Siapa di Balik Wikileaks?

No comment 562 views

Wikileaks

Wikileaks disebut-sebut sebagai sebuah perjuangan melawan disinformasi media dan membongkar kebohongan AS. Presiden Ahmadinejad memberi tanggapan berbeda, “Materi itu bukan bocor, melainkan dilepas secara terorganisir. Pemerintah AS melepas data-data itu, yang tidak memiliki nilai legal dan tidak akan memiliki dampak politis atas kepentingan mereka.”

Seharusnya Ahmadinejadi kesal atau marah, karena salah satu bocoran Wikileaks adalah adanya upaya negara-negara Arab untuk menggalang serangan ke Iran. Tapi dia bersikap cool, “Negara-negara di kawasan [Timur Tengah] itu seperti sahabat dan saudara. Informasi yang menyimpang tidak akan mengganggu hubungan mereka.”

Terkait hal ini, penulis jadi ingin tahu, siapa sebenarnya di balik Wikileaks. Artikel ini adalah intisari&saduran dari artikel panjang Prof. Michel Chassudovsky di Global Research. Silahkan merujuk ke artikel asli (http://globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=22389) bila memerlukan informasi lebih detil.

Di Balik Wikileaks

Wikileaks mendefinisikan misinya sebagai berikut; “Our primary interests are oppressive regimes in Asia, the former Soviet bloc, Sub-Saharan Africa and the Middle East.” Di dalam kesempatan lain, Assange berkata, “Our primary targets are those highly oppressive regimes in China, Russia and Central Eurasia.

Coba perhatikan, sejak awalnya fokus geopolitik Wikileaks adalah “oppressive regimes” di Eurasia dan Timteng, sungguh cocok dengan orientasi politik AS bukan? Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi sesudah Wikileaks ‘membocorkan’ sebuah dokumen. Dokumen itu akan didistribusikan secara lebih luas justru oleh media-media mainstream, macam The New York Times, the Guardian dan Der Spiegel.Masyarakat dunia umumnya mengetahui ‘apa yang dibocorkan oleh Wikileaks’ dari media, bukan dengan merujuk sendiri ke Wikileaks. Mereka menerima berita dan analisis dari media-media mainstream, yang disebarluaskan ke seluruh dunia. Peran utama dalam proses distribusi ulang ini adalah The New York Time (NYT).

David E Sanger dari NYT mengatakan, “Kami menelaah dokumen itu dengan sangat hati-hati untuk berupaya mengurangi material yang kami pikir dapat merusak [citra] individu-individu tertentu atau mengganggu operasi yang sedang berlangsung. Meskipun kami memunculkan 100 cables [kawat diplomatik], kami menulis [surat] kepada pemerintah AS dan menanyakan saran dari mereka, seandainya ada lagi yang harus dikurangi.”

Pertanyaan penting di sini: siapa yang mengontrol dan mengawasi proses seleksi, distribusi, dan editing dari dokumen-dokumen yang ‘dibocorkan’ Wikileaks itu?
Fakta lain yang patut menjadi perhatian, sejak awal project Wikileaks, Assange telah berkerjasama dengan jurnalis-jurnalis dari media mainstream: David E Sanger dari NYT, Richard Stengel dari Time Magazine, dan Raffi Khatchadurian dari The New Yorker’s.

Jadi, apakah benar Wikileaks adalah sebuah upaya upaya untuk membangkitkan opini publik melawan kebohongan media dunia? Bila benar, lalu bagaimana mungkin ‘perjuangan’ Wikileaks dilakukan dengan partisipasi dan kerjasama dengan media-media dunia yang justru adalah arsitek dari sebuah disinformasi dunia?
Seperti sudah disebutkan di atas, NYT adalah poros utama dalam pengeditan dan pendistribusian ulang isi Wikileaks. NYT adalah media yang terkait erat dengan Wall Street, the Washington think tanks, dan the Council on Foreign Relations (CFR). NYT adalah bagian dari jaringan media mainstream yang dikendalikan oleh dinasti Rockefeller dan sejak awal sudah berperan sebagai media yang melayani kepentingan bisnis dinasti ini.

