Kedamaian Sunni dan Syiah Di Jepara (1

3 comments 1973 views

Liputan Rofiuddin, wartawan Tempo

Bacaan Kumail jemaah Syiah terdengar berdengung menerobos keheningan malam dari Masjid Al-Husain, Candi Bangsri, Jepara. Di masjid yang terletak di tepi sungai itu, para jemaah duduk bersila menghadap kiblat sembari melantunkan bacaan dengan pengeras suara. Isi bacaan itu memuja Kumail bin Ziyad Nakha’i, sahabat pilihan Imam Ali.

Di belakang masjid, terdengar pula lantunan pembacaan salawat Dibaiyyah dan Barzanji, ciri khas warga Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni. Suara itu berasal dari Masjid Al-Arif, yang terletak kurang dari 100 meter dari Masjid Al-Husaini. Suara bacaan ibadah dua kelompok itu sahut-menyahut pada Kamis malam, 1 Maret lalu. Masjid Al-Husaini adalah masjid Syiah, sementara Masjid Al-Arif merupakan masjid Sunni.

Di Desa Candi, penganut Syiah dan Sunni hidup damai berdampingan. Misalnya, saat pendirian Masjid Al-Husaini, kaum Sunni ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, saat kaum Sunni mendirikan Masjid Al-Arif, kaum Syi’ah ikut membantu. Komposisi penduduk dukuh ini hampir merata antara penganut Sunni dan Syiah, yakni sekitar 70 keluarga penganut Syiah dan 70 keluarga Sunni.

Interaksi sosial berlangsung nyaris tanpa gesekan, termasuk soal peribadatan. Jika ada warga Sunni meninggal, warga Syiah ikut menyalatkan dengan cara Syiah. Begitu juga sebaliknya. Yang berbeda imamnya. Jika warga Sunni meninggal, imam salatnya penganut Sunni, begitu juga sebaliknya. Meski Jepara dikenal sebagai basis Sunni, terutama Nahdliyin, penganut Syiah tak lagi beribadah secara taqiyyah (sembunyi-sembunyi). Bahkan di rumah penganut Syiah juga terpampang lukisan tentang Syiah.

Sejarah perkembangan penganut Syiah di Jepara dan Jawa Tengah tak bisa lepas dari Desa Candi, Jepara. Awalnya, Ustaz Abdul Ghadir Bafaqih dari Tuban menikah dengan perempuan dari Desa Candi. Pada 1970-an, memang terjadi revolusi Iran, yang berpengaruh pada perkembangan Syiah, termasuk di Indonesia. Ghadir juga pernah belajar di Hadramaut, Yaman. Pada 1974, Ghadir banyak memperoleh kiriman buku dari Kuwait terbitan Darut Tauhid. Berbekal buku itu, Ghadir banyak bicara soal Syiah. Puncaknya, Syiah “dideklarasikan” pada 1982. Ghadir mendirikan Pesantren Al-Khairat.

Ahmad Badawi, generasi pertama murid Ghadir, menyatakan kala itu Al-Khairat hanya mengajarkan Bahasa Arab, yang bisa menjadi pintu masuk mempelajari kitab. Selain itu, Ghadir menelorkan beberapa karya, seperti Haqqul Mubin dan Muhammadun wa Akhuhu. Kedua karya itu menjadi rujukan dan sumber ideologi Syiah. Karena pondok itu terus berkembang, pemberitaan ihwal ajaran Syiah yang dibawa Abdul Ghadir pun meluas. Masyarakat menanggapinya biasa saja. Namun ada beberapa murid Abdul Ghadir yang dilaporkan ke Komando Distrik Militer karena dianggap berbeda.

Miqdad Turkan, murid Ghadir lainnya, mengatakan gurunya adalah penganut Sunni. Para santrinya juga banyak dari kalangan Sunni, terutama Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyyah. Belakangan, kata Mihdad, sebagian santrinya ada yang tetap beraliran Sunni dan ada pula yang beralih ke Syiah. “Sejak itulah Syiah di Candi berkembang. Santrinya meluas dari berbagai daerah. Kabar tentang adanya pesantren Syiah pun menyebar,” kata Miqdad.

Setelah 10 tahun mengelola pesantren itu, Ghadir memasuki usia sepuh. Dia sering sakit. Pesantren itu mulai berkurang aktivitasnya. Akhirnya Ghadir wafat pada 17 Agustus 1993. Dia dimakamkan di Kauman, Bangsri. Setelah itu, kegiatan pesantren mandek. Pesantren pun tutup karena tak ada yang mengurus. Makam Ghadir terletak berdampingan dengan makam istrinya. Berdiri di atas bangunan berbentuk panggung joglo seluas dua kali lapangan bulu tangkis, makam Ghadir selalu ramai dikunjungi peziarah.

Karena anak-anak Ghadir belum sempat melanjutkan perjuangan Syiah, pada 1999, murid Ghadir berinisiatif mendirikan Yayasan Islam Darut Taqrib di Krapyak, Jepara. Mereka tidak ingin melihat ajaran Syiah tinggal sejarah karena tak ada regenerasi. Selain itu, saat itu banyak Ahlul Bait–sebutan bagi penganut Syiah–sudah pulang menimba ilmu dari Qum University, Iran.

Setelah itu, didirikanlah Pondok Pesantren Darut Taqrib untuk menampung santri yang ingin mempelajari Syiah. Berdiri di atas lahan seluas kurang dari 1 hektare, bangunan pondok itu terdiri atas masjid, pendapa, dan kamar santri. Selain membawahi pesantren, penganut Syiah membentuk berbagai forum seperti Fatimiyyah (pengajian ibu-ibu), Zainabiyyah (pengajian remaja putri), Forum Ilmiah Remaja Ahlul Bait (Firab). Di bidang sosial, Syiah juga punya Himpunan Peduli Komunitas Masyarakat. Pesantren Darut Taqrib merupakan salah satu arena pendidikan Syiah. “Pendidikan ini adalah salah satu bentuk kaderisasi,” kata Miqdad, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia.

Kini, Darut Taqrib dihuni sekitar 40 santri. Tak hanya dari Jepara, santri juga datang dari berbagai provinsi di Indonesia seperti Lampung dan Jawa Timur. Ada yang hanya mondok dan ada pula yang sambil bersekolah di sekolah umum. Abdullah, misalnya, ia bersekolah di sekolah menengah kejuruan dan mondok untuk mempelajari Syiah. Miqdad menyatakan dana operasional Syiah berasal dari iuran anggota. “Tak benar jika ada yang menyebut kami dapat dana dari Timur Tengah,” katanya. (DarutTaqrib/koran Tempo/Adrikna!)

3 Responses
  1. author

    Azis Muslim6 years ago

    Sunni dan syi’ah selamanya tak akan pernah bersatu. Sebab syi’ah bukanlah agama islam. Syi’ah adalah agama penebar kebencian dan kemunafikan. bila mereka sedikit maka mereka berbohong/bersembunyi bila merasa sudah banyak dan merasa kuat baru ketahuan sifat aslinya. Sudah saatnya pemerintah dan para da’i islam bersama untuk menghadang bahaya syi’ah yang semakin menjadi.

    Reply
  2. author

    Budiman6 years ago

    Semoga dg daarut taqrib, sunni-syiah lebih saling memahami.

    Reply
  3. author

    Budiman6 years ago

    Bhineka Tunggal Ika adalah ciri budaya bangsa.

    Reply

Leave a reply "Kedamaian Sunni dan Syiah Di Jepara (1"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.