Maqtal Imam Husain as IV

1 comment 1336 views

Detik-detik Terakhir Al-Husain

Pada suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk bersama Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Bagaimana jika kalian kelak terbantai dan kuburan kalian akan terpisah-pisah?” Imam Husain as bertanya: “Apakah kami akan mati biasa ataukah kami akan terbunuh?”. Rasulullah menjawab: “Wahai putraku, kamu dan saudaramu akan terbunuh secara teraniaya, keturunanmu akan terusir dari muka bumi ini”. Imam Husain bertanya: “Siapakah yang akan membunuh kami, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “(Syirar an-nnas) Manusia yang paling durjana”.

Imam Shodiq as meriwayatkan: Suatu hari Imam Husain mengunjungi saudaranya Imam Hasan, ketika melihatnya, Imam Husain menangis. Saudaranya Imam Hasan bertanya: “Apa yang membuat kamu menangis?” Imam Husain menjawab: “Aku menangis terhadap apa yang akan menimpa dirimu”. Imam Hasan menjawab: “Sesungguhnya yang akan menimpaku adalah racun yang disuguhkan kepadaku dan karenanya aku terbunuh, akan tetapi tidak ada hari yang paling menyedihkan seperti hari kematianmu wahai Abu Abdillah, tigapuluh ribu pasukan mengepungmu, mereka mengaku ummat kakek kami Muhammad dan pemeluk Islam. Lalu mereka sepakat untuk membunuhmu, menumpahkan darahmu, merobek kehormatanmu, menawan keturunanmu dan para wanita dari keluargamu, merampas barang-barang berhargamu. Saat itu, laknat Allah akan turun kepada Bani Umaiyah, langit akan menangis darah dan debu, segala sesuatu meratapimu, bahkan binatang buas dan ikan di lautan

sekalipun”.

Benar, apa yang diceritakan oleh nabi itu kini telah terjadi. Imam Ali terbunuh, kepala pecah karena hantaman pedang ketika menunaikan salat fajar. Imam Hasan terbunuh, jantung dan hatinya keluar berkeping-keping bercampur darah, karena ganasnya racun. Sedang Imam Husain terbantai, kepalanya terpenggal, tubuhnya tercincang, keluarganya ditawan bagaikan budak. Inilah musibah terbesar dalam sejarah kemanusiaan.

Syahidnya Imam Husain

Diriwayatkan: Pada detik terakhir Al-Husain di padang Karbala, ketika seluruh sahabatnya telah terbunuh, beliau berpesan kepada Zainab agar menjaga putra-putrinya yang masih tersisa. Seluruh wanita dalam kemah pun menangis sedih. Dengan menahan rasa haus dan dahaga, Imam Husaian memacu kudanya menyerang dan menyeruak di tengah-tengah musuh hingga banyak yang berjatuhan. Panasnya terik matahati yang membakar, rasa lapar dan haus yang mencekik, sabetan pedang dan tombak yang melukai seluruh tubuhnya membuat gerakan Imam Husain kian melemah. Pada saat itu pula, Saleh bin Wahab Al-Muzanni mengejarnya dan menusukkan tombaknya ke pinggang Al-Husain, darah segar mengucur. Beliau tersungkur jatuh dari kudanya.

Zar`ah bin Syuraik segera mendekatinya dan menghantamkan pedangnya ke pundak kiri Al-Husain. Beliau membalas dan Zar`ah dibantingnya terkapar di atas tanah. Seorang lagi datang dengan ganas, ia mengayunkan pedangnya menghantam pundak kanan al-Husain. Beliau terjatuh dan berusaha bangkit kembali. Tiba-tiba Sinan bin Anas An-Nakho`i mengejarnya dan menusukkan tombaknya ke dada Al-Husian. Sinan mencabut tombaknya itu dan menusukkan kembali ke dada Al-Husain. Tidak hanya itu, Sinan pun membidikkan panahnya dan menancap pada leher Al-Husain. Sambil tertunduk menahan rasa sakit, Imam Husain mencabut anak panah itu dari lehernya. Darahnya mengucur deras. Beliau mengusapkan darahnya itu di kepala dan janggutnya seraya berkata: “Dengan seperti ini, aku akan menghadap Allah dan kakekku. Tubuhku berlumur darah dan hakku terampas”. Lalu Al-Husain menangis sedih dan memanggil:

