Reportase `Asyura: Malam keempat Muharram

Memerah darah di Karbala

Menepuk dada di `Asyura

Duka cita untuk sayyidu Syuhada

TPQ al Hasanain, Guyangan

Langit memerah dan hujan darah pun mengalir deras disebabkan terbunuhnya Imam Husain as, keluarga dan para sahabat setianya di padang Karbala demi menegakkan agama kakeknya. Bagaimana tidak, langit tidak memerah? Kita bisa lihat ketika bulan Muharram tiba langit pun mulai memerah dan sering turun hujan setiap hari ! Itu disebabkan karena langit berduka dan marah terhadap para pembunuh Imam Husain as.

Ketika malam keempat bulan Muharram ini kami meliput majlis ‘Aza di Guyangan, di Madrasah Al-Hasanain, kami merasakan kesedihan tatkala hujan deras mengguyur kota jepara yang disertai sambaran petir-petir yang mengkilat, seakan-akan kemarahan langit menjadi-jadi.

Akan tetapi hal itu tak menyurutkan niat para pecinta Aba ‘Abdillahil Husain as, untuk hadir di majlis ‘Aza ini. Dikarenakan kecintaan mereka yang amat dalam terhadap keluarga suci Nabi Saww.

Malam keempat ini adalah giliran Ust.Miqdad Turkan yang memberikan ceramahnya dengan banyak nasihat yang beliau sampaikan terkait “Pentingnya menghadiri majlis ‘Aza Imam Husain as”. Beliau pun sering mengingatkan kepada kita untuk selalu tetap hadir di majlis ‘Aza walaupun hujan turun dan panas terik matahari yang sangat menyengat membakar kita, sekalipun adanya teror bom atau semacamnya, itu semua tidak lain adalah untuk Imam Husain as. Orang semacam ini adalah orang yang telah digerakkan hatinya oleh Allah SWT dikarenakan mereka itu memiliki ikatan yang kuat dengan Rasulullah Saww.

Imam ja’far as mengatakan ; “Syi’ah kami adalah orang yang bersedih karena kesedihan kami dan bergembira karena kegembiraan kami.” Maka hidup ini tak berarti apa-apa ketika kita tidak berkorban untuk Aba ‘Abdillahil Husain as.

Setelah beliau menyampaikan ceramahnya yang disertai dengan maqtal beliau, kemudian  dilanjutkan dengan lantunan sya’ir maktam oleh santri DATA (Darut Taqrib). Terakhir dilanjutkan dengan doa ziarah oleh ust.Mukhlisin sekaligus penutup. (Rohimat)

Mushala H. Zabidi al Mahdi

Di malam keempat Muharom, hujan mengguyur daerah Krasak dan sekitarnya. Walaupun demikian, kami tetap semangat untuk menghadiri majlis `Aza Imam Husein as. Apalagi keluarga Nur Ali yang bertugas menyiapkan dan mengatur jalannya majlis malam itu, tampak semangat sebelum majlis dimulai. Selain itu dari Cobaan, Montro yang nun jauh dari Krasak tetap hadir, dan juga adik-adik kita tetap semangat hadir lengkap dengan jaket mungil mereka. dan yang paling mengesankan adalah ka Hdi yang rela dan tulus menggendong adiknya Hida dari rumah ke Mushola, dan juga ka Jamal yang dengan semangatnya nun jau dari Wedelan, hujan-hujan dengan sepeda ontel nya menghadiri majlis Aza’. sungguh malam itu tampak semangat yang membara, semoga di hati kita semua mendapat semangat dari Imam Husein untuk selalu berjuang bersama beliau.

Seperti biasa, malam itu dibuka dengan basmalah, dilanjut pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian tawasul kepada Rosulullah dan Ahlul Baytnya yang suci. setelah kita meminta hajat masing-masing, majlis pun dilanjutkan dengan persembahan untuk Imam Husein as berupa ma’tam dan puisi.

Dengan semangat yang membara, walaupun hujan menerpa, majlis pun dilanjutkan dengan ceramah inti oleh Habib A li Alattas dari Jepara. Sungguh mengesankan malam itu,  karena beliau di awal dan akhir ceramah tak lupa mengirimkan al-fatehah untuk ayahanda Zabidi almarhum yang mendirikan Mushola Zabidi Al-Mahdi ini. kami dari pihak keluarga bersyukur karena masih ada ustadz yang mengingat jasa ayahanda kami.

dengan suara hujan rintik-rintik, ustadz Ali menyampaikan ceramahnya tentang, “Kenapa kita selalu dianjurkan untuk selalu berziarah kepada Imam Husein as di setiap peringatan-peringatan penting?”. Beliau dengan singkatnya menjawab karena Imam Husein telah melakukan pergerakan besar dan mengembalikan ajaran Agama Islam yang sebelumnya telah melenceng.

