Diskriminasi terhadap Muslim Myanmar Langgar Deklarasi HAM

Menurut Kantor Berita ABNA, Tragedi yang menimpa Muslim etnis Rohingya di Myanmar memicu perhatian dari berbagai kalangan terutama umat Islam dunia. Ahlul Bait Indonesia (ABI) sebagai bagian dari Muslim dunia menyatakan solidaritas dan keprihatinan yang mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

“Masalah Muslim Myanmar adalah persoalan pelanggaran hak asasi manusia yang bertentangan dengan declaration of human rights,” kata Sekjen ABI, Ahmad Hidayat Ahad (15/7).

Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia mengecam tindakan tidak manusiawi dan pelanggaran hak-hak dan kebebasan untuk menjalankan keyakinan dan kepercayaan mereka masing-masing, sebagaimana yang menimpa muslim Rohingya.

ABI mendesak lembaga-lembaga muslim internasional seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabitah al-Alam al-Islami dan organisasi lainnya untuk membicarakan masalah ini baik di tingkat negara dengan negara (G to G), maupun lembaga non pemerintah (NGO) yang punya akses dengan persoalan tersebut.

Organisasi Ahlul Bait Indonesia juga mendesak untuk menekan pemerintah Myanmar supaya menghentikan diskriminasi terhadap etnis Rohingya sebagai minoritas di negara itu.

“Kita mendesak PBB dan Human Rights Watch untuk melakukan investigasi mengenai berbagai macam persoalan seperti ini, karena memang ini masalah kemanusiaan yang terjadi di mana-mana. Kalau dibiarkan maka akan menciptakan kondisi yang rumit baik bagi Myanmar sendiri maupun hubungan sosial yang lebih luas antaragama di dunia, “tegas Ahmad Hidayat.

Sejak pemerintahan Junta militer berkuasa tahun 1942, etnis muslim Rohingya menjadi sasaran pelanggaran hak asasi manusia. Sebagian warga Myanmar menganggap muslim Rohingya sebagai orang asing dan bukan bagian dari etnis Burma mayoritas. Kebijakan pemerintah Junta Myanmar pun tidak jauh berbeda dari sikap rakyatnya. Bertahun-tahun mereka menganggap orang Rohingya sebagai imigran ilegal asal Bangladesh. Padahal etnis muslim itu sudah hidup turun temurun di Burma.

Ironisnya, wartawan, peneliti, penulis, dan tokoh Myanmar justru beramai-ramai menyamakan orang Rohingya sebagai sekumpulan muslim garis keras seperti organisasi al-Qaida dan Taliban.

Jumlah warga muslim di Myanmar sendiri mencapai 5% dari 53 juta penduduk Myanmar. Mayoritas di antara mereka adalah etnis Bengali yang menetap di Provinsi Rakhine. Sementara sisanya merupakan Muslim keturunan India dan Cina yang tinggal di Yangon. Hingga kini nasib Rohingya terkatung-katung. Di dalam negeri mereka tidak diakui, di luar negeri pun tidak ada yang mau menampung mereka. (DarutTaqrib/ABNA/Adrikna)

No Response

Leave a reply "Diskriminasi terhadap Muslim Myanmar Langgar Deklarasi HAM"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.