Reportase Muharram 1433 H: Malam 10

1 comment 616 views

Malam ke-10, asyura’ (05/12-11)

Pada malam ini, majlis aza Imam Husain Jepara difokuskan pada satu tempat saja, yakni musholla Al-husaini Candi Banjaran. Suasana duka sudah tertangkap ketika memasuki lokasi acara. Para pecinta Ahlulbayt Jepara mendatangi mushola dengan menggunakan busana hitam-hitam, sebagai tanda duka cita yang mendalam atas tragedi yang menimpa keluarga Nabi saw di padang Karbala. Adalah Ustadz Abdullah Som Assegaf selaku pembicara. Beliau membuka ceramah beliau, pada acara yang dibuka dengan lantunan ayat suci al-quran itu, dengan memberikan suntikan motivasi kepada hadirin, ‘Anda sekalian adalah orang yang beruntung. Anda akan dikumpulkan dengan para auliya’ (kekasih) Allah, melalui majlis ini.’ Beliau juga menekankan bahwa kekerabatan ruhani yang menghubungkan kita dengan Imam Husain as adalah anugrah besar.

Beliau kmudian mulai menyampaikan ceramah inti beliau. Beliau menyorot alasan kebangkitan Imam Husain as. Menurut beliau, kebangkitan Imam Husain as bukan semata-mata karena karena kelaliman Yazid la. Sejarah mencatat, para Aimmah suci tidak melakukan pengorbanan seperti Imam Husain, padahal Bani Umayyah dan Bani Abbas sama-sama lalimnya. Beliau kemudian mulai menjelaskan :

  • Alasan kebangkitan Imam Husain as adalah untuk melakukan perbaikan (islah) pada umat kakek beliau.
  • Perbaikan (islah) adalah tugas para Nabi serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka.
  • Islah itu ada dalam seluruh sisi kehidupan. Ekonomi, budaya, sosial maupun politik perlu islah.
  • Sempurnanya islam karena seluruh dataran kehidupan manusia diatur oleh Allah swt.
  • Perang Imam melawan Yazid, secara fisik bersifat kondisional, namun pada hakikatnya, peperangan itu adalah peperangan antara keimanan melawan kekufuran yang akan terus berlangsung.
  • Oleh karena itu, kullu yaumin asyura, kullu ardhin karbala (asyura kapan saja, Karbala di mana saja).
  • Maka, setiap hari harus ada semangat Husaini untuk menegakkan keadilan di muka bumi.
  • Imam Husain as menyambuk Umat Muhammad dengan sejarah untuk mengedepankan islam dari pada keluarga, harta, dst.

Setelah mendengarkan ceramah, para hadirin dibawa kembali menuju Karbala lewat pembacaan maqtal oleh Ustadz Miqdad Turkan. Tradisi yang dijaga sejak ribuan tahun lalu itu tak pernah using. Para hadirin tak pernah merasa bosan menitihkan airmata ketika mendengar kronologi singkat perang tak seimbang antara pasukan Imam Husain as melawan pasukan Yazid yang terkutuk. Para hadirin kemudian berdiri bersama-sama untuk mendengarkan lantunan ma’tam yang dinyanyikan dengan sangat menarik oleh Sayyid Hasan Al-mahdali. Meski malam semakin larut, para hadirin tetap bersemangat untuk mengikuti rangkaian acara pada malam itu yang ditutup dengan pembacaan ziarah yang dipimpin oleh Ustadz Alam Firdaus. (DarutTaqrib/alamsyah/@drikna!)

 

One Response
  1. author

    yoyok Abdurrahman8 years ago

    Assamalualaikum
    Bismillahirrohmanirrohim

    Saya bangga bisa hidup berdampingan diantara 2 keyakinan dengan damai,

    Saya asli anak desa candi ngemplak
    biarpun saya merantau di jakarta saya tetep komunikasi sama keluarga di kampung terutama sama ibu dan bapak saya .selalu mengaji dan baca al qur,an itu pesan almarhum dade saya ,Dade Shauban .

    Salam
    Perdamaina
    Putra Candi Ngemplak

    Yoyok Abdurrahman
    E mail. yoyokberkarya@gmail.com

    Reply

Leave a reply "Reportase Muharram 1433 H: Malam 10"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.