Benih dari Paduka Yang Mulia di Beijing

IslamTimes – Jika telegram diplomat Amerika Serikat di situs Wikileaks yang jadi rujukan, jawabannya sudah jelas. Beijing bisa mengarahkan “haluan umum” pembangunan seperti halnya Amerika Serikat bisa menelanjangi Tentara Nasional Indonesia lewat desakan “reformasi” dan “transparansi”.
AS buatan Cina

Betulkan China bisa mengontrol arah pembangunan Indonesia?

Tapi keterangan di Wikileaks tempo hari, sebenarnya, serba tanggung. Tak ada penjelasan bagaimana persisnya China bisa seperti paduka agung yang leluasa meremot arah pembangunan Indonesia. Toh Jakarta sejauh ini memilih tutut mulut. Kesopanan budaya Timur pejabat negara nampaknya mendahului keinginan orang banyak mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi sebuah berita Kantor Berita Antara awal pekan ini bisa jadi cermin publik luas untuk melihat bagaimana China punya ruang luas untuk bermanuver dan mengontrol arah pembangunan Indonesia.

Berita bilang kalau telah terjadi penandatangan naskah “kerjasama teknik” antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China dalam hal “pengembangan padi hibrida”. Hadir saat penandatangan naskah di Departemen Pertanian adalah Duta Besar China, Zhang Qi Yue, dan sejumlah pejabat senior negara.

Detail berita bilang rentang waktu kerjasama mencakup tiga tahun. Kabarnya, peneliti dari China bakal datang ke Lampung dan, di Balai Penelitian Tanaman Pangan di sana, mereka bakal bersama-sama “melakukan uji adaptasi dan uji multilokasi beberapa kombinasi padi hibrida dari China”.

Kenapa bibit dari China, pejabat pertanian punya jawabannya. Katanya, uji laboratorium di Beijing menunjukkan produksi padi hibrida China bisa mencapai 9-14 ton per hektar. Ini berarti di atas dari rata-rata 7-8 ton produksi padi konvensional.

Kerjasama untuk mendukung swasembada berkelanjutan, kata seorang pejabat.

Seterusnya, jika diperas-peras, berita bilang dalam kerjasama ini, Indonesia tak perlu pusing-pusing dan tinggal terima hasil. China bakal menyediakan segalanya: tenaga peneliti, benih untuk disemai dan diteliti di Lampung. Bahkan peralatan penelitian. Khusus untuk benih, berita bilang: “saat ini telah dilakukan pengiriman tahap pertama beberapa varietas padi hibrida terpilih dari China dan dalam proses pengeluaran di pelabuhan Tanjung Priok”.

Sampai di sini, kerjasama sepintas bagus-bagus saja. Toh berita seperti mengisyaratkan kalau semua itu gratis dan tak ada urusan utang yang harus dibayar dengan uang rakyat di belakang hari.

Tapi ‘setan’ dari kabar ini ada pada detilnya, pada sebuah nama yang hanya disebut sekali dalam berita: Long Ping Hi-Tech. Inilah perusahaan yang memasok tenaga ahli, benih dan peralatan ke di Balai Penelitian di Lampung nantinya.

Siapa Long Ping Hi-Tech?

Di situs resmi perusahaan, tercantum keterangan kalau perusahaan membawa nama lengkap Yuan Long Ping High-Tech Agriculture CO., LTD. Ini perusahaan agrikultur modern di Provinsi Hunan yang sahamnya ikut diperdagangkan di sebuah bursa di China. Bisnisnya melulu pada pengembangan benih hibrida, dari jagung hingga padi, dari melon hingga kapas. Perusahaan masuk dalam daftar 50 perusahaan besar di bidang benih di China. Prestasi besar untuk sebuah entitas bisnis yang baru terbentuk pada 30 Juni 1999. Per 2004, aset perusahaan mencapai 1,2 miliar yuan dengan total penjualan 1 miliar yuan.

Berbasis di Provinsi Hunan, China, Long Ping Hi-Tech sejatinya bukan nama asing bagi banyak petani di Indonesia. Praktis dalam satu windu terakhir, bibit padi perusahaan ini telah merambah Indonesia lepas keluarnya izin impor dari negara pada Desember 2002. Adalah perusahaan berbasis Jakarta, PT Bangun Persada, yang mula-mula mendatangkan padi hibrida Long Ping.

Di tahun yang sama, perusahaan mengajukan izin tidak membayar pajak impor 10%. Atas permintaan itu, Jakarta bermurah hati dengan membebaskan perusahan dari kewajiban membayar pajak impor dengan dalih benih impor adalah “produk strategis”.

