Rahbar, Sang Pemimpin Agung (1)

No comment 968 views

Ketika Imam Khomeini ra, Pendiri Revolusi Islam Iran, dikabarkan meninggal dunia, hari itu dapat dikatakan sebagai hari yang terpahit bagi bangsa Iran. Masyarakat Iran saat itu sulit membayangkan lanjutnya Revolusi Islam Iran tanpa Imam Khomeini ra. Ini menunjukkan kecintaan mendalam masyarakat Iran kepada Imam Khomeini ra. Hari itu benar-benar merupakan hari berkabung bagi rakyat Iran.

Akan tetapi setelah dikabarkan Imam Khomeini ra meninggal dunia, Dewan Ahli Kepemimpinan langsung menggelar sidang yang sekaligus menentukan pengganti Imam Khomeini ra selaku Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran. Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei ditunjuk mayoritas anggota Dewan Ahli Kepemimpinan untuk melanjutkan tugas Imam Khomeini ra selaku Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran.

Kini, kinerja Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei yang akrab dipanggil Rahbar atau Sang Pemimpin, telah memasuki tahun ke-22. Menurut masyarakat Iran, Rahbar mampu menunjukkan rapor kerja yang spektakuler, bahkan beliau mampu menjaga dan melanjutkan prinsip-prinsip dasar Revolusi Islam yang menjadi landasan utama Imam Khomeini.

Biografi
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan, “Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis”.

“Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran 60 – 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar”.

Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di sekolah Islam yang saat itu baru dibangun “Daar At-Ta’lim Diyanati”.

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. Rahbar mengatakan, “Faktor dan alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang selalu mendukung saya.”

Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu, Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku Ma’alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai’ Al Islam dan Syarh Lum’ah dari sang ayah dan sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.

Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji’ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah. Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini. Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.

Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba’tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964), Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak. Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad. Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang ayah.

Terkait hal ini, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya”.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat. Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian… Namun fakta di masa depan membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan. Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini, yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak meninggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1968) dari para guru besar hauzah Mashad khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Kekaguman Politisi Dunia
Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei mempunyai keutamaan yang luar biasa. Tidaklah salah, bila beliau kemudian menjadi orang yang paling layak untuk menyandang Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran. Dalam pasal kelima Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran tercantum bahwa Rahbar atau Pemimpin Revolusi Islam Iran harus mempunyai syarat takwa, keadilan, bijaksana, keberanian, kesadaran dan wawasan luas atas berbagai masalah dunia. Semua syarat itu ada pada diri Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei dan semua itu dibuktikan dalam menyikapi berbagai fase pasang-surut dalam perjalanan Revolusi Islam Iran, khususnya pasca wafat Imam Khomeini ra. Kepiawaian dan kebijaksanaan Rahbar dalan mengatasi berbagai masalah negara dan dunia membuat semua pihak mengakuinya sebagai pemimpin.

Kofi Annan yang saat itu menjabat sebagai Sekjen PBB, melakukan pertemuan dengan Rahbar pada tahun 2000. Setelah bertemu dengan beliau, Kofi Annan mengatakan, “… dalam pertemuan dengan Ayatollah Sayid Ali Khamenei, saya merasa belum pernah menemukan orang seperti dia. Kepribadian spiritualnya membuatku terkagum-kagum. Saya pun bertanya pada diriku sendiri; Mengapa orang seperti saya harus menjadi Sekjen PBB yang tak mempunyai spiritualitas seperti ini? Dengan melihat figur Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei, saya lupa dengan semua orang yang saya kagumi selama ini. Saya benar-benar kagum dengan kekuatan spiritual Ayatollah Ali Khamenei. Saya banyak melihat tokoh-tokoh spiritual di dunia ini, tapi mereka tak banyak mengetahui masalah politik. Dalam pertemuan dengan Ayatollah Ali Khamenei, saya menyaksikan kepribadian politik di puncak kesuciannya. Ini membuat seluruh tokoh politik di dunia terhapus di benakku.”

Mantan Sekjen PBB lainnya, Javier Perez de Cueller juga melakukan pertemuan dengan Ayatollah Al-Udzma Ali Khamenei yang saat itu menjabat Presiden Republik Islam Iran. Pertemuan itu terjadi di akhir masa perang Irak-Iran. Setelah bertemu dengan Ayatollah Ali Khamenei, Javier Perez de Cueller mengatakan,”Saya mempunyai gelar doktor di bidang politik, melakukan aktivitas politik selama 30 tahun dan menjadi Sekjen PBB dalam beberapa tahun terakhir. Selama ini, saya menemui banyak presiden, tapi tidak pernah mendapatkan presiden secerdas dan sepintar Ayatollah Ali Khamenei.”

Kesederhanaan Rahbar dan Keluarganya
Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam kehidupan sehari-harinya menunjukkan kesederhanaan yang luar biasa. Dalam menjabat berbagai jabatan selama 33 tahun, Ayatollah Khamenei tak pernah mengumpulkan harta. Rahbar di masa kecil dan remajanya hidup di tengah keluarga biasa dan religius. Setelah Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei mempunyai peluang untuk menjabat berbagai jabatan penting dan strategis, tapi hal itu tak mengubah gaya hidupnya. Bahkan Ayatollah Ali Khamenei setelah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran tetap hidup sederhana dan bersahaja. Lebih dari itu, menu makannya tidak pernah lebih dari satu. Hadiah-hadiah yang didapatkannya selama menjabat Presiden Iran diserahkan kepada Museum Makam Imam Ali Ar-Ridha as di kota Mashad.

Rahbar juga mengantisipasi fitnah dengan melarang anak-anaknya untuk beraktivitas di dunia politik dan ekonomi. Hujjatul Islam Marvi yang menjabat sebagai Pimpinan Humas di Kantor Rahbar, mendapat kesempatan untuk melihat kehidupan Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei dari dekat. Terkait kehidupan Rahbar, Hujjatul Islam Marvi mengatakan, “Rahbar mempunyai empat anak laki-laki yang semuanya adalah pelajar agama yang berpakaian rohani. Mereka juga sangat serius belajar…. Saya seringkali duduk dan berbincang-bincang bersama dengan putra-putra Rahbar. Namun tidak pernah keluar sedikitpun yang mengeluhkan uang dan fasilitas dari mulut mereka. Putra-putra Rahbar sama seperti orang biasa, dan ayah mereka juga demikian. Mereka lebih cenderung membahas berbagai masalah ilmiah. Ini adalah hal yang menarik bahwa ada fasilitas dan kesempatan tapi tidak dihiraukan. Untuk Rahbar, banyak fasilitas yang disediakan, tapi beliau dan keluarganya tak pernah menghiraukan semua itu.”

Kehidupan sederhana Rahbar sama seperti kehidupan Imam Khomeini ra. Ini diakui oleh orang-orang yang melihat langsung kehidupan Rahbar. Kekompakan kedua pemimpin besar abad ini mengingatkan pada figur sempurna Nabi Besar Muhammad Saw dan Imam Ali bin Abi Thalib as. Mengikuti jejak tauladan Rasulullah Saw dan Imam Ali as, Imam Khomeini dan Rahbar hanya mencari kerelaan ilahi. Harta dan jabatan menurut mereka adalah sementara, sedangkan hal yang abadi adalah kerelaan ilahi. (DarutTaqrib/IRIB/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Rahbar, Sang Pemimpin Agung (1)"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.