NYT memusatkan perhatiannya pada dokumen-dokumen Wikilekas yang berkaitan dengan kepentingan politik luar negeri AS, seperti nuklir Iran, Korea Utara, Saudi Arabia, dukungan Pakistan pada Al Qaeda, hubungan China dengan Korut, dll. Dokumen ‘bocoran’ Wikileaks digunakan sebagai sumber data NYT untuk kemudian diramu jadi artikel dan analisis. Pemerintah AS pun memanfaatkan dokumen-dokumen itu untuk kepentingannya. Misalnya, bocoran kawat diplomatik yang menyebutkan bahwa pemerintah negara-negara Arab meminta agar AS menyerang Iran karena khawatir Iran akan membangun senjata nuklir, segera disambut oleh Clinton, “Hal ini membuktikan bahwa kekhawatiran AS atas program nuklir Iran adalah kekhawatiran bersama komunitas internasional.”

Jadi, siapa sebenarnya di balik Wikileaks dan Julian Assange? Tentu tidak bisa dicari jawaban pasti karena semua serba rahasia (bahkan Assange pun menolak memberitahu siapa donatur Wikileaks). Tapi dari uraian tadi, kita bisa mengira-ngira sendiri, siapa yang sebenarnya sedang berupaya berbuat makar.

Ahmadinejad di Mata Wikileaks

Presiden Republik Islam Iran, belum lama ini, juga menjadi sasaran Wikileaks. Situs itu sengaja menyebarkan kebohongan untuk mengadu-domba. Wikileaks dalam lamannya, belum lama ini, menyebutkan, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah ditampar Panglima Garda Revolusi setelah berselisih paham.

Sebagaimana dilansir New York Times, Selasa, 4 Januari 2010, hal itu terungkap dalam memo diplomatik bulan Februari 2010 dari Kedutaan Besar Amerika di Baku, Azerbaijan, yang berisikan laporan intelijen di Iran yang berkategori rahasia.
Pada laporan itu disebutkan bahwa kala itu para petinggi Iran tengah mengadakan rapat untuk membubarkan paksa demonstrasi pro-demokrasi pada 2009 lalu.
Ditulis dalam memo tersebut, Ahmadinejad merasa prihatin dengan kondisi tersebut dan mengakui bahwa rakyat Iran terkekang dan karena itu diperlukan adanya sedikit pengenduran pengawasan. “Untuk meredakan situasi, dia mengatakan perlu memberi kebebasan lebih kepada warga masyarakat, termasuk kebebasan pers,” demikian tertulis dalam memo itu.

Mendengar hal itu, dilukiskan dalam memo itu, Panglima Garda Revolusi Iran Ali Jafari langsung naik pitam dan mengatakan Ahmadinejad lah yang menjadi sumber dari segala kekacauan itu. Setelah itu, terjadilah hal yang tak disangka-sangka itu. Jafari menampar Ahmadinejad.

“Pernyataan Ahmadinejad itu membuat marah Panglima Garda Revolusi Ali Jafari, yang menyergah “Kau salah! Kaulah yang menciptakan kekacauan ini! Dan sekarang, kau mengatakan akan memberikan kebebasan lebih kepada pers?!” Lalu, sumber menceritakan Jafari kemudian menampar Ahmadinejad dan menyebabkan rapat menjadi ricuh,” tertulis dalam memo itu.

Berita tadi yang juga dimuat di Vivanews, berupaya mengadu antara Ahmadinejad dan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran yang juga dikenal dengan istilah Pasdaran. Selain itu, berita itu juga berupaya mengesankan bahwa Pasdaranlah yang memegang peran penuh di negara ini hingga panglima Pasdaran bisa menampar presiden. Dengan cara itu, pemerintah dikesankan di bawah kendali militer. Secara tidak langsung, para pembaca berita itu akan mengesankan bahwa Iran adalah negara dictator yang berada di bawah kendali militer.

Hati-hatilah dengan pemberitaan situs Wikileaks!!! (DarutTaqrib/Irib/sa)

No Response

Leave a reply "Siapa di Balik Wikileaks?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.