“Aku terbunuh teraniaya dan kakekku Mustofa, aku tersembeleh kehausan dan ayahku Murtadlo, aku dihina dan ibuku Fatimah”

Jeritan pilu Al-Husain itu membuat hati para wanita dalam kemah hancur. Putri-putri Al-Husain menangis dan menjerit: “Wahusainah”.

Zainab segera berlari menghampiri Al-Husain kakaknya. Sambil menangis ia menggerak-gerakkan tubuh Al-Husain yang tak berdaya itu, seraya berkata:

“Saudaraku (Husain)… demi kakekku Rasulullah bicaralah kepadaku!..Demi ayahku Amiril mukminin ngomonglah kepadaku!…Wahai belahan jiwaku! demi ibukku Fatimah Zahra jawablah aku!….Wahai cahaya mataku, wahai belahan hidupku sahutlah kata-kataku!

Dengan suara yang terpatah-patah, Al-Husain menjawab:

“Saudariku, ini adalah hari yang paling duka. Inilah hari yang dijanjikan kakekku itu, dan kini beliau sangat merindukanku”. Lalu Al-Husain menyuruh Zainab untuk segera kembali ke kemah menjaga keluarganya yang tersisa.

Abu Mihknaf melaporkan: Khauli bin Yazid al-Asbahi segera mendatangi tubuh Al-Husain yang tak berdaya itu, untuk memenggal kepalanya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar dahsyat, tatkala matanya menatap wajah Al-Husain. Wajah itu mirip Rasulullah. Khauli lari ketakutan dan mengurungkan niatnya. Sejenak suasananya menjadi hening, tidak seorangpun berani mendekati Al-Husain.

Tiba-tiba Syimr menghunus pedangnya, berjalan mendekati Al-Husain, dengan ganas tubuh tak berdaya itu diinjak dadanya dan diangkat kepalanya. Al-Husain mengerang kesakitan:

Lalu Syimr menghujamkan pedangnya ke leher Al-Husain, darahnya mencurat, lalu disembelehnya, kepala suci itupun lepas dari tubuhnya …….….disertai gema takbir (Allahu Akbar)…….bumi mendadak bergetar, langit gelap, petir menyambar-nyambar dan hujan darah membasahi padang Karbala.

Diriwayatkan: Tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan, mereka lalu melucuti barang-barang yang dikenakan Al-Husain. Ishaq bin Haubah merampas baju Al-Husain. Abhur bin Ka`ab melucuti celana yang dikenakan Al-Husain. Sedang Bajal bin Sulaiman merampas cincin yang berada di jari Al-Husain, dan karena sulit dilepas, maka jari-jari tangan suci Al-Husain itupun dipatahkan dan dipotongnya. Tidak hanya puas dengan itu, tubuh suci Al-Husain tanpa kepala itu diinjak-injak oleh ratusan kuda hingga seluruh tubuhnya berserakan. ……..

Ahsanallohu lakil `aza ya fatimah zahra biqotli waladikil Husain

`Adomallohu uzurona wa uzurokum ayuhal mukminun liahlil baiy biqotli Abi Abdillahil Husain

Kemah Dibakar

Sementara itu, ketika mendengar ringkikan Kuda mendekati kemah, Sukainah segera berlari kearahnya. Namun kuda itu datang berlumur darah tanpa penunggangnya yang menandakan gugurnya al-Husain as. Suakainah menjerit sejadi-jadinya:

Jerit tangis putri-putri Fatimah Zahra saling bersahutan. Mereka merangkul Kuda dan memukul-mukul pipi mereka, sambil meratap:

“Ini adalah hari kematian Muhammad Al-Mustofa, ini adalah hari kematian Ali Al-Mutado, ini adalah hari kematian Fatimah Zahra”

Tak lama kemudian pasukan musuh membakar kemah-kemah putri Fatimah. Para wanita berhamburan, berlari menyelamatkan diri. Zainab panik, berlari kesana kemari berusaha menyelamatkan dan mengumpulkan sisa-sisa keturunan az-Zahra.

