Israel Menggelandang di Mesir

No comment 905 views

Pasca serangan pengunjuk rasa Mesir ke gedung Kedutaan Besar Rezim Zionis Israel di Kairo setahun lalu dan terusirnya para staf Kedubes ini dari negara itu, pejabat Tel Aviv kesulitan untuk mendapat lokasi baru untuk dijadikan tempat kedubesnya yang baru.

Departemen Luar Negeri Rezim Zionis pada tanggal 21 Juni dalam sebuah penyataan menyebutkan bahwa Tel Aviv kesulitan untuk menemukan tempat yang lebih aman untuk dijadikan kantor Kedubesnya di Kairo. Hal itu disebabkan semakin meningkatnya tuntutan publik yang menolak keberadaan perwakilan Israel di Mesir.

Deplu Zionis menambahkan bahwa tak seorangpun dari warga Mesir yang siap menyewakan gedungnya kepada Israel.

Salah satu ciri khusus dari gelombang baru kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah penentangan terhadap Israel, di mana mayoritas analis politik meyakini hal itu.

Sikap penentangan terhadap rezim Zionis tampak jelas dalam slogan-slogan yang diusung oleh demonstran di dunia Arab. Bahkan di Mesir sikap anti-Israel lebih kuat dibanding di negara-negara Arab lainnya, sebab prioritas utama kebijakan luar negeri revolusi Mesir adalah diakhirinya perjanjian Camp David dan pemutusan segala bentuk hubungan dengan Israel seperti hubungan ekonomi dan politik. Puncak dari tuntutan tersebut terjadi pada bulan September 2011.

Pada tanggal 9 September 2011, pemrotes Mesir menyerang dinding beton pelindung gedung kedutaan Tel Aviv di Kairo dan menghancurkannya. Akibatnya, duta besar Zionis dan para stafnya terpaksa melarikan diri pada malam hari dari Kairo.

Dengan pengkhianatan Dewan Tinggi Angkatan Bersenjata Mesir (SCAF) terhadap revolusi rakyat negara itu, Israel berhasil mengirim kembali duta besar dan stafnya ke Kairo. Meski demikian, hingga kini mereka tidak mampu mendapat lokasi aman untuk dijadikan kantornya. Padahal pejabat Israel telah berupaya keras untuk mendapatkannya.

Rakyat Mesir menilai hakikat utama dari revolusi mereka adalah Islam dan rakyat. Dengan demikian mereka menentang segala bentuk hubungan dengan Israel yang merupakan musuh utama dunia Islam.

Kalimat yang digunakan Deplu Israel bahwa “tidak ada seorang pun di Mesir yang bersedia menyewakan kantor kepada Israel” dengan jelas menunjukkan kebencian dan kedengkian rakyat negara itu terhadap rezim Zionis.

Di sisi lain, SCAF dan pendukungnya dari Arab dan Barat berupaya membelokkan revolusi Mesir dari jalurnya dengan berbagai cara temasuk mengurangi kewenangan presiden dan membubarkan parlemen yang mayoritas dikuasai kubu islamis. Peningkatan kewenangan militer juga tidak terlepas dari pengaruh Israel.

Serangan terhadap keduataan rezim Zionis di Kairo sebagai bukti bahwa musuh-musuh revolusi tidak mampu mencegah meningkatnya kebencian terhadap Israel.

Protes jutaan warga Mesir di Bundaran al-Tahrir baru-baru ini menunjukkan penegasan terhadap sikap anti-Zionis dan menekankan bahwa militer tanpa rakyat tidak memiliki kekuatan apa-apa.

 Jumat kemarin (22/6), jutaan warga Mesir kembali memadati Bundaran al-Tahrir guna menentang upaya SCAF memenangkan Ahmad Shafiq, perdana menteri di era Hosni Mubarak, sebagai presiden Mesir mendatang.

 Demo jutaan orang tersebut juga bertujuan mencegah upaya SCAF meningkatkan kewenangannya dan mengurangi kewenangan presiden mendatang. (DarutTaqrib/IRIB/Adrikna!)

No Response

Leave a reply "Israel Menggelandang di Mesir"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.