Lewat Wayang, Mereka Mengenang Duka Karbala

Heroisme Husein bakal menjadi tema utama dalam pentas Wayang Suro di Cirebon pada 8 Januari nanti. Ini pentas keduanya lepas yang pertama di awal 2010. Dalam sebuah sinopsis yang dia kirim ke berbagai redaksi media, Slamet seperti mengisyaratkan keinginannya mengabadikan momen-momen tragis Husein di Karbala lewat kisah-kisah klasik dalam Palagan Kurusetra.

Dalam dua tahun terakhir ini, Slamet diam-diam menciptakan sebuah sejarah besar. Di Cirebon, setiap Muharram datang, dia mementaskan lakon Palagan Kurusetra. Dia menyebutnya Pentas Wayang Suro.

Slamet Gundono adalah seniman wayang bertabur penghargaan. Pada tahun 2005, dia menyabet penghargaan Prince Claus Award atas dedikasi dan keuletannya menekuni pewayangan Jawa. Kelahiran Tegal 1966, Slamet acap disebut-sebut sebagai dalang paling apik dan inovatif di generasinya. Di setiap pentasnya, sembarang orang bisa seperti mendadak berada di tengah sebuah pertunjukan teater berkelas. Slamet memang termasuk berani ‘mengawinkan’ wayang Jawa dengan kelenturan gerak tari, denting ukulele, kibasan siluet dan tutur cerita penuh anekdot. Dia seniman multi-talenta.

Tapi kenapa Kurusetra? Kenapa Muharram?

Dalam dunia pewayangan Jawa, Kurusetra adalah lakon favorit. Drama pertempuran besar yang tak seimbang. Saat kebenaran yang sedikit maju ke medan laga dan tumbang di hadapan kebengisan yang tak mengenal ampun.

Tapi di tangan Slamet, Kurusetra tak ubahnya sebuah mesin waktu. Dari sebuah kisah yang jamak di dunia pewayangan Jawa itu, dia bereksperimen – dan berhasil – melintingkan orang ke sebuah masa hampir 1.400 tahun yang lalu, di sebuah padang tandus di Irak sekarang, tempat Husein bin Ali, cucu Nabi Suci Muhammad SAW, mata dibantai sepasukan besar orang-orang bengis yang menyebut dirinya Muslimin: Karbala.

Yazin bin Muawiyah adalah penguasa negeri-negeri Muslim saat itu. Dengan jubah Islam, dia pelan-pelan mendorong agama Nabi ke tubir kebinasaan. Dia memperkenalkan segala rupa kebengisan dan kebejatan dan nyaris tak ada lagi yang tersisa dari Islam kecuali nama. Kepada  mereka yang menetang, Yazid – semoga Allah SWT mengutuknya – menawarkan dua pilihan sulit: perang atau kehinaan.

Husein dan sedikit pengikut setia Nabi memilih yang pertama. Mereka pantang hina dan pantang membiarkan kezaliman merajalela. Dan Karbala hari itu, saat penanggalan 10 Muharram, Husein dan segelintir pengikutnya dipaksa berhadapan dengan sebuah perang yang tak seimbang. Puluhan ribu tentara Yazid – semuanya menyebut diri mereka Muslim — mengepung keluarga Nabi, dan mereka berhasil dalam kebejatannya. Mereka membantai semuanya. Mereka mencincang tubuh Husein, memengal kepalanya lalu meletakkannya di atas sebuah tombak dan diarak ke berbagai negeri.

Heroisme Husein bakal menjadi tema utama dalam pentas Wayang Suro di Cirebon pada 8 Januari nanti. Ini pentas keduanya lepas yang pertama di awal 2010. Dalam sebuah sinopsis yang dia kirim ke berbagai redaksi media, Slamet seperti mengisyaratkan keinginannya mengabadikan momen-momen tragis Husein di Karbala lewat kisah-kisah klasik dalam Palagan Kurusetra.

Dia bilang, dalam pentasnya nanti, orang bisa melihat sebuah perang yang tak seimbang. Antara seorang “lelaki yang berjiwa halus” yang kukuh maju ke medan perang dan kawanan pasukan yang bengis yang mengejar-ngejar. Katanya: “Kepala siapakah yang terpenggal di ujung tombak di medan Kurusetra dan diperlakukan sedemikian kejam itu?”

Kepala di ujung tombak itu beri pencerahan bahwa menegakkan kebenaran harus disertai pengorbanan, kata Slamet dalam sinopsis.

“Kepala bagian tubuh yang terhormat. Dalam permusuhan, dalam peperangan, jangan perlakukan kepala semena-mena. Kepala tempat berpikir, gagasan, menggapai cita dan menyapa sang pencipta. Tapi kepala siapa itu?”

Di Cirebon nanti, pentas Wayang Suro bakal digelar di Gedung Kesenian Nyiman Rarasantang di pusat kota. Gratis, boleh ditonton siapa saja. Di luar Slamet, krunya pentas mencapai puluhan orang, termasuk dua sanggar seni lokal Cirebon. “Pentas ini bercerita tentang mereka yang rela berkorban demi perbaikan yang mendasar. Mereka yang mendambakan kebebasan, kemerdekaan, bisa termotivasi dengan menonton pentas ini,” kata seorang panitia pentas Wayang Suro. (DarutTaqrib/Islam Times/sa)

One Response
  1. author

    fuad10 years ago

    kita bisa menyaksikan semangat karbala pada perang 33 hari di libanon selatan, juga di perang yang dipaksakan 8 tahun antara irak dan iran.
    betapa karbala membawa semangat menegakkan keadilan dalam melawan kelaliman.

    Reply

Leave a reply "Lewat Wayang, Mereka Mengenang Duka Karbala"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.