Dengan suaranya yang memilukan, Zainab meratapi kejadian ini dengan menjerit: “Ya Allah, derita apa lagi yang harus kami terima dari orang-orang durjana ini? Wa Muhammadah… derita apa lagi yang akan menimpa putri-putrimu ini…Di sana Al-Husain dipenggal, dicincang dan kepalanya ditancapkan….Kemudian, di sini putri-putrimu akan mereka bakar, wahai kakek”

Imam Baqir as menceritakan: “Mereka telah memperlakukan Al-Husain dengan sangat kejam dan sadis yang seandainya musuh mereka adalah orang-orang kafir, mereka tak layak memperlakukan hal yang sedemikian rupa. Mereka telah menyembeleh Al-Husain, mencabik-cabik jasad Al-Husain, punggungnya ditusuk, dadanya diinjak-injak oleh ratusan kaki kuda, semua yang dimiliknya dirampas, bahkan yang melekat di tubuhnya sekalipun”.

Tawanan Dibawa Ke Kufah

Abu Mikhnaf menceritakan: “Para wanita keluarga Rasulullah ini kemudian ditawan dan digiring tanpa alas kaki dan penutup. Ali Zainal Abidin yang sedang sakit, merintih di atas unta dengan kedua pahanya berlumur darah.

Sebelum mereka meninggalkan Karbala, para wanita suci ini memohon dengan melas agar diijinkan untuk melihat jasad Al-Husain. Putri-putri Fatimah Zahra ini tak mampu menahan tangis, tatkala menyaksikan al-Husain bersimbah darah, kepalanya terpenggal, tubuhnya terkoyak, anggota badannya terpotong-potong dan pakaiannya dirampas. Mereka menjerit histeris sambil memukuli wajah-wajah mereka sendiri. Tidak pernah terbayang dalam benak mereka bahwa kekejaman sedahsyat ini akan menimpanya.

Perawi berkata: Demi Allah, aku masih ingat, bagaimana Zainab binti Ali meratapi Al-Husain, dengan suaranya yang parau dan hati yang hancur ia menjerit:

“Oh Muhammad! Salam sejahtera dari Tuhan penguasa langit. Lihatlah Husainmu tengah terbaring di alam terbuka dengan tubuh bersimbah darah. Badannya terpotong-potong….Oh betapa malangnya, kini putri-putrimu menjadi tawanan musuh Allah. Hanya kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad Al-Mustofa, Ali Al-Murtadho, Fatimah Zahra dan Hamazah Syyidusy syuhada, penderitaan ini aku adukan…Wahai Muhammad! Ini Husainmu terbaring di alam terbuka, menjadi sasaran terpaan angin timur. Inilah korban kebiadaban anak-anak zina…Oh alangkah malangnya! Betapa berat penderitaan yang kamu alami wahai Aba Abdillah. Hari ini adalah (bagaikan) hari kematian kakekku Rasulullah saw………”

Sementara itu, Fatimah putri Al-Husain as terlihat sedang memeluk dan menciumi jasad ayahnya yang tanpa kepala itu sambil meratap dan menangis sedih. Belum sampai puas, tiba-tiba beberapa orang datang dan menyeret Fatimah dengan paksa agar segera meninggalkan jasad ayahnya.

Kini jasad-jasad suci para suhada karbala ditinggalkan begitu saja, dibiarkan tanpa dikubur. Delapan belas kepala tanpa tubuh dari ahlul bayt dan enam puluh lebih dari sahabat Al-Husain kini ditancapkan di atas tombak. Diarak menuju Kufah untuk dipersembahkan kepada Ubaidillah Ibnu Ziyad.

