Ading, Relawan Kemanusiaan, Heroisme tanpa Sorot Kamera

AKU harus mengatakan pria ini sangat kukagumi. Bukan karena ia memiliki kekuatan super. Justeru karena ia manusia biasa saja. Ia sangat jauh dari sorot kamera media massa yang terkadang mendramatisasi sosok biasa jadi luar biasa.

Dalam kesehariannya, Ading kerap menggelandang di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, terkadang terlihat di Kramat Pulo, atau di Tanah Tinggi.

Setiap hari Jumat, ia mampir ke sebuah kantor bank. Uang sejumlah 150-200 ribu rupiah, ia transfer untuk istri tercintanya, yang tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Wiasih (19), saat ini sedang mengandung anaknya. Sudah delapan bulan usia kandungan istrinya. Jika tak ada aral melintang, bulan depan pria ini punya anak pertamanya.

Dalam sehari, omset usahanya berkisar 100-200 ribu rupiah. Ia menjajakan usaha berupa mainan dan jajanan anak-anak.

“Untuk mengetahui jajanan anak yang sehat dan yang tidak sehat, berdasarkan pengalaman berdagang, boleh tanya sama saya,” ujar pria kelahiran Cirebon, 30 September 1978 ini.

Awalnya, ia berjualan dengan memikul barang dagangannya di pundak. Saat ini, sudah ada kemajuan. Ia menjajakan dagangan dengan gerobak yang ia bikin sendiri.

Ya, Ading seorang pengasong.

Sebelum jadi pengasong seperti saat ini, pemilik nama lengkap Diding Fachrudin ini pernah jadi pengamen. Jiwa avonturir yang ada dalam diri, membuat ia melintas kota di Tanah Air, mencari sesuap nasi menjual suara yang ia akui, pas-pasan. Jadi pengamen jalanan, ia lakoni dari tahun 1994 sampai 1996.

Sampai disini, Ading jelas manusia biasa saja, bukan? Ya karena banyak orang yang harus jalani hidup seperti Ading.

Banyak manusia di Indonesia ini yang karena keterbatasan pendidikan (Ading tak tamat SMP) harus mencari sesuap nasi dengan cara apa saja. Bahkan tak jarang, orang semacam Ading harus berbuat kriminal. “ Alhamdulillah saya tak harus jadi penjahat untuk mencari makan,” aku Ading.

Dalam situasi normal, Ading manusia biasa. Ia menjalani hidup layaknya orang lain. Namun Ading merasa hidupnya menjadi kurang berkualitas, karena keterbatasan mencari nafkah ia harus berpisah dengan istrinya.

” Berpisah dengan yang kita cintai adalah hidup yang tidak berkualitas,” ujar Ading berfilosofi.

——-

Yang agak luar biasa, adalah sosok Ading ketika ia merindukan gunung. Rasa kangennya dengan tebing-tebing, jalan menanjak dan terjal, berkelok, pepohonan liar yang kerap menemaninya tidur di malam hari, sungai, air terjun, kegelapan, udara dingin, posko peristirahatan, dan segala hal yang berkait dengan pendaki gunung, kerap membuatnya lupa segalanya.

Karena kegilaannya mendaki gunung inilah, Ading harus berpisah dengan istri pertamanya, yang telah memberinya anak perempuan. “ Ia ikut ibunya ke Majalengka,” tutur Ading kepadaku.

Pengalaman berpisah itu, membuatnya kapok. Sekarang, jika ia hendak mendaki gunung, ia akan minta ijin istri, dan mertuanya. “ Kelak kalau anakku lahir, aku juga akan minta ijin anakku jika mau mendaki,” ucapnya.

Ya, Ading adalah seorang pendaki gunung.

Namun, jangan kamu pikir Ading adalah pendaki gunung dengan gambaran seorang pendaki dengan peralatan yang lengkap. Dia bisa mendaki gunung hanya berbekal 1,5 liter air untuk sebuah pendakian selama 48 jam siang malam. Nanti akan aku ceritakan sisi kehidupannya yang lain pada artikel yang kedua (insyaAllah).

Karena ia hanya seorang pehobi naik gunung amatiran dari kampung, boleh dibilang, ia hanya mengandalkan passion (cintanya pada gunung), insting, dan fisiknya untuk bisa menaklukkan gunung yang ingin didaki.

Di kalangan para pendaki asal Jakarta yang mengenalnya, Ading dijuluki ‘pendaki gila.’ Pasalnya, kalau sudah rindu dengan gunung, ia akan meninggalkan semuanya. Bersama teman atau sendirian, tidak ada masalah baginya. “ Malahan, saya lebih sering mendaki sendirian,” katanya. Soal hasrat naik gunung, Ading seperti seorang pecinta yang bertahun-tahun tak bersua dengan kekasihnya.

Sederet kalimat yang ia tuturkan kepada orang soal cintanya pada gunung adalah ini:

” Gunung adalah senyum bidadari. Dengan tanpa merendahkan wanita, gunung adalah hal  terindah dalam hidup saya.”

