Maqtal Imam Husain as III

No comment 1508 views

Bismillâh-ir-Rahmân-ir-Rahîm

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Alamîn. Allâhumma shalli ‘ala Muhammadin wa ali Muhammad.

Shallallâhu ‘alaika ya Ibna Rasulillah

Shallallâhu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah

Shallallâhu ‘alaika ya Sayyidas Syuhada’

Shallallâhu ‘alaika ya Husain ibna ‘Alî wa rahmatullâhi wa barakâtuh

Salam sejahtera bagimu wahai pejuang agung Karbala

Salam sejahtera bagimu wahai pahlawan Islam nan mulia

Salam sejahtera bagimu wahai penyuluh perjalanan umat manusia

Semoga Allah menjadikan kami orang-orang yang dapat meneruskan jejak langkahmu

Dan memperoleh syafaatmu kelak berkat wilayahmu

Disebutkan dalam buku Amali karya Syaikh Shaduq Imam Shadiq as berkata, “Seseorang yang meliburkan pekerjaannya di hari Asyura dan bersikap bertentangan dengan Bani Umayah yang menjadikan hari Asyura sebagai hari penuh berkah, Allah akan memberikan kepadanya apa yang dibutuhkan di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang bersedih di hari Asyura, sebagai balasannya Allah akan menjadikan hari menakutkan di Hari Kiamat menjadi hari gembira baginya.”

Sebuah hadis dari buku Wasail Al-Syiah mengutip ucapan Imam Shadiq as yang berkata, “Saya menyukai majelis berkabung Asyura yang kalian selenggarakan. Dalam majelis yang semacam ini kalian menghidupkan “urusan kami”. Allah merahmati siapa saja yang menghidupkan urusan kami.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, Allah berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Setiap hamba-Ku yang menangis di hari syahadah anak Musthafa saw (hari Asyura) atau berusaha untuk menangis dan mengucapkan belasungkawa atas musibah yang menimpat cucu Rasulullah saw akan dimasukkan ke dalam surga.”

—————————————————————

KARBALA seperti kata sebuah riwayat adalah rangkaian dari dua kata “karbun” dan “bala’”, yang artinya adalah kesedihan dan derita.

Karbala adalah syiar jihad keluarga Nabi yang mulia di dalam menegakkan kalimat al-haq.

Karbala adalah simbol perjuangan Ahlul Bait Nabi dan para pengikutnya di dalam upaya me-misahkan antara Islam Muhammadi dan Islam Umawi.

Keagungan peristiwa Karbala dengan jelas terbukti melalui kehadiran Imam Husain as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di sana dalam rangka menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.

Bukankah Husain bin ‘Alî as. adalah manusia surga seperti yang disabdakan oleh datuknya, Nabi saw, “Innal Hasan(a) wal Husain sayyida syabâb ahlil jannah…” “Sungguh Hasan dan Husain ada-lah dua penghulu pemuda surga…”

Bukankah Husain termasuk dalam golongan Ahlul Bait Nabi yang disebutkan berkali-kali dalam al-Quran; dan bahkan dalam salah satu sabdanya Nabi berkata, “Anâ silmun liman sâlamtum, wa harbun liman hârabtum”, bahwa aku akan damai dengan siapapun yang berdamai dengan kalian, dan juga akan perang dengan siapapun yang perang dengan kalian.

Bukankah Husain adalah orang yang di-sabdakan Nabi, “Man ahabbanî wa ahabba hadhaini wa abâhuma wa ummahumâ kâna ma’î fil jannah”, bahwa siapa yang cinta kepadaku dan cinta kepada kedua orang ini (Hasan dan Husain) serta kedua ayah dan ibunya maka dia akan ber-samaku di surga.”

Dalam riwayat Asma’ binti ‘Umais dikisahkan bahwa suatu hari Nabi saw sedang memangku Husain as yang masih bayi. Kemudian Nabi menangis sambil memandangi wajah Husain as. Asma’ bertanya, “Ya, Rasulullah! Ayahku dan ibuku adalah tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi sehingga kau menangis ketika memandang wajah putramu Husain?”. “Wahai Asma’!” Sahut Nabi berlinang air mata. “Anakku ini kelak akan dibunuh oleh se-kelompok umatku yang zalim. Sungguh, aku tak berkenan memberi mereka syafaat kelak di hari kiamat…”

Umat yang disebut oleh Nabi sebagai al-fi’atul bâghiyah atau umat yang zalim ini adalah musuh-musuh Husain yang memerangi beliau dan 72 sahabat serta belasan Ahlul Baitnya di sebuah padang sahara yang bernama padang Karbala. Pasukan mereka dipimpin oleh Ibnu Ziyad dan Umar bin Sa’ad atas perintah Yazid bin Muawiyyah ‘alaihil la’nah dengan jumlah pasukan sekitar 30.000 orang.

