Wawancara Islam Times: Cobalah Lebih Peduli pada Gaza

Berdebar-debar sekaligus rileks. Itu kata Rachmawati Rachman saat menggambarkan detik-detik dia dan 11 aktivisi kemanusiaan lainnya bersiap meninggalkan Bandara Soekarno Hatta pada Rabu sore. Tujuan mereka memang jauh dan rawan: Gaza di Palestina. Mereka adalah wakil Indonesia dalam Karavan Kemanusiaan Asia untuk Gaza.Yang terakhir insiatif solidaritas pan-Asia pertama untuk Gaza, melibatkan hampir 500 orang dari berbagai latar dan negeri, dari Jepang hingga Malaysia, dari Pakistan hingga Lebanon.

Ini bakal jadi sebuah perjalanan heroik sebab untuk derita orang-orang di Gaza, mereka rela menempuh ribuah kilometer perjalanan darat, melintasi berbagai negeri, dengan segala resikonya. Hanya sedikit bantuan yang mereka bawa. Tapi kehadiran 500’an aktivis dari Asia di Gaza nanti bakal menyuntikkan harapan ke orang-orang di Gaza sekaligus penegasan ke banyak pihak kalau mereka punya nyali menembus blokade haram Israel atas wilayah tersebut dalam empat tahun terakhir.

Rachmati dkk. bakal bergabung dengan Karavan Kemanusiaan dari titik pemberangkatan di Qom, Iran. Konvoi telah meninggalkan New Delhi India pekan lalu dan kini telah mencapai Pakistan.Di Iran, konvoi bakal lewat di sejumlah kota sebelum bergerak ke Turki lalu Libanon, Syiria dan Mesir. Jika tak ada aral melintang, mereka rencananya masuk ke Gaza pada 27 Desember, bertepatan dua tahun penyerbuan berdarah Israel yang menewaskan seribu orang lebih.

Di Jakarta Rabu sore, Rachmawati menyempatkan menjawab pertanyaan Islam Times saat dia bergegas ke gate penerbangan menuju Tehran. Kurang dari lima menit wawancara, dia hanya cerita sedikit tentang dirinya. Sangat sedikit, bahkan. (Dia menggambarkan dirinya “seorang perempuan berusia 40’an tahun dan pernah lama bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta”). Dia juga cerita sedikit soal alasan keberangkatannya dan menitip sebuah pesan untuk Muslimin Indonesia. Berikut petikannya:

Perjalanan Anda bakal berat dan jauh. Apa yang menggerakkan Anda untuk ikut dalam konvoi kemanusiaan ke Gaza?

Kepedulian pada Palestina. Palestina sangat krusial saat ini, menyangkut kemanusiaan dan saya kira bakal ditanyakan di akhirat nanti. Di Palestina sana ada cermin kesalahan-kesalahan dunia, ketakpedulian orang banyak pada barbarisme dan penjajahan Israel. Di Palestina ada pembersihan etnis dan itu masih berlangsung hingga detik ini.

So, keberangkatan kami kali ini untuk membangkitkan kesadaran publik dunia, khususnya Asia. Ini juga untuk mendorong orang menjadi lebih peduli pada Gaza dan Palestina. Sebagian orang memang telah mengetahui derita Gaza dan Palestina dari pemberitaan media namun belum tergerak untuk bertindak.

Rekan-rekan seperjalanan Anda. Siapa-siapa saja dan dari mereka?

Kami datang dari berbagai lapisan. Ada wartawan, dokter, mahasiswa, sinematografer. Ada yang seperti saya mewakili organisasi Voice of Palestina. Ada juga yang mewakili Bulan Sabit Merah dan Mer-C. Tapi kepedulian pada derita dan ketidakadilan di Palestina menyatukan kami semua. Kami semua melihat Palestina sebagai puncak ketidakadilan. Dan ketidakadilan itu masih terjadi hingga detik. Apakah kita akan terus diam?

Ada pesan untuk pembaca di Indonesia?

Cobalah peduli pada derita orang lain. Selama ini kita lebih banyak bicara tentang diri sendiri. Diri sendiri. Padahal di Timur Tengah sana ada satu bangsa yang masih terjajah dan sangat dinistakan. Di Indonesia memang ada banyak musibah, seperti banjir dan bencana alam lainnya. Tapi saya kira itu lebih pada ulah dan ketidaksiapan kita sendiri. Tapi di Palestina sana soalnya lain. Di sana orang menderita karena mereka dirampok hak dan kehidupannya dan menjadi tak berdaya di tangan zionist Israel. (daruttaqrib/Islam Times/sa)

No Response

Leave a reply "Wawancara Islam Times: Cobalah Lebih Peduli pada Gaza"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.