——–

Kemampuan mendaki awalnya diperoleh secara otodidak.

Keahlian mendakinya bertambah ketika ia bertemu dengan seseorang yang dikaguminya, seorang ahli vulkanologi yang bekerja ‘menjaga’ Gunung Tengger, Bromo dan Semeru. “ Namanya pak Yanto, beliau sudah almarhum,” tutur Ading.

Dari Yanto-lah, Ading mendapat pelajaran tentang teori mendaki dan segala hal tentang gunung. “ Sejak saya mendapatkan ilmu lebih dalam tentang gunung, saya makin gila dengan gunung,” katanya.

Nah, Ading sudah berapa kali mendaki gunung?

“Tak terhitung. Ini hanya yang saya ingat saja ya..” ujar Ading sembari mengerutkan dahinya.

“Gunung Ciremai, 24 kali.”

“Gunung Gede dan Pangrango, tiga kali.”

“Gunung Kumbang, Jawa Tengah, satu kali.”

“Gunung Selamet, Jawa Tengah, tiga kali.”

“Gunung Sindoro- Sumbing, tiga kali.”

“Gunung Merbabu, dua kali.”

“Gunung Merapi, dua kali.”

“Gunung Ungaran, satu kali.”

“Gunung Lawu, enam kali.”

“Gunung Wilis, Jawa Timur, satu kali.”

“Gunung Arjuna dan Welirang, empat kali.”

“Gunung Argopuro, dua kali.”

“Gunung Rengganis, dua kali.”

“Gunung Raung, satu kali.”

“Gunung Agung, Bali, satu kali.”

“Gunung Rinjani, Lombok, satu kali.”

“Gunung Dempo, Sumtra, sekali.”

Sebagai pecinta gunung, Ading rata-rata mendaki gunung tiga kali dalam satu bulan. Dia selalu membayangkan apabila sedang minum kopi panas, saat sendiri atau bersama kawan, selalu ia bayangkan kenikmatan minum kopi di pegunungan.

“ Tak terbayangkan nikmatnya minum kopi di gunung, apalagi sesaat sesudah hujan reda,” jelas Ading puitis dengan wajah menerawang ke atas.

Mendaki gunung, telah menjadi salah satu solusi Ading ketika menghadapi masalah hidup.

“ Jika pusing kepala karena masalah, saya akan minta ijin istri dan mertua untuk mendaki gunung,” ujarnya.

Saat ini saja, Ading mengaku ada masalah yang sedang menghimpitnya. Ia terjerat hutang sebanyak 15 juta rupiah. Bagaimana ceritanya?

“ Sebagai pengasong, saya punya mimpi memiliki toko sembako di kampung…” urai Ading menuturkan hari-hari apesnya sebagai seorang pedagang.

Di kampung Ading memilki sebuah tempat untuk berdagang sembako. Untuk stok barang, ia mengambil sembako dari berbagai toko grosir sembako. Ada gula, beras, minyak, susu, dan sebagainya. Untuk pembayaran ia cicil dari hasil penjualan.

Pengalaman bisnisnya yang belum matang, membuatnya ia membiarkan para pembeli berhutang kepadanya. Akibatnya, piutang Ading menumpuk di luar, dan tak tertagih. Ia pun kesulitan mencicil hutangnya kepada para pemasok barangnya.

“ Saya menyatakan pailit. Saya mulai dari nol lagi, kembali menjadi pengasong di Jakarta, untuk membiayai hidup saya dan keluarga, serta mencicil hutang,” katanya.

Kendati kini ia kembali ngasong, cita-citanya untuk jadi pedagang sukses masih menyala-nyala. “ Aku masih bersemangat merebut mimpiku kembali,” tegasnya.

Ading merasa dirinya punya bakat bisnis. Ijasah SD yang ia pikir tak bisa diandalkan, membuatnya berpikir, peluangnya untuk jadi orang sukses adalah dengan cara berdagang.

Soal bakat bisnsnya ini, Ading punya cerita yang tak akan dilupakannya.

Suatu ketika di Kediri, Jawa Timur, masyarakat pernah geger gara-gara muncul sosok-sosok manusia yang berpakaian mirip Ninja yang membunuhi para ulama NU.

Konon, para ninja ini sangat pandai bermain silat dan sakti. Di kalangan para pelindung keselamatan para ulama NU, tersiar kabar bahwa kelemahan para ninja ini adalah senjata yang terbuat dari rotan atau bambu kuning. “ Dari para jago silat, seperti Gus Maksum, ulama NU yang juga pendekar sakti, saya dapat informasi, senjata yang dibuat dari rotan atau bambu kuning bisa mengalahkan mereka,” ujar Ading.

Insting Ading bisnis pun jalan. Ia pun kulakan sekarung rotan, yang dipotong-potong sepanjang satu sampai setengah meter. “ Saya kulakan rotan karena mencari bamboo kuning tidak mudah. Setelah rotan terkumpul sekarung, saya taruh di depan kediaman Gus Maksum, yang akhirnya dibeli ramai-ramai oleh para tamu maupun murid-murid Gus Maksum, yang kemudian rotan itu oleh para pembeli dimintakan doa-doa kepada Gus Maksum, agar bisa dipakai untuk melawan para ninja,” kata Ading.