Para wanita suci keluarga nabi digiring dengan menanggung segala derita dan duka nistapa serta hati yang hancur lebur. Mereka diarak melewati jalan-jalan hingga memasuki kota Kufah. Seluruh penduduk berhamburan untuk menyaksikan pertunjukan yang mengerikan ini. Di antara mereka ada yang melempari batu dan menghinakan putra-putri Fatimah Zahra hingga mereka memasuki Istana Ibnu Ziyad.

Perawi berkata: Ibnu Ziyad memandang ke arah Zainab binti Ali yang sedang berusaha menutupi kepalanya dengan sebagian kain karena kerudung dan antingnya telah dirampas di Karbala. Sambil mengacungkan tongkatnya, Ibnu Ziyad bertanya; “Siapakah wanita ini?”

“Dia adalah Zainab saudari perempuan Al-Husain as”. Jawab mereka

Dengan congkak Ibnu Ziyad berkata: “Wahai Zainab!! Demi kakekmu, berbicaralah kepadaku!

Zainab menjawab: “Apa yang kamu inginkan dari kami….wahai musuh Allah dan Rasul-Nya!…Kau telah menghancurkan kami dan mempermalukan kami ditengah-tengah orang yang zalim”.

Ibnu Ziyad kembali bertanya: ”Bagaimana kamu melihat perbuatan Allah kepadamu dan saudaramu, ketika ingin mengambil khilafah dari Yazid?. Sungguh Allah telah menggagalkan keinginan dan harapannya, sedang pertolongan Allah telah berpihak kepada kami”

Dengan tegas Zainab menjawab: “Celakalah kamu wahai putra Marjanah…andai saudaraku (al-Husain) meminta khilafah, maka itu adalah haknya dari ayah dan kakeknya. Adapun kamu, bersiaplah untuk memberi jawaban, jika kelak nanti yang menjadi hakim adalah Allah dan penuntutmu adalah Muhammad saw sedang penjaranya adalah neraka Jahannam”

Ibnu Ziyad marah bukan kepalang. Hampir saja dia mengambil keputusan untuk membunuh Zainab andai tidak ada yang menghalanginya.

Dengan nada sinis Ibnu Ziyad berkata kepada Zainab: “Allah telah menyembuhkan luka hatiku dari para pendosa dan pembangkang dari keluargamu”.

Zainab menjawab: Sungguh kamu telah membunuh pemimpinku, memotong rantingku dan mencabut pokokku. Jika kesembuhanmu adalah hal itu, berarti kekejaman itu telah membuatmu puas”.

Ali Zainal Abidin marah melihat sikap Ibnu Ziyad yang menyakiti hati bibinya. Dengan lantang beliau berkata: “Hai Ziyad….Sampai kapankah kamu akan menghinakan dan melukai hati bibiku di hadapan orang-orang yang tidak mengenalinya?”

Ibnu Ziyad marah, dan menyuruh Al-gojonya untuk memenggal kepala Ali Zainal Abidin.

Zainab tersentak, sambil memeluk erat Ali Zainal Abidin ia berteriak histeris:

“Hai Ibnu Ziyad!…kamu telah membuat hati kami terluka kembali….Cukup sudah darah kami ditumpahkan. Apakah kamu tidak ingin menyisakan satupun dari keturunan kami? Hai Ibnu Ziyad, jika demikian keinginanmu, maka tebaslah leherku bersamanya”.

Suasana sedih dan haru menyelimuti jiwa putri-putri Fatimah. Malam itu mereka tak mampu memejamkan matanya untuk tidur. Jiwa mereka gelisah dan hatinya gundah setelah menyaksikan kekejaman yang telah diperbuat oleh para musuh.

Tawanan Dibawa ke Syam

Keesokan harinya, para tawanan bersama kepala para suhada dibawa menuju syam (Damaskus) untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Mu`awiyah.

