Reportase `Asyura: Malam Kelima Muharram

Memerah darah di Karbala

Menepuk dada di `Asyura

Duka cita untuk sayyidu Syuhada

TPQ al Hasanain, Guyangan

Di malam kelima, hujan deras masih mengguyur desa Guyangan, namun itu tidak menghalangi para ikhwan wa akhwat pecinta Imam Husain as. untuk hadir di majlis azza’ Imam Husain as.  Mereka tetap dengan  semangatnya melangkahkan kakinya untuk menghadiri majlis yang mulia itu. Walau cuaca pada malam itu sangat dingin, tapi mereka tetap mengajak anak- anak kecil mereka untuk hadir di majlis  azza’ tersebut, itu semua mereka niatkan agar anak-anak mereka menjadi pecinta dan penerus perjuangan Imam Husain as di kelak nanti.

Malam itu, acara majlis azza’ Imam Husain as diisi oleh Habib Ja’far Assegaf dari Jepara, walau cuaca sangat dingin dan di barengi turun hujan, itu tidak menghalangi beliau untuk mengisi acara majlis azza’ Imam Husain as, itu beliau lakukan demi Imam Husain as dan juga untuk memenuhi panggilan para tamu Imam Husain as yang telah menunggu kehadiran beliau.

Malam itu  beliau berceramah dengan tema “Menangisi Imam Husain as dan Ahlulbayt”. Sepenggal kata yang beliau sampaikan ialah, barang siapa yang meneteskan air mata atau ia berpura-pura menangis untuk kesyahidan imam Husain as dan Ahlulbayt as, maka tetesan air mata tersebut bisa menghapus dosa-dosanya yang pernah ia lakukan. Oleh karena itu, kita sebagai pecinta Imam Husain as dan Ahlulbayt Rasulullah saww harus ikut bersedih ketika kesedihan menimpa mereka dan bergembira ketika mereka mendapatkan kegembiraan, semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu mencintai mereka.

Setelah beliau menyampaikan ceramahnya acarapun dilanjutkan dengan pembacaan ma’tam, dan para hadirin yang hadir pun larut dalam duka dan kesedihan. Tak terasa, malampun telah larut dan sebagai penyempurna acara tersebut ditutup dengan do’a dan ziaroh pada Imam Husain as.

Mushala H. Zabidi al Mahdi

dimalam yang kelima yang dingin menusuk tulang, setelah seharian hujan mengguyur Krasak dan sekitarnya, di mushola Zabidi Almahdi masih dengan semangat yang membara seperti malam-malam sebelumnya. apalagi keluarga Muhtarom yang bertugas menyiapkan dan mengatur majlis di malam itu.

dengan diiringi lantunan suara jangkrik, majlis pun dimulai dengan bacaan basmalah dan dilanjut dengan tawasul yang dipimpin Bapak Muhtarom. setelah meminta hajat masing-masing, majlis pun dilanjut dengan persembahan untuk Imam Husein berupa puisi dan ma’tam oleh ka Ari dengan semangatnya dan ka Haidar dengan sedikit malu dan ragu-ragu melantunkannya.

wlaupun terdengar sedikit rengekan adik-adik kita, majlis pun tetap dilanjut dengan ceramah inti oleh ustadz Bunari. inti yang disampaikan beliau ada beberapa hal yakni, tentang membersihkan diri dan hati kita, hadist-hadist Imam Husein dan apa yang harus kita lakukan dan tanggung jawab kita dalam kehidupan ini.

walaupun ceramahnya begitu singkat, tapi sangat mengena dalam hati kita masing-masing. majlis pun ditutup dengan berziarah kepada Imam Husein as. (Ummi`s)

Pesantren Darut Taqrib, Jepara

“Jika agama kakekku tidak akan pernah tegak kecuali dengan terpenggalnya kepalaku, maka wahai pedang-pedang ambillah nyawaku.” Ini adalah ungkapan Imam Husain as dengan penuh pengorbanan dan keberanian demi menegakkan  amar ma’ruf wa nahi munkar. Dan pengorbanan ini tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang hatinya telah terikat dengan kecintanya kepada Allah SWT dan Rasulullah Saww.

Dimalam ke lima ini, merupakan giliran Ust.Nur Alim  untuk memberikan ceramahnya di Ponpes Darut-Taqrib. Beliau berceramah tentang “Pengorbanan Imam Husain as” yang merupakan spirit bagi kita, sehingga kita bisa berkorban demi Imam Husain as dan menghidupkan ajarannya.

Beliau memberikan perumpamaan tentang pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as agar menyembelih Putranya yaitu Nabi Ismail as atas perintah Allah, tapi sembelihannya itu digantikan oleh seekor domba. Namun tidak bagi keluarga Rasulullah Saww. Kita bisa melihat pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh Imam Husain as, beliau korbankan dirinya, keluarga dan para sahabat setia beliau untuk agama kakeknya, bahkan beliau disembelih oleh manusia-manusia durjana.

Dari sini, apakah kita sudah berkorban untuk beliau? Jawaban itu hanya ada pada diri kita, bukan dengan lisan semata namun dengan amal perbuatan kita.

Setelah beliau menyampaikan ceramahnya, kemudian dilanjutkan dengan lantunan sya’ir maktam oleh santri DATA (Darut Taqrib), setelah itu pembacaan doa ziarah oleh Habib ‘Ali Al-Attas dan acara pun berakhir. (Rohimat)

(daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Reportase `Asyura: Malam Kelima Muharram"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.