaah salat banyak yang warga Sunni,” jelasnya.

Salah seorang tokoh Sunni di Dukuh Candi,Habib Husein,47,menambahkan kebersamaan antar warga Sunni dan Syiah juga dilaksanakan saat acara tahlilan.Kedua pengikut mazhab berbeda ini samasama datang saat kegiatan untuk mendoakan orang yang meninggal dunia ini.Uniknya, kegiatan ini “dipimpin”secara bersama oleh tokoh agama masing-masing mazhab.

Masing-masing tokoh agama mendapat jatah peran yang berbeda.Misalnya jika yang meninggal dunia warga Syiah, maka pemimpin tahlil tokoh agama mazhab yang bersangkutan.Namun giliran doa,nanti ganti dipimpin oleh tokoh agama Sunni.Dan begitu juga sebaliknya. “Intinya kalau urusan sosial kemasyarakatan kita sangat harmonis,”tutur Imam Rawatib Masjid Mbah Muhammad Arif ini.

Namun,kata pria keturunan Arab ini,khusus urusan keyakinan dan tata cara ibadah yang sifatnya personal warga dilarang saling “intervensi”.Dan menurutnya warga berbeda mazhab ini pun juga tidak saling mencari kelemahan atau membenarkan apa yang dilakukannya. “Agar tidak muncul masalah,untuk salat wajib masjid kita beda. Untuk salat Jumat juga sama, karena memang ada tata cara yang berbeda,”tandasnya.(DarutTaqrib/sindo/Adrikna!)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/522182/

No Response

Leave a reply "Kerukunan Warga Sunny dan Syiah Di Jepara (1"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.