Mereka dipaksa berjalan tanpa alas kaki. Berbagai kota dan desa mereka lewati dengan tangan dan kaki terikat oleh rantai besi. Tubuh mereka lemas, wajahnya lusuh. Mereka berjalan dengan terhuyung-huyung karena lapar dan dahaga, sambil sesekali mereka dicambuk bagaikan budak.

Imam Ali Zainal Abidin menceritakan: “Oh…seandainya kalian melihat dengan mata sendiri bagaimana melepuhnya kaki bibiku Zainab….Oh..seandainya kalian menyaksikan sendiri bagaimana terbakarnya wajah bibiku Zainab, adik-adikku Fatimah, Suakainah dan putri-putri nabi lainnya…..Oh ..seandainya kalian melihat sendiri bagaimana remuknya tulang-tulang mereka….Oh.. seandainya kalian melihat sendiri penderitaan mereka….sungguh tak sanggup mata ini melihatnya….sungguh tak sanggup kepala ini membayangkan mereka…..dan sungguh tak sanggup lidah ini mengisahkan penderitaan mereka…”

Di Istana Yazid

Perawi berkata: Dengan kaki dan tangan terbelenggu, denganserta wajah pucat dan lusuh, para tawanan ini dihadapkan kepada Yazid bin Mu`awiyah yang saat itu sedang berpesta pora dan bermabuk-mabukan dalam istana. Dengan bangga Syimr menyerahkan kepala suci Al-Husain itu kepada Yazid sambil berkata:

“Akulah yang membawa tombak panjang ini, akulah yang membunuh pemimpin agama ini, akulah yang membunuh putra pemimpin para wasi dan kini aku serahkan kepala ini kepada Amiril Mukminin Yazid”

Pemandangan itu membuat Ummi Kulsum tak bisa menahan diri. Ia marah dan berkata: “Terkutuklah wahai anak orang yang terkutuk..Ketahuilah laknat Allah atas orang-orang yang zalim. Kamu bangga telah membunuh orang yang ditimang-timang jibril dan mikail di waktu bayinya, namanya tertulis di asrys Allah, kakeknya adalah Khotamunnabiyin, dan ayahnya adalah (Qotilul musyrikin) pembasmi orang-orang musyrik….. Adakah orang yang memiliki kakek seperti kakekku Mustofa dan ayah seperti ayahku Ali Murtado serta ibu seperti ibuku Fatimah Zahra?.

Kemudian kepala suci Al-Husain itu ditaruh di atas bejana emas, dan dijadikan tontonan yang mengerikan. Zainab tak mampu menahan tangisnya tatkala matanya menatap kearah kepala Al-Husain. Ia menarik-narik bajunya dan menjerit histeris dengan suaranya yang menyayat hati: “Oh Husain! Oh kekasih Rasulullah! Oh putra Makkah dan Mina! Oh…putra Fatimah Zahra penghulu para wanita! Oh putra Mustofa!

Perawi berkata: Demi Allah, jeritan Zainab yang menyayat hati itu, membuat seluruh orang yang hadir di majlis Yazid hanyut dalam tangisan dan kesedihan.

Yazid kemudian memukul-mukul kepala suci Al-Husain, menusuk-nusuk mulut dan mata suci Al-Husain dengan tongkatnya penuh kebencian, sambil mendendangkan syair:

Andai saja nenek moyangku di Badr menyaksikan

Betapa paniknya Khozroj menghindari tikaman

Niscaya mereka kan bersuka ria dan berkata, hai yazid kau luar biasa

Kami bantai mereka hingga pemimpin tertingginya

Hutang kita di Badar lunas sudah…….

Yazid kemudian mendekati Ali Zainal Abidin. Sambil mengacungkan tongkat ke arah Imam, dia bertanya: “Siapakah anak muda ini?

Mereka menjawab; “Dia adalah Ali bin Husain”

“Tidakkah Ali bin Husain telah terbunuh” tanya Yazid.