Ustadz pun melanjutkan ceramahnya dengan menceritakan asal mula agama Islam melenceng, dari sahabat-sahabat Rasulullah yang merebut kekholifahan juga tanah Fadak, dan dilanjut dengan masa Bani Umayah yang mana nilai-nilai agama Islam sudah menjadi asing dan menjadi topeng politik belaka. Beliau juga mengatakan bahwa masa sekarang juga sama seperti dulu, yang mana merupakan warisan madrash sahabat. sungguh ironis melihat Islam hanya digunakan untuk kepentingan pribadi atau bisa dibilang Islam KTP.

Beliau pun menegaskan bahwa Imam Husein akhirnya melakukan pergerakan besar dan tak mau tunduk kepada penguasa yang lalim dan dari keturunan pemakan hati Hamzah, Penguasa yang sudah jelas-jelas meninggalkan ajaran nilai-nilai Islam dan buta akan keglamoran hidup. Imam Husein bangkit agar kaum muslimin terbuka matanya dan bangun dari tidurnya akan keindahan duniawi. Dan dari semangat Imam Husein ini, Imam Khomeini juga dapat melakukan revolusi besar Iran, juga sayid Hasan Nasrullah dapat melakukan pergerakan. karena perjuangan itu tak bisa lepas dari pergerakan, begitulah tutur yang beliau sampaikan.

Setelah itu, beliaupun meriwayatkan beberapa hadis tentang keagungan Ahlul Bayt, salah satunya yaitu, Abu dzar melihat Rosulullah duduk, kemudian Imm Hasan dan Husein datang, Rosulullah pun berkata, “Siapa yang mencintai dengan kecintaan yang dalam kepada Imam Hasan, Imam Husein dan keluarganya maka wajahnya tak akan terkena api neraka walaupun dosa-dosanya seperti debu kecuali dosa yang besar seperti musyrik.” beliau berharap agar kita semua yang hadir di malam itu mempunyai kecintaan yang dalam kepada Ahlul Bayt yang suci. amin.

Di akhir ceramahnya beliau memberikan maqtal singkat tentang perjuangan Imam Husein dengan merelakan putranya tercinta syahid dipadang Karbala. Kemudian beliau pun menutup ceramahnya dengan doa agar kita semua diampuni semua dosa-dosa kita dan mendapat sayafaat dari Imam Husein kelak. amin.

Dengan keindahan ceramah yang beliau sampaikan, sehingga kami tak merasakan sedikitpun hawa dingin yang menerpa, kami masih merasa belum puas pada malam itu sehingga setelah majlis ditutup dengan ziarah kepada Imam Husein, kami pun masih melanjutkan obrolan tentang Imam Husein as. sambil menikmati hidangan yang ada. (Ummi`s)

Pesantren Darut Taqrib, Jepara

Kilatan petir dan guyuran hujan tak mampu menghalangi para pecinta imam Husain as di daerah Jepara untuk menghadiri majlis aza’ imam Husain as yang memasuki malam ke-4 (empat) kemarin (09/01) yang diadakan di ponpes Darut-Taqrib, Jepara.

Pada malam itu, penceramahnya adalah ustadz Alam Firdaus. Beliau, pada kesempatan itu, mencoba untuk mendedah surat imam Husain as kepada rakyat Kufah. Mengapa beliau mengangkat  tema ini ? Karena, menurut beliau, kondisi kita sekarang kurang lebih sama dengan kondisi rakyat Kufah. Jika mereka (rakyat Kufah) menunggu kedatangan Imam Husain as, maka kita menunggu kehadiran putra imam Husain as yaitu imam Mahdi afs.

Dalam ceramah yang menarik itu, beliau menjelaskan karakter-katakter seorang pemimpin (Imam) yang disebutkan oleh imam Husain as. Dimana para imam, secara garis besarnya, hanya akan melakukan kebenaran dan menegakkan keadilan. Jadi, kita yang mengaku sebagai pengikut imam Ahlulbayt, paling tidak mesti memiliki karakter ini. ‘Ketika kita ingin menjadi pengikut Al-mahdi, maka kita juga harus mengikuti sifat dan karakternya’ pungkas beliau.

Dengan berakhirnya ceramah dari ustadz Alam, maka acara yang merupakan bukti nyata cinta kita kepada Aba Abdillah Al-husain as ini dilanjutkan dengan pembacaan maqtal imam Husain as. Para ikhwan dan akhwat begitu terhenyak, larut dalam kesedihan yang terukir lewat rangkaian kata. Tangisan itu masih terdengar hingga ustadz M. Ali membaca ziarah imam Husain as yang merupakan penutup acara majlis azza’ imam Husain di ponpes Darut-taqrib itu. Semoga tangisan-tangisan itu bisa menjadi hujjah kita kepadaNya, agar kita bisa terlepas dari panasnya api neraka. Amin. (Alamsyah)

(daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Reportase `Asyura: Malam keempat Muharram"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.