Hari itu, Ading mampu menjual dua karung rotan.  Hari itu, ia untung besar!

Aksi Kemanusiaan

Inilah sisi menarik lain dari seorang Ading.

Dalam situasi dunia aman sentosa, Ading akan menjalani hari-harinya sebagai seorang pengasong. Sesekali ia, dua atau tiga kali, dalam sebulan, ia mendaki gunung.

Namun ketika ada bencana melanda negeri, Ading akan meninggalkan itu semua: menjelma menjadi seorang relawan aksi kemanusiaan.

Kecintaan barunya ini ia dapat enam tahun yang lalu, saat perjumpaan pertama kalinya dengan sebuah lembaga yang berhidmat dalam aktivitas kemanusiaan, Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Namun, diakui Ading, sebelum berjumpa dengan lembaga yang berkantor di Ciputat, Banten, ia sudah pernah terlibat beberapa kali dalam aksi-aksi kemanusiaan. “ Saya biasanya ikut kegiatan kemanusiaan yang diprakarsai oleh kelurahan atau tentara,” tuturnya.

Perjumpaannya dengan ACT, ketika terjadi tsunami Pangandaran, tahun 2006. Melihat sepak terjangnya yang luar biasa, ACT menawarkan Ading untuk bergabung dengan ACT sebagai relawan. Ajakan itu disambut dengan antusias. Memang, orang bertipe seperti Ading — tangkas, pemberani, tanpa pamrih– sangat cocok bergabung dengan ACT.

Sejak saat itu, Ading tercatat sebagai anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), lembaga yang menghimpun para relawan Indonesia yang diinisiasi ACT.

“Mulai saat itulah, saya selalu menyiapkan diri untuk sewaktu-waktu dipanggil MRI-ACT untuk turun jika terjadi bencana di Tanah Air,” katanya.

Ading boleh disebut salah satu relawan ujung tombak Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk medan-medan bencana yang sulit ditembus. Keberanian pria kelahiran Cirebon Jawa Barat ini paling berani mengambil resiko bahaya untuk masuk ke daerah bencana.

Setelah direkrut ACT, Ading terlibat dalam aksi kemanusiaan di ragam peristiwa bencana seperti banjir bandang Situ Gintung, gempa Sumbar, sampai banjir bandang Wasior, Papua.

Bencana teranyar yang menimpa negeri ini adalah tragedi Sukhoi Superjet-100, yang menabrak Gunung Salak pada Rabu, 9 Mei 2012, di sekitar perbatasan Kabupaten Bogor-Sukabumi. Ada 45 orang yang ada dalam pesawat milik maskapai penerbangan Rusia yang diduga tewas dalam kecelakaan itu.

Berita itu pun menyebar ke seluruh negeri.

ACT, sesuai namanya , Aksi Cepat Tanggap, harus segera merespon berita itu secepat mungkin. Malam itu juga pihak Direktorat Program ACT, yang dikomandani Insan Nurrohman, segera mengontak para relawannya untuk turun.

Namun, mengingat medan yang diberitakan sangat sulit dan pihak berwenang yakni Basarnas, mengumumkan proses evakuasi baru dilaksanakan esok harinya, Pihak ACT segera berkoordinasi dengan para relawannya untuk berangkat Kamis pagi, 10 Mei 2012, untuk ikut membantu mengevakuasi para korban.

Ading yang saat itu sedang mengasong di kawasan pasar Senen, pun segera meninggalkan kehidupan normalnya, bergabung dengan enam relawan lainnya dari ACT berangkat ke Gunung Salak.

Jiwa petualangan dan rasa kemanusiaan Ading yang tinggi menggoreskan cerita yang juga luar biasa ketika menyusuri medan lokasi bencana jatuhnya pesawat Sukhoi.

Sayangnya, sosok Ading yang sesungguhnya sangat layak berita, kerap lolos dari sorot kamera atau jurnalis tulis.

Ading sendiri sebenarnya cuek dengan soal publikasi.

Namun, aku terlanjur kagum kepada Ading dan tim kecilnya yang bekerja dengan gigih tanpa pamrih.

Akan aku tuliskan bagaimana heroiknya Ading bersama relawan ACT lainnya menaklukkan Gunung Salak, yang diakui semua pihak, sebuah medan bencana berkategori ‘neraka’, demi menemukan jasad para korban, yang berserakan tanpa bentuk dalam radius satu kilometer, di bawah tebing Gunung Salak, perbatasan Bogor-Sukabumi . InsyaAllah bersambung. (DarutTaqrib/itoday/Adrikna!)

reportase dari kaki Gunung Salak, desa Cibuntu, Rabu (16/5), ApikoJM

No Response

Leave a reply "Ading, Relawan Kemanusiaan, Heroisme tanpa Sorot Kamera"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.