Baksos Santri Di Pulau panjang

No comment 588 views

Dalam sejarah tercatat bahwa imam Ali bin Abi Thalib as adalah pribadi yang handal dalam segala hal. Selain beliau terkenal sebagai prajurit tangguh, beliau juga terkenal sebagai ahli menanam dan penggali sumur yang ulung. Beliau banyak menggali sumur yang kemudian diwakafkan untuk kepentingan umat islam.

Berangkat dari kaidah yang mengatakan ‘pecinta akan mengikuti yang dicintai’, ponpes Darut-taqrib melakukan bakti sosial (baksos) di pulau Panjang berupa membersihkan pulau tersebut dari sampah-sampah, pada hari minggu (20/3). Kegiatan baksos ini merupakan salah satu bukti cinta kita kepada imam Ali as. Dimana, selaku pecinta beliau, kita mencoba untuk mengikuti langkah beliau yaitu melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama.

Meski kegiatan baksos dilakukan pada hari minggu, namun pada sabtu sore kami berangkat menuju lokasi. Pasalnya, selain baksos, kami juga mengagendakan kegiatan lain, yakni berkemah. Ya, dengan berkemah, kami sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari dan bersatu dengan alam.

Butuh 15 menit untuk sampai ke pulau Panjang dengan menggunakan kapal. Pulau yang dihuni tidak lebih dari 10 orang ini, sejatinya merupakan salah satu objek wisata yang ada di Jepara. Namun sungguh disayangkan, pulau ini masih jauh dari kesan indah dan rapi.  Paving block yang mengitari pulau sebagiannya tertutupi dedaunan kering dan semak-semak yang tak terurus. Di pulau kecil ini juga terdapat makam seorang syeikh yang bernama Abu Bakar bin Yahya ba’alawy. Kami tak mendapatkan informasi yang memadai tentang beliau ini juga tentang sejarah pulaunya.

Sesampainya disana, kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makan ala kadarnya.  Setelah selesai ISOMA (istirahat, sholat, makan) kami langsung mengitari pulau yang terkenal angker ini. Kami dibagi menjadi dua regu. Laskar Haidar dan Laskar Imam Zaman. Dengan yel-yel masing-masing, kami mengitari pulau dengan antusias. Selain ingin mengetahui kondisi pulau, kami juga tertantang untuk mematahkan mitos masyarakat tentang keangkeran pulau ini. Pulaunya yang kecil membuat perjalanan kami tak terasa. Dengan meneriakkan takbir dan shalawat, kami mengkahiri pengitaran pulau. Segera saja, kami beristirahat sambil mencoba merenungi keindahan ciptaan Allah ‘azza wa jalla.

Dipagi hari, barulah kegiatan baksosnya dimulai. Dengan berbekal karung dan peralatan seadanya, kami membersihkan pantai dan sekitar tenda kami dari sampah-sampah yang tak sedap dipandang mata. An-organik maupun organik. Diselingi gelak tawa, kami melakukan baksos ini dengan cepat. Selain agar tak banyak orang yang tahu, juga mungkkin karena semangat kami. Walhasil, sampah-sampah yang berserakan terlihat sudah berkurang dan tampak lebih rapid an bersih.

Untuk menyempurnakan kegiatan ini, kami bersama-sama mandi di dermaga pulau. Ya, kita harus sesekali keluar dari rutinitas dan melakukan kegiatan yang jarang kita lakukan. Akhirnya, setelah berkemas, kami harus kembali ke rutinitas semula sambil berharap, kegiatan semacam ini bisa terus berjalan.

Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad

Ya Mahdi adrikna!!

(DarutTaqrib/Alamsyah/sa)

No Response

Leave a reply "Baksos Santri Di Pulau panjang"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.