Cermin Singapura, Cermin Amerika

No comment 403 views

Satu dunia orang tahu kedekatan Amerika Serikat dan Singapura. Apa kata Washington, di situ Singapura selalu pergi berdiri. Tapi berkat sebuah telegram diplomat Amerika di situs Wikileaks, orang kini bisa tahu ada yang tidak beres dari kedekatan kedua negara. Dan ini ada kaitannya dengan permufakatan mereka ‘mendorong’ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pergi ke Myanmar untuk berbicara dengan “orang yang sudah mati”.

Syahdan, pada Oktober 2007, ada pertemuan rahasia antara diplomat senior Amerika di Singapore dengan Lee Kuan Yew, bekas perdana menteri yang, setelah uzur, masih memegang jabatan minister mentor, mentor para menteri. Bila isi telegram bisa dipegang, diplomat Amerika nampaknya sedang mengorek keterangan dari Lee. Dan Lee, di telegram itu, seperti ember yang bocor. Dia bicara tentang sesuatu yang merdu di telinga diplomat Amerika.

Kontras dengan citranya sebagai politisi senior yang santun selama ini, Lee bicara di belakang seputar Burma, Kamboja, Laos dan Vietnam. Negara-negara itu tak pantas masuk dalam keanggotan ASEAN di tahun 1990’an, katanya. Persoalan dalam negeri mereka banyak, katanya lagi.

Seperti orang yang jumawa, dia cemas keempat negara “bisa berlaku santun” layaknya negara-negara senior ASEAN.

Tapi kecaman terbesar Lee di telegram tertuju pada pemerintah di Myanmar. Seolah ada dendam darah yang belum kalar, Lee menyerang Rangoon, menyebut penguasa di sana “jumud”, “bodoh”, dan “lacur” dalam urusan mengelola sumber daya alam.

Lee hanya cemburu, nampaknya. Selama beberapa dekade terakhir, hanya China dan Rusia yang dapat keleluasaan berbisnis di Rangoon. Ini semacam berkah terselubung dari demonimasi, boikot, pengucilan, dan embargo yang dimotori Amerika Serikat atas pemerintahan militer di sana.

Nah, di telegram itu, ada terekam keputusasaan diplomat Amerika. Burma “bisa selamat dari sanksi apapun” berkat sumber daya alamnya yang berlimpah, kata sang diplomat.

Mendengar itu, Lee membisikkan sebuah saran yang bakal menjadikan dia masuk terungku sekiranya berani menginjakkan kaki di Rangoon.

Secara halus, Lee meminta Amerika Serikat membangun hubungan dengan pejabat militer yang lebih muda di Rangoon. Mereka tak sebodoh senior-seniornya, kata Lee. Kalau para perwira muda ni bisa maju ke panggung kekuasaan, kata Lee, mereka lebih bisa berbagi pemerintahan dengan “aktivis demokrasi”, sekalipun nampaknya tidak dengan Aung San Suu Kyi, yang menjadi anatema militer.

Lee bilang perlu waktu yang lama untuk membangun hubungan seperti itu. Bicara dengan rezim yang berkuasa di Rangoon, katanya, seperti “bicara dengan orang mati”.

Soal ide Amerika merancang adanya special envoy, utusan khusus ASEAN, untuk Myanmar, Lee menolak jika Singapura yang berdiri di depan. Saran Lee, jauh lebih bagus jika Amerika Serikat mendorong orang seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “sebagai penengah”.

Sebagai bekas jenderal, kata Lee, Presiden Susilo lebih terbuka peluangnya bertemu dan didengar bicaranya oleh Jenderal Than Shwe di Rangoon. Toh, kata Lee, Presiden Susilo sedang “kepengen tampil sebagai juru damai”. (Lee nampaknya bercermin dari berita-berita ‘kesuksesan’ pertemuan Presiden Susilo dengan Jenderal Than Shwe di Rangoon pada 2006.)

Soal bagaimana menyakinkan Presiden Susilo, Lee menyarankan agar diplomat Amerika menggunakan pihak lain yang citranya tak terlalu dekat dengan Amerika. Sarannya, biar Vietnam saja yang berbicara ke Presiden Susilo.

Tak ada penjelasan di telegram adakah permufakatan Lee dan diplomat Amerika itu berlanjut ke level berikutnya.

Tapi saat bertandang ke Jakarta pada November 2010, Presiden Obama menyempatkan menitip pesan ke Presiden Susilo yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan ASEAN pada 2011. Kata Obama: “Salah satu tantangan yang dihadap ASEAN dan dunia adalah Myanmar dan saya menunggu peran Indonesia dalam membela orang-orang di Myanmar dan hak-hak mereka.”

Seperti penguasa yang sudah-sudah di Gedung Putih, Obama sedang memproyeksikan Myanmar sebagai musuh bersama dunia dan Amerika sebagai hakim dan jaksa yang adil. Tapi dia lupa kalau Myanmar adalah negara berdaulat, bukan budak Amerika. (daruttaqrib/Islam Times/sa)

No Response

Leave a reply "Cermin Singapura, Cermin Amerika"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.