Syafii Ma`arif : konflik Israel-Palestina persoalan kemanusiaan

Konflik Israel-Palestina merupakan persoalan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab semua orang, kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma`arif.

“Jadi, konflik itu bukan semata-mata persoalan dua etnis yang berbeda, bangsa Arab atau umat Islam. Persoalan itu menuntut tanggung jawab bukan hanya orang Palestina, Arab, atau Islam, tetapi juga orang-orang Yahudi,” katanya di Yogyakarta, Selasa.

Oleh karena itu, menurut dia pada diskusi “Great Thinkers: Israel, Palestina, Islam, dan Perdamaian, Diskusi Pemikiran Gilad Atzmon”, sikap negara-negara Arab yang ikut membiarkan konflik tersebut berlarut-larut patut disayangkan.

“Ada kesan pembiaran agar konflik Israel-Palestina berkepanjangan, sehingga mereka akan mengambil untung dari konflik tersebut, seperti naiknya harga minyak dunia. Konflik yang terjadi juga disebabkan munculnya masyarakat pendatang di luar bangsa Israel dan Palestina,” katanya.

Ia mengatakan konflik itu bukan semata-mata dari bangsa Israel dan Palestina, tetapi juga hadirnya masyarakat pendatang yang ikut membuat konflik tersebut masih saja terjadi.

Dengan demikian, kata dia, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Bangsa Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim untuk membantu menyelesaikan konflik kedua pihak. Namun, dirinya tetap mendukung berbagai upaya yang dilakukan berbagai pihak di Indonesia seperti memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.

“Selama kita masih berkutat pada persoalan domestik yang tidak pernah usai seperti korupsi, maka kita tidak bisa berbuat banyak, kecuali pemberian bantuan kemanusiaan,” kata Syafii.

Pemerhati masalah Timur Tengah dan dunia Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Ibnu Burdah mengatakan orang Yahudi itu belum tentu warga negara Israel dan orang Israel itu belum tentu zionis.

Menurut dia, ada banyak catatan yang menunjukkan bahwa gerakan zionis itu hingga sekitar dua dekade setelah dicetuskan di Basel tetap sedikit pengikutnya dan tidak ada tanda-tanda gerakan itu akan mencapai tujuannya, yakni mendirikan negara Israel di Palestina.

“Bahkan, gerakan itu menghadapi penolakan dari sebagian besar aliran dalam agama Yahudi karena memandang gerakan itu sebagai bid`ah (penyimpangan agama) dan menciptakan berhala baru,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, tidak janggal jika saat ini banyak kelompok warga Israel yang tidak menerima bahkan mengutuk negara Israel dan tetap tinggal di Israel seperti Neturei Karta, Satmar Hasidism, dan Edah Haredit.

“Dengan demikian, orang zionis sesungguhnya adalah minoritas di Israel, tetapi mereka berkuasa dan zionisme menjadi ideologi negara. Ideologi itu terus `dipaksakan` kepada rakyatnya melalui berbagai instrumen negara termasuk ke `yeshivot` (semacam pesantren) di Israel,” katanya.

Gilad Atzmon adalah tokoh Yahudi yang juga musisi jazz kelas dunia berkewarganegaraan Inggris kelahiran Tel Aviv, 9 Juni 1963. Gilad mempertanyakan ideologi zionisme dan menyuarakan kemerdekaan negara Palestina.

Bahkan, pemikiran Gilad berbeda dengan arus besar opini publik dunia yang menginginkan solusi dua negara, yakni Israel dan Palestina.

Gilad bersikukuh bahwa hanya ada satu negara yang boleh berdiri di tanah Palestina, yakni negara Palestina, sehingga Israel dengan ideologi zionismenya harus angkat kaki dari negara tersebut.

No Response

Leave a reply "Syafii Ma`arif : konflik Israel-Palestina persoalan kemanusiaan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.