Penjara Gaza, Rusaknya Peradaban

No comment 653 views

Gaza yang belum pernah dijamah oleh media Israel – disebut media sebagai penjara terbesar di dunia. Tentu semua sepakat bahwa Jalur Gaza memang penjara bagi semua warga di dalamnya akibat blokade kejam dan tak manusiawi. Namun ada juga penjara terbesar di dunia ini yaitu dunia itu sendiri. Bumi ini sudah diubah oleh globalisasi dan kapitalisme dengan taring beracunnya sehingga ‘tidak berputar’ pada porosnya,  ‘tidak berputar di sumbu matahari’.

Dunia ini sudah dikendalikan oleh gedung Pentagon. Kebun-kebun rumah jadi hitam baik di Irak atau tempat lainnya, akibat ladang percobaan senjata pemusnah massal. Dunia ini sudah berubah menjadi penjara setelah kebebasan disita dari manusia yang jumlahnya mendekati 7 milyar. Mereka dikekang dari tiga jenis kebebasan disamping kebebasan politik; kebebasan perpindahan tubuh kita yang diperiksa dan direkam kamera di setiap perlintasan negara. Kedua, kebebasan lalu lintas informasi; sampai data yang ada di otak dan hati kita pun diperika. Ketiga kebebasan berfikir. Kini sekarang ada orang yang berfikir telah mewakili pemikiran kita kecuali mewakili kematian.

Ada saatnya para pesakitan di balik jeruji besi dan wilayah terblokade menjadi orang satu-satunya yang merdeka sebab mereka tidak tertipu oleh kebebasan manipulatif. Sebagaimana ada saatnya bangsa terjajah menjadi satu-satunya bangsa merdeka sebab jumlah mereka sama persis dengan daging, darah dan senjata mereka, tak ada kedok di sini dan mereka bebas menentukan nasib mereka melakukan perlawanan terhadap penjajah, mereka tanpa harus didikte pihak lain. Ini berbeda dengan penjajahan lain yang menggunakan berbagai kedok dan nama samaran. Karenanya, seorang budayawan Maroko Abdul Lathif Al-La’bi mengatakan bahwa bangsa Palestina adalah paling bebas di banding bangsa-bangsa lain, namun tak ada orang yang tahu.

Dari sisi perjalanan politik, alangkah mirip planet ini dengan ladang binatang, dan binatang itu adalah manusia itu sendiri. George Oreal pernah memprediksi pertukaran peran antar manusia. Perkiraannya benar ketika dia menulis artikelnya dengan judul 1984 dan ditulis tahun 1948 dimana suatu saat kata-kata itu dipahami dengan makna sebaliknya. Kata cinta bermakna benci, perdamaiaan bermakna peperangan, penjajahan bermakna pembebasan. Bahkan 2+2=5 bahkan lebih berlipat-lipat.

Palestina tepatnya di Jalur Gaza yang kini sedang diblokade dan diembargo dunia tidak bisa disebut sebagai penjara terbesar atau terkecil. Meski Jalur Gaza adalah penjara, namun di sanalah kebebasan itu lebih bersemanyam di banding di tempat lain. Karenanya, Sarter dalam bukunya “Republik Diam” di masa penjajahan Nazi mengatakan kepada Perancis, “Kami bukanlah orang merdeka seperti kami di bawah penjajah. Sebab kami bukanlah orang Perancis sebagaimana pada saat itu, karena sekadar tulisan “Perancis” maka seseorang harus membebani hidupnya.” Inilah yang dilakukan Mahmud Darwis ketika meminta maaf tidak membaca puisinya, “Tulislah “aku bangsa Arab” di Ibukota Arab.”

Dia bilang, “Nilai puisi ini karena ia ditulis dan dibaca di Palestina di bawah penjajah Israel. Namun ia memiliki makna lain jika di tulis dan dibaca di tempat lain.”Harus kita ingat bahwa penjara terkecil di dunia ini bukanlah sel besi dan alat siksa atau beton penjara. Namun penjara terkecil adalah jasad atau raga tempat tinggal kita ketika kita tertawan dan tersandera oleh naluri (nafsu) dan hanya ingin menjadi safety player semata tanpa mau menanggungung risiko dalam berjuang.Khairi Mansour(bsyr). (DarutTaqrib/VOP/sa)

No Response

Leave a reply "Penjara Gaza, Rusaknya Peradaban"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.