Ali Zainal Abidin menjawab: “Benar, dia Ali Akbar sedang aku adiknya”

Yazid berkata: “Ayahmu hendak mengambil khilafah (dariku). Segala puji bagi Allah yang telah memenangkan aku dan menjadikan kalian sebagai tawanan dan dijadikan tontonan bagi setiap orang, sementara kalian tidak punya penolong”

Ali Zainal Abidin menjawab: “Siapakah orang yang lebih berhak memegang khilafah daripada ayahku wahai Yazid!….Dia adalah putra Fatimah seorang putri dari Nabimu”

Yazid marah dan menyuruh al-gojonya untuk memenggal kepala Ali Zainal Abdidin. Zainab menjerit histeris: “Hai Yazid!…kamu telah membasahi padang Karbala dengan darah kami, dan tinggal anak ini, seluruh wanita putri nabi bergantung kepadanya, orang-orang dewasanya telah kamu bunuh dan wanita-wanitanya telah kamu jadikan tawanan. Kini kamu akan melumuri pedangmu dengan darah anak ini?”

Lalu Yazid menyuruh seorang khotib naik mimbar untuk berceramah menghujat Al-Husain dan Ali bin Abi Tolib. Orang itupun melakukannya.

Dengan lantang Ali Zainal Abidin berkata: “Celakalah kamu, wahai pengkhotbah!….kamu beli kepuasaan hati seorang manusia fasik dengan kemurkaan Allah Sang Pencipta. Bersiap-siaplah kamu untuk masuk ke neraka Jahannam”

Lalu Imam Ali Zainal Abidin berkhotbah mengenalkan dirinya dan keluarganya serta kedudukan mereka di sisi Allah. Jerit tangis pun membahana memenuhi majlis, semua yang hadir hanyut dalam kesedihan, rasa iba muncul dari hati mereka. Yazid kawatir terjadi sesuatu, maka dia menyuruh seseorang mengumandangkan azan untuk meredakan suasana:

Sang Muazzin segera bergegas, dan ketika mengucapkan kalimat: ???? ????

Imam Ali Zainal Abidin menjawab: ???? ????? ????? ????? ???? ???

Ketika sang Muazzin mengucap: ???? ?? ?? ??? ??? ????

Ali Zainal Abidin menjawab: ???? ??? ?? ?? ???? ???? ??? ?? ?? ????

Ketika sang Muazzin mengucap: ???? ?? ????? ???? ????

Ali Zainal Abidin menangis, air matanya mengalir. Beliau menoleh ke arah Yazid dan berkata: ?? ???? ????? ????? ???? ??? ?? ???? (Hai Yazid! Demi Allah aku bertanya kepadamu; Muhammad itu kakekku ataukah kakekmu?)

Yazid menjawab: ?? ??? (“Dia adalah kakekmu”)

Lalu Ali Zainal Abidin bertanya: ??? ???? ??? ???? (Lalu kenapa kamu bunuh keluarganya)?.Yazid membisu dan pergi meninggalkan tempat duduknya.

Suasana haru dan sedih menyelimuti keluarga nabi. Minhal bin Umar yang sejak tadi hadir dalam majlis, dia mendekati Ali Zainal Abidin dan menyapanya: ”Wahai putra Rasulullah….bagaimanakah keadaanmu?

Sambil meneteskan air mata, Imam Ali zainal Abidin menjawab: “(Bayangkan) bagaimana keadaan orang yang ayahnya terbunuh tanpa penolong, menyaksikan keluarganya sebagai tawanan, digiring tanpa satir dan penutup…..tidakkah kamu menyaksikan aku sebagai tawanan yang hina tanpa penolong dan pembela? Kini aku dan keluargaku memakai pakaian yang compang-camping…..jika kamu bertanya tentang keadaanku; seperti yang kamu lihat, inilah aku. Musuh-musuh telah menghancurkan diriku, sementara kematian pagi dan sore selalu mengincarku”.

“Orang-orang Arab bangga atas `Ajam karena Muhammad dari mereka, orang-orang Qurays bangga atas seluruh Arab karena Muhammad dari mereka. Sementara kami keluarganya dibantai dan dianiaya. Sungguh sangat besar penderitaan yang kami rasakan…….kini kekuasaan berada di tangan Yazid dan bala tentaranya. Sedang putra-putri Mustofa telah menjadi budak yang hina”.

