Imam Husein as; Inspirator Kebangkitan

Ketika pertama kali pecahnya protes terhadap para penguasa boneka di negara-negara Timur Tengah, kebanyakan pihak berpendapat bahwa gerakan itu hanya bersifat temporal dan bernuansa nasionalisme. Namun saat pekikan Allahu Akbar memenuhi jalan-jalan di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Bahrain, serta bundaran-bundaran di negara-negara Islam disesaki oleh barisan shalat kelompok revolusioner, kini hanya sedikit yang berani mengingkari aspek Islami kebangkitan tersebut.

 

Pada dasarnya, kebangkitan Islam merupakan sebuah gerakan kuat dan energik untuk melawan hegemoni pemikiran, politik, dan ekonomi Timur dan Barat. Kebangkitan yang menyerukan kembali kepada Islam, telah menjadi faktor lahirnya sejumlah gerakan Islam dan membentuk kondisi baru. Fenomena ini selain tidak bersifat dadakan, juga telah membuat kaum imperialis kebingungan dalam mengindentifikasinya apalagi melawannya. Mereka menghadapi kondisi yang sangat rumit dan perubahan yang begitu cepat.

 

Budaya dan nilai-nilai internal gerakan itu selain sesuai dengan fitrah manusia, juga lebih unggul dan tangguh dari kultur dan nilai-nilai materi. Orang-orang yang menganalisa masalah hanya bertumpu pada dataran teori-teori materialistik Barat, tentu saja tidak akan memahami realita tersebut. Proses perluasan kebangkitan Islam juga telah memberikan peluang kepada agama-agama lain untuk secara bertahap memainkan peran politik dan sosialnya. Lebih penting dari itu, isu agama telah menjadi salah satu tema yang diperbincangkan di kancah internasional.

 

Kini, istilah-istilah seperti Islam politik dan Islam revolusi telah menggantikan teori-teori seperti Komunisme, Blok Timur dan Barat. Sekarang, mayoritas analis sedang berupaya memahami akar dan faktor-faktor kebangkitan Islam. Jelas bahwa sebuah urgensitas untuk memperhatikan pondasi-pondasi pemikiran dan ideologi umat Islam guna memahami kebangkitan-kebangkitan seperti itu.

 

Meski revolusi Islam di Iran merupakan salah satu hasil gemilang perang melawan hegemoni dan ketidakadilan dalam setengah abad terakhir, namun revolusi besar itu terinspirasi dari gerakan dan kebangkitan Imam Husein as. Gerakan manusia suci ini telah mengubah pandangan seseorang tentang kehidupan, memberi penafsiran baru tentang hidup, membentuk manusia untuk menerima kebenaran, memupuk semangat untuk menuntut keadilan dan kebebasan serta melukiskan keagungan manusia.

 

Pada masa itu, keberadaan manusia-manusia tiran dan bengis seperti Yazid bin Muawiyah, akan menghancurkan kehidupan masyarakat dan menyeret mereka ke jurang kehinaan serta menghalangi mereka untuk menikmati kehidupan yang baik. Imam Husein as mencetuskan kebangkitan Karbala dan memilih kematian secara sadar untuk mengembalikan manusia kepada kehidupan yang bahagia. Dampak jelas kebangkitan itu adalah hubungan erat antara agama dan politik serta partisipasi pemimpin agama dalam menentukan nasib sebuah masyarakat dan mengarahkan mereka kepada kehidupan ideal, mulia dan bahagia.

 

Menurut perspektif Imam Husein as, kehidupan atas landasan kemuliaan insani dan indah, adalah sebuah karunia Allah Swt yang telah dijamin kepada seluruh umat manusia. Oleh karena itu, agama mengecam penghalalan segala cara untuk menghancurkan kehidupan seseorang. Mereka yang terzalimi dan ditindas juga wajib melakukan kebangkitan. Menurut kitab suci al-Quran, mereka yang tidak berbuat seperti itu, maka telah menzalimi dirinya sendiri. Dalam surat an-Nisa ayat 97, Allah Swt berfirman: “(kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di muka bumi.” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

 

Kebangkitan suci Imam Husein as laksana pelita yang menerangi kegelapan, keputusasaan, dan pesimisme. Gerakan itu telah membawa cahaya, wawasan, dan kearifan. Cucu baginda Rasulullah Saw itu juga telah menghancurkan belenggu kehinaan yang melilit umat manusia melalui kebangkitannya dan memberi identitas kepada masyarakat Islam. Oleh sebab itu, perkembangan kesadaran manusia dapat disaksikan dalam setiap tahapan kebangkitan Imam Husein as. Hur bin Yazid ar-Riyahi, termasuk salah seorang yang memahami kebenaran misi Imam Husein as dan akhirnya bergabung bersama beliau.

