Menyulut Bom Waktu

No comment 714 views

Sekitar sepekan menjelang bulan puasa, Selasa, 2 Agustus 2011, Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak menampik jika ada lonjakan harga-harga dan kebutuhan pokok menjelang bulan Ramadhan tahun ini.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Gunaryo bilang; “Yang kalian lihat kan itu data-data (harga) kemarin, pas menjelang puasa. Saya kira itu wajar saja, sebab kalau kita lihat itu kan tradisi. Jadi soal kenaikan itu, karena memang masyarakatnya saja yang ingin mengkonsumsi telur dan daging untuk berbuka puasa, jadi mereka belinya diatas rata-rata,” tukas Gunaryo, lapor inilah.com.

Permasalahan kenaikan harga-harga dan kebutuhan pokok tidak hanya dialami Jakarta, tetapi juga semua daerah di Indonesia. Namun, dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, Jakarta termasuk yang sejahtera. Lapor RMOL, Senin, 08/08/2011.

Ironis! Apa arti tradisi ini pak Kemendag? Seperti pepatah, pemerintah nampaknya mengadopsi kebijakan ‘tiba masa, habis akal’; selalu gelagapan di saat harga-harga pangan bergerak menyundul langit. Tapi tidakkah trend naik dan menaikkan harga pangan adalah sesuatu yang telah diperkirakan orang banyak jauh-jauh hari? Termasuk Kemendag ? Apa yang membutakan pemerintah selama ini?

Mengapa pemerintah selalu menggunakan jurus instant dalam menekan kenaikan harga–harga pangan?

Ini ironi lainnya: di antara bahan makanan yang harganya menyundul langit adalah beras, makanan pokok orang hampir setanah air. Tapi kenapa pejabat seperti begitu malas berpikir? Kenapa di saat harga beras, sayur mayur, telur, daging, minyak goreng dan aneka pangan lainnya melonjak drastis, pemerintah malah bilang tradisi? Kenapa di saat daya beli orang banyak merosot, pemerintah justru lebih memilih membela konglomerat kaya raya yang kerap membenturkan harga-harga pangan pokok ke langit?

Padahal, rakyat kecil adalah jantung pemerintahan, power dan pondasi kekuatan negara, rakyat adalah denyut nadi kehidupan sebuah negara.

Jika pemerintah tak bisa menurunkan dan mengontrol harga, lantas apa guna mereka digaji berpuluh-puluh juta sebulan? Kemana lagi petani dan peternak, tukang ojek, nelayan dan mereka yang dimiskinkan bakal mengadukan besarnya tekanan kenaikan harga-harga di pasar jika pemerintah telah berlepas tangan? Karena tradisi? Dimana jenderal-jenderal ekonomi didikan Amerika itu mengorbit?

Indonesia negara agraris. Lebih dari separuh penduduk hidup dari pertanian. Tapi hari-ini jelas hari pesta besar segelintir pengusaha dan konglomerat pengimpor bahan pangan. Sebab pemerintah tak malu-malu mengatakan, jika keta­ha­nan pa­ngan bisa diatasi dengan cara instant,- impor pa­ngan secara besar-besaran.

Nampaknya pemerintah tengah menyulut sumbu bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Kemiskinan beranak pinak dengan semakin melebarnya ketidak adilan di tegah masyarakat. Apakah pemerintah benar-benar sedang menyulut sumbu dan tak sabar menanti pecahnya revolusi sosial?

Ah, begitu banyak hal yang bikin orang frustasi di negeri ini. (DarutTaqrib/Islam Times/sa)

No Response

Leave a reply "Menyulut Bom Waktu"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.