Reportase `Asyura: Malam Kedelapan Muharram

Memerah darah di Karbala

Menepuk dada di `Asyura

Duka cita untuk Sayyidu Syuhada

TPQ al Hasanain, Guyangan

Madrasah Karbala memang merupakan sebuah wadah ilmu pengetahuan yang tak pernah selesai tuk dikaji. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah saww yang menjelaskan bahwasannya syahadah imam Husain as tiada akan pernah pupus dan akan selalu membara sepanjang masa. Maka, pada malam ke-8 ini ustadz Nur Alim sebagai penceramah dalam majlis aza’ imam Husain as mencoba untuk menjelaskan kepada para pecinta imam Husain di daerah Guyangan dan sekitarnya tentang pengorbanan imam Husain yang tidak akan pernah terlupakan hingga imam Mahdi afs muncul dan melanjutkan misinya. Beliau juga berpesan kepada kita agar selalu memiliki rasa rindu akan pengorbanan yang merupakan ciri utama para pecinta imam Husain as.

Suasana pada malam itu begitu khusyuk dan penuh haru. Setelah menyampaikan ceramah, ustadz Nur Alim langsung membacakan maktal (kronologi terbunuhnya imam Husain as). Para ikhwan dan akhwat begitu terbawa dalam suasana kepedihan dan kesedihan. Meski tragedi itu sudah terjadi ribuan tahun yang lalu, akan tetapi para pecinta imam Husain as bisa merasakan tragedi itu lewat maktal yang dengan pembacaan maktal tersebut, seakan-akan para pendengar dibawa pergi jauh ke Karbala, tempat terbantainya imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya.

Acara yang diadakan di madrasah diniyah Al-hasanain Guyangan itu pun disempurnakan dengan lantunan maktam dan ditutup dengan ziarah kepada imam Husain as. yang dipimpin oleh ustadz Mukhlisin. Salam kepadamu wahai Al-husain as, pewaris para nabi dan rasul Allah.(Alamsyah)

Mushala H. Zabidi al Mahdi, Krasak

Dimana pun majlis aza atau wiladah Ahlul Bait Nabi diadakan, Rasulullah dan Ahlul Bait nya yang menjadi tuan rumah, dan kita hanyalah tamu yang digerakkan hatinya untuk berpartisipasi dalam majlis mereka. Maka pasti di majlis tersebut, Rasulullah dan Ahlul Baitnya hadir dan ikut bersama kita. Begitulah prolog yang disampaikan ustadz Ali saat membuka ceramahnya di Mushola Zabidi Al-Mahdi.

Dimalam kedelapan, ustadz Ali menjelaskan tentang rasa, bahwasanya perjuangan Imam Husein, madrasah yang beliau sampaikan, mengajarkan tentang rasa beragama, melatih emosi kita, jiwa kita untuk bersatu dengan Imam Husein as.

Beliau menjelaskan tentang kehidupan sekarang yang penuh dengan tekanan dari segi ekonomi, dan lain sebagainya, sehingga banyak orang yang berputus asa, akan tetapi kita sebagai pecinta Ahlul Bait senantiasa mempunyai kekuatan yaitu keyakinan akan syahadah, sebagai manifestasi gerakan Imam Husein as dan berusaha untuk menanti kemunculan Imam Mahdi afs. Karena ketika kita yakin dan dapat mengolah dua kekuatan tersebut dengan baik maka dalam kehidupan ini, kita tidak akan takut apapun. Revolusi Imam Khomeini qs. di Iran berhasil dikarenakan Imam Khomeini mengolah dua kekuatan tersebut dengan baik.

Dengan sedikit rengekan adik-adik kita yang ikut hadir, ustadz pun menjelaskan sekilas tentang perjuangan Rasulullah menyebarkan Islam dilanjutkan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein as. yang mana penuh dengan penderitaan agar umat sadar, bisa menjadi lebih baik dan kembali kepada Allah swt. Hadirin pun dibawa ke zaman masa lampau yang penuh derita dan seakan-akan menyaksikan penderitaan mereka.

