14 Perusahaan Migas Asing Bermasalah,DPR Usut Mafia Pajak

Tunggakan pajak 14 perusahaan migas asing sarat kejanggalan. Kejanggalan itu mengindikasikan adanya modus penggelapan.

Menurut Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo, hanya mafia pajak yang bisa merekayasa modus penggelapan pajak seperti itu. “Karena itu, saya mendesak KPK mendalami berbagai kejanggalan dalam kasus ini. Identitas perusahaan penunggak pajak memang harus diungkap, tetapi jauh penting adalah menginvestigasi peran mafia pajak di balik kasus ini, ” katanya.

Penyelidikan itu, lanjutnya, jangan hanya difokuskan pada peran oknum di kantor Ditjen Pajak, melainkan juga pada kementerian dan institusi lain yang mengawasi operasi perusahaan migas di dalam negeri.

“Saya melihat mafia pajak memanfaatkan lemahnya pengawasan terhadap mekanisme penagihan pajak. Selain itu, dari  Pasal 22 Ayat 1 UU No.28/ 2007 tentang Tata Cara Perpajakan, mafia pajak melihat ada celah untuk melakukan penggelapan pajak.”

Sebab, pasal itu menyatakan, hak menagih pajak kadaluwarsa jika melampaui lima tahun. Kalau tunggakan pajak belasan perusahaan itu berlangsung selama bertahun-tahun, jelas bahwa tunggakan itu memang didisain oleh mafia pajak.

“Menjadi janggal jika riwayat tunggakan dengan rentang waktu sepanjang itu lolos dari pantauan para pejabat Ditjen Pajak. Apalagi jika nilainya sampai Rp1,6 triliun.”

Kejanggalan berikutnya adalah tunggakan itu bersama-sama dilakukan oleh belasan perusahaan asing di sektor migas. Model kasus seperti ini bisa dibilang  jarang terjadi atau langka. Kalau belasan perusahaan itu bergerak di berbagai bidang usaha. Dengan demikian kasusnya menjadi tidak janggal.

Fakta ini bisa menjadi pembenaran terhadap sinyalemen yang berkembang selama ini mengenai adanya “peternakan” wajib pajak. Artinya, mafia pajak sudah menjadikan belasan perusahaan asing sektor migas itu sebagai ternak untuk melakukan penggelapan pajak. (DarutTaqrib/inilah.com/sa)

No Response

Leave a reply "14 Perusahaan Migas Asing Bermasalah,DPR Usut Mafia Pajak"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.