Pada 2007, hubungan mesra Long Ping via PT Bangun Persada dan Departemen Pertanian sedikit merenggang. Seorang menteri kala itu mengancam akan mencabut ijin impor benih Long Ping setelah perusahaan tak kunjung “melakukan pengembangan benih di dalam negeri”. Sebuah Peraturan tahun 2006 – empat tahun setelah Long Ping beroperasi di Indonesia – mengatur kalau impor benih hanya boleh selama dua tahun dan setelah itu perusahaan pengimpor benih harus mengembangkan benih di dalam negeri.

Menteri Pertanian kala itu bilang izin impor benih padi hibrida Long Ping dari China diberikan ke PT Bangun Pusaka pada 2004 dan seharusnya sudah berakhir pada 2006. Tapi, katanya, karena ada program peningkatan produksi padi sebanyak dua juta ton setara beras pada 2007, maka pemerintah “masih memberikan toleransi”. Tahun 2008, kata Anton, izin impor perusahaan bakal dicabut jika tak kunjung memenuhi aturan pengembangan benih di dalam negeri.

Tak begitu jelas adakah pada 2008 negara jadi mencabut izin operasi Long Ping di Indonesia. Tapi berita Antara pekan ini jelas menunjukkan kalau Long Ping via Bangun Persada baru memenuhi kewajibannya mengembangkan benih di dalam negeri pada akhir Desember 2010 – delapan tahun setelah perusahaan mengimpor beratus-ratus ton bibit padi hibrida dari China.

Siapa yang rugi dari semua ini?

Jawabannya jelas petani. Impor benih berarti mengamputasi semangat kemandirian dan memiskinan insentif bagi petani dan institusi negara untuk aktif dalam kegiatan penelitian. Impor benih, semurah apapun, juga berarti uang berjuta-juta petani larinya ke China. (Sebuah penelitian menyebutkan harga benih padi hibrida seringkali lebih mahal enam kali lipat dari benih konvensional. Petani pun harus membeli benih baru setiap tanam karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai mengingat penyemaian benih hibrida terbilang “rumit dan memerlukan areal tanam khusus”.)

Long Ping dan segelintir perusahaan importir benih padi lainnya adalah potret buram liberalisasi pertanian sekaligus kenaifan pemerintah menelan solusi instans atas kebutuhan krusial benih padi hibrida dalam negeri. Swasta diberi ruang gerak yang luas untuk mengimpor, saat yang sama petani dijadikan seperti anak tiri yang tak diurus. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah tak berhenti memangkas subsidi benih. Tahun 2011, angkanya subsidi seluruh jenis benih hanya Rp 2,1 triliun dari Rp 2,3 triliun tahun sebelumnya.

Sejumlah aturan hukum belakangan juga mengharamkan petani meneruskan tradisi nenek moyang mengembangkan benih secara mandiri. Yang melanggar, bakal masuk penjara. Ini terjadi antara lain pada seorang petani jagung di Kediri yang dihukum lima bulan penjara karena nekat meracik benih sendiri. UU nomor 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman hanya membolehkan petani menggunakan benih ‘bersertifikat’ alias membeli benih dari perusahaan swasta.

Nah, kerja sama pengembangan benih antara Departemen Pertanian dan Long Ping via Bangun Persada di Lampung bisa jadi berujung pada lahirnya sebuah varitas padi hibrida baru untuk petani Indonesia. Tapi Long Ping jelas bakal menangguk keuntungan paling besar. Varitas baru berarti sumber uang baru dan Long Ping, seramah apapun nampaknya, adalah entitas bisnis yang dirancang untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya. Dan di atas semua itu, lewat impor dan kerjasama penelitian benih, mereka bisa jadi pelan-pelan mengontrol ‘haluan umum’ benih padi hibrida di Indonesia.

Sudah saatnya Jakarta memandang Long Ping dan semua entitas sebangsanya sebagai ‘legiun komando asing’ yang ulet dalam mengejar tujuan-tujuannya dan sebab itu patut diwaspadai gerak-geriknya. (daruttaqrib/Islam Times/sa)

3 Responses
  1. author

    Aki chan9 years ago

    Pakar banyak, penelitian ribuan, biaya ga keitung, hasilnya mana? org kita umumnya pinter omong doang ujung2nya proyek, makanya smpe hr ini belum pny satupun hibrida genuin dalam negeri, prihatin banget, coba aja liat kerja sama ini ga bakal lama deh hanya utk mmprmudah ijin impor, jdnya ya hanya proyek lagi

    Reply
  2. author

    fuad9 years ago

    mungkin IPB sudah lahir dahulu sebelum Long Ping, mana peran PT kita dalam hal ini, kok dak dilibatkan sama sekali dan biasanya kalo sudah begini banyak dimasuki kepentingan barbagai pihak.

    Reply
    • author

      asep9 years ago

      biasa bung, Indoneisa nih! ga kebagian baru koar-koar! uang nmer wahid,harga diri bangsa ntar belakangan.

      Reply

Leave a reply "Benih dari Paduka Yang Mulia di Beijing"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.