Diakhir ceramah beliau, ustadz pun berpesan agar kita senantiasa mengikatkan hati kita dengan Rasulullah dan Ahlul Baitnya khususnya dengan Imam Mahdi afs. dengan cara berziarah kepada mereka dan selalu memperbarui baiat kita kepada mereka.

Ustadz pun menutup ceramahnya dengan doa Faraj, doanya Imam Zaman dan mengirimkan surat alfatehah untuk Rasulullah, Ahlul Baitnya, dan ulama yang telah mendahului kita semua. Majlis pun ditutup dengan ziarah kepada Imam Husein as. Ziarah malam itu sungguh mengesankan, terasa kita benar-benar berada di depan Imam Husein, Rasulullah dan Ahlul baytnya, tak terasa air mata pun menetes saat mengucapkan salam kepada mereka dan mengucapkan rasa bela sungkawa kita kepada mereka. Semoga hati kita senantiasa selalu dekat dengan mereka sehingga hati kita selalu hidup untuk berjuang membantu mereka dengan sepenuh hati dalam kehidupan ini. amin. (Ummi`s)

Pesantren Darut Taqrib, Jepara

Malam ke-delapan adalah detik-detik malam terakhir dari acara majlisil Azza’ Imam Husain as. karena penghujung acara ini tepat di malam kesepuluh dari bulan muharram. Kami selalu memuji mereka yang telah mau mengikuti majlis Azza’ ini dari awal hingga  malam itu, mereka tak bosn-bosanya untuk menhadiri majlissil Azza’ Imam Husain as, akan tetapi mereka tambah semangat dan semakin banyak yang hadir di majlis ini. Sebagain dari mereka dengan tulusnya ia membawa konsumsi atau makanan, yang mereka bagikan pada tamu-tamu Imam Husain as denga secara gratis, itu mereka lakukan dengan niat untuk mengabdi pada Imam Husain as dengan semampunya.

Tak hanya itu ada pula yang sebagian dari mereka dengan suka cita membagi-bagikan air Teh atau Air minum yang mereka lakukan tanpa pamrih, itu semua mereka lakukan demi cintanya pada Imam Husain as, juga mengharapkan ridho dan syafaat dari Imam Husain as.

Malam itu suasana majlis Azza’ Imam Husain as yang ada dipon-pes DATA yang bertempat di Masjid Mulia Imam Mahdi as Jepara, dengan penuh kesedihan para hadirinpun meneteskan air matanya, karena derita yang menimpa Ahlulbayt terutama pada Imam Husain as yang syahid di padang karbala. Malam itu acara majlis Azza’ Imam Husain as di isi oleh Ustad Bunari, malam itu beliau menyampaikan ceramahnya yang bertema “ mengambil pelajaran dari para syuhada di Karbala”.

Sedikit kata yang beliau sampaikan ialah, kebanyakan para ulama yang sukses mereka meniru dan mengikuti jejak Imam Husain as dan para syuhada di karbala. Karena Imam Husain as dan para syuhada di Karbala memberikan banyak pelajaran pada seluruh umat manusia, di antaranya ialah kesetiaan, keberanian, kesederhanaan, pengorbanan, kesabaran dan masih banyak lain yang ada dalam peristiwa Karbala, sebagai contoh  yang kita sering dengar ialah Abu Fadhl Abbas dengan beraninya ia mengambil air walau tubuh harus tertebas, dengan gigih beliau mempertahankan air tersebut sampai detik-detik nyawanya yang terakhir.

Malampun mulai terasa dingin, hingga beliaupun mengakhiri ceramahnya dan sebelum beliau beranjak dari tempat duduknya  beliau membacakan maqtal kemudian di sambung dengan do’a ziaroh oleh Habib Ja’far Assegaf, dan sebelum acara di tutup para santri pon-pes DATA melantunkan ma’tam sebagai penyempurna acara majlis azza’ pada malam itu.(Huda)

(daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Reportase `Asyura: Malam Kedelapan Muharram"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.