Kembali ke Madinah

Setelah beberapa hari berada di Syam (Damaskus), para tawanan akhirnya dipulangkan ke Madinah dengan dikawal ketat. Mereka meminta dilewatkan padang Karbala untuk menyampaikan perpisahan kepada jasad-jasad suci syuhada Karbala. Di sana mereka berjumpa Jabir bin Abdillah al-Anshori bersama rombongan yang hendak berziarah kepada Al-Husain. Jerit tangis kembali meledak dan kesedihan tak lagi bisa dibendung. Mereka saling bertakziah dan mengucap bela sungkawa serta berziarah kepada jasad para suhada Karabala. Mereka pun mengucapkan salam perpisahan:

Salam bahagia wahai jasad-jasad suci Karbala… Salamat jalan wahai Husain kekasihku…Selamat jalan wahai Ali akbar.. Selamat jalan wahai al-Abbas…selamat berpisah…

Sungguh orang-orang zalim akan mengetahui akibat apa yang mereka lakukan terhadap kalian…

Usai berziarah, mereka kemudian berangkat menuju Madinah. Semua toko dan pasar tutup, Madinah sepi dan sunyi. Seluruh penduduknya berkabung dan berduka atas terbunuhnya cucu Rasulullah Al-Husain. Ummu Salamah istri nabi beserta para wanita Madinah, menyambut putri-putri Rasulullah dengan isak tangis dan kesedihan yang mendalam. Hari itu adalah hari duka bagi penduduk Madinah. Mereka membuat majlis `aza` untuk mengenang kembali terbunuhnya Imam Husain cucu Rasulullah tepat pada hari ke empatpuluhnya. Hari itu bagaikan hari dimana Rasulullah meninggal dunia.

Imam Ali Zanal Abidin, Zainab, Ummi Kulsum dan putri-putri Zahra lainnya tak mampu menahan rindu mereka terhadap kakeknya. Mereka segera menuju kubur Rasulullah. Ummi Kulsum menangis sedih, air matanya bercucuran. Dengan suara pilu ia mengucap salam kepada Rasulullah:

“Salam sejahtera wahai kakek!…aku mengadu kepadamu tentang penderitaan cucu kesayanganmu Al-Husain”

Kubur nabi seakan bergetar, seluruh yang hadir menangis sedih dan meratap. Semantara itu Imam Ali Zainal Abidin bersimpuh menciumi kubur kakeknya Rasulullah. Disertai derai air mata kesedihan, beliau menaruh pipinya di atas pusara kakeknya Rasulullah sambil mengaduh:

Oh…Aku mengadu kepadamu…wahai kakek…wahai sebaik-baik utusan

Kekasihmu telah terbantai dan keturunanmu terhinakan.

Sedang Zainab tak henti-hentinya merangkul dan memeluk serta mencium kubur Rasulullah. Sambil menangis terisak-isak, ia mengadu kepada kakeknya Rasulullah:

Waamuhammadah!!!…..

Oh…Alangkah beratnya apa yang kami hadapi setelah kepergianmu…

Husainmu ditikam, lehernya dipenggal, jasadnya diinjak-injak kaki kuda

Putri-putrimu ditawan, hampir-hampir diperbudak

Segerakan kami menyusulmu wahai kakekku Rasulullah

Segerakan kami berjumpa dengan ibuku Fatimah Zahra………

*Maqtal Ust. Miqdad Turkan untuk arbain di gedung Haji Jepara 2008

(daruttaqrib/sa)

One Response
  1. author

    fuad9 years ago

    salam sejahtera atas Husain as………
    salam sejahtera atas Ali bin Husain as……..
    salam sejahtera atas anak2 Husain as…………
    salam sejahtera atas sahabat2 Husain………..
    warahmatullah wa barokatuh.

    Reply

Leave a reply "Maqtal Imam Husain as IV"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.