 

Kebangkitan Imam Husein as melawan pasukan besar Yazid secara lahir tidak dimenangkan oleh beliau, tapi kesyahidan Imam Husein as secara serius telah mengguncang masyarakat Islam. Imam as telah meniupkan ruh perjuangan dan pengorbanan dalam jiwa mereka. Beliau juga telah meruntuhkan benteng perbudakan yang diciptakan oleh rezim Umaiyah. Pasca peristiwa memilukan itu, masyarakat mulai sadar bahwa kebenaran ada bersama Ahlul Bait as, sementara pemerintah despotik Umaiyah selain tidak memegang prinsip dan nilai-nilai Islam, juga sebuah rezim fasik dan tiran, yang ingin menyeret masyarakat Islam pada kebodohan.

 

Setelah pengorbanan Imam Husein as, gelombang kebencian menyeruak menghantam pemerintahan Bani Umaiyah. Masyarakat Muslim Irak dan Madinah mulai sadar dan menyatakan penyesalan mendalam karena tidak membela putra Rasul Saw. Perlahan, badai kebangkitan masyarakat Islam menyapu Jazirah Arab dan menciptakan peluang bagi lahirnya kebangkitan Tawwabin (orang-orang yang bertaubat) dan Mukhtar serta kebangkitan-kebangkitan lain.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menilai reformasi, amar makruf dan nahi munkar, perjuangan, pengorbanan, dan persatuan sebagai perjalanan penting Asyura. Dan yang lebih penting dari itu adalah lahirnya kesadaran dan kearifan di tengah masyarakat. Ayatullah Khamenei mengatakan, “Asyura mengajarkan kepada kita bahwa dalam membela agama, kearifan lebih penting bagi manusia daripada hal-hal lain. Mereka yang tidak punya kearifan, tidak pernah tahu sedang tertipu dan akhirnya bergabung dengan front kebatilan. Sebagian orang yang bertempur di front Ibnu Ziyad, bukan golongan fasik, tapi mereka tidak punya kearifan.”

 

Revolusi Asyura merupakan lembaran emas dalam sejarah Islam, yang tidak mungkin dilupakan. Kebangkitan Imam Husein as pada tahun 61 H adalah universitas kepahlawanan dan kebebasan, yang akan dikenang sepanjang sejarah. Hingga kini, slogan-slogan kemuliaan dan kebebasan yang didengungkan Imam Husein as masih terdengar dan membahana di setiap gerakan kebangkitan. Slogan-slogan itu antara lain, “Kehinaan jauh dari kami” “Aku lebih mengutamakan kematian daripada hidup dengan kehinaan.”

 

Mereka yang menilai kemuliaannya ada pada kebangkitan menuntut kebenaran dan keadilan, tidak pernah takut terhadap kekuatan penguasa dan bala tentara yang sedikit. Mereka secara jujur akan bangkit melawan kezaliman dan menuntut kebebasan. Jika mereka tidak mampu melawan penguasa tiran dengan kekuatan militer, mereka akan membentuk gerakan untuk mempertontonkan keberanian, kepahlawanan, dan pengorbanan. Mereka akan memilih mati syahid demi mempersembahkan kehidupan kepada umat manusia.

 

Kini, orang-orang yang berakal sehat akan tunduk di hadapan pribadi-pribadi seperti Imam Husein as. Ulama besar dan penulis buku “Sharh al-Ushul al-Khamsah,” Abdul Jabbar Muktazili mengatakan, “Untuk memperbaiki dan menyadarkan masyarakat, jika amar makruf dan nahi munkar akan mengancam keselamatan seseorang, maka kewajiban itu akan gugur darinya. Kecuali, aksi itu akan membawa kemuliaan agama dan penyadaran Muslim.”

 

Dia menambahkan, “Kebangkitan Husein bin Ali as juga harus ditafsirkan seperti itu. Kesabaran dan pengorbanan beliau telah mempersembahkan kemuliaan besar kepada agama Allah Swt. Kita umat Islam patut berbangga atas umat-umat lain dengan kebangkitan Imam Husein as. Sebab, hanya Imam Husein as satu-satunya yang tersisa dari keturunan Rasul Saw, tapi beliau tidak meninggalkan amar makruf dan nahi munkar, sampai-sampai beliau gugur syahid di jalan itu.”(DarutTaqrib/IRIB/@drikna!)

No Response

Leave a reply "Imam Husein as; Inspirator Kebangkitan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.