Karbala adalah saksi hidup makna pengorbanan ke-pada agama Allah. Semua pe-juang Karbala mulai dari Imam Husain yang paling suci sampai kepada anak-anak karbala yang tak berdosa, semuanya berkor-ban demi tegaknya agama Allah Swt. Husain menjelaskan perjuangannya menentang ke-zaliman Yazid dan kemun-karan-kemunkaran yang dila-kukannya: “Kami adalah keluarga Nabi. Tambang Risalah. Tem-pat kunjungan para malaikat dan pusat rahmat Ilahi. Karena kamilah maka Allah membuka dan mengakhiri segala sesuatu. Sementara Yazid ada-lah seorang yang fasik, peminum arak, pembunuh nyawa yang tak berdosa dan terang-terangan me-langgar perintah Allah. Orang seumpamaku tak- kan mungkin akan memberinya bai’at.”

Dalam pandangan Imam Husain, keluarga Nabi yang suci yang merupakan kriteria kebenaran tidak boleh dicampuradukkan dengan kebatilan yang yang dibawa oleh Yazid. Islam Muhammadi harus dipisahkan dengan Islam Umawi. Nabi Muhammad harus dibedakan dengan Abu Sufyan. ‘Alî tidak boleh digandengkan dengan Muawiyyah. Husain tidak boleh dipolusi dan dinodai oleh orang se-perti Yazid. Umat harus diselamatkan dari peng-kaburan ideologi dan akidah seperti yang dike-hendaki oleh Yazid dan orang-orangnya.

Husain berkata lagi:  “Ayyuhannas. Dengarlah kata-kataku dan janganlah kalian terburu-buru ingin memerangiku hingga aku bisa memberi kalian nasehat yang mana kalian berhak mendengarnya. Lihatlah siapa diriku dan diri kalian. Sadarlah dan perhatikan baik-baik kedudukan aku di sisi kalian. Apakah kalian boleh membunuhku dan menginjak-injak keluargaku. Bukankah aku adalah putra dari putri Nabi kalian dan putra washy-nya dan orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad saw? Bukan-kah Sayyidina Hamzah penghulu para syuhada adalah pamanku? Bukankah Ja’far at-Thayyar yang memiliki dua sayap di surga adalah pa-manku? Bukankah kalian pernah mendengar sabda Nabi tentangku dan saudaraku Hasan bahwa kami adalah penghulu pemuda surga?”

“Demi Allah. Aku tidak keluar ke Kar-bala ini dengan keangkuhan dan mencari perang. Sungguh aku keluar ke sini untuk mencari ishlah demi kepentingan umat datukku Muhammad saw. Aku ingin menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Aku ingin berjalan di jalannya datukku Muhammad dan ayahku ‘Alî al-Mur-tadha…”

Pidato panjang Husain di Karbala menje-laskan kepada kita betapa suci perjuangannya itu. Beliau ingin menjunjung tinggi agama Allah dan ajaran datuknya Muhammad saw. Beliau siap untuk berkorban apapun demi tegaknya agama ini. Beliau bahkan membawa putra dan putrinya agar mereka juga siap berkorban untuk menya-lakan api agama Allah sehingga sinarnya bisa sam-pai ke seluruh umat manusia dan bisa menerangi seluruh isi jagad raya.

Ketika tekad sucinya itu diancam dan digertak oleh musuh-musuh Allah, Husain menjawab dengan kalimat terkenalnya yang kemudian meng-gerakkan seluruh semangat pejuang Islam yang datang setelahnya. “In kâna dînu Muhammad lam yastaqim illâ bi saifî, fayâ suyûfu khudzîni…” “Apabila aga-ma Nabi Muhammad tidak bisa berdiri kecuali de-ngan merenggut nyawaku, maka aku rela bersimbah darah demi tegaknya agama Muhammad saw….”

Karbala kemudian memang menyaksikan pertumpahan darah yang sangat tragis sepanjang se-jarah umat manusia. Butir-butir pasir Karbala menyaksikan kesetiaan sejum-lah orang-orang mukmin yang cinta ke-pada Allah, kepada Rasulullah saw dan kepada keluarganya.

Ketika peperangan Karbala telah dikobar-kan oleh pasukan Umar bin Sa’ad, ribuan anak panah dan tombak dilemparkan ke kemah Husain as. Hampir setiap sahabat dan keluarga Husain terluka karenanya. Seorang wanita tua, istri ‘Abdullâh bin Umair berkata kepada suaminya ‘Abdullâh, “Ya ‘Abdallâh, bi abi anta wa ummi, qâtil dûnat tayyibîn dzuriyyata Muhammad saw…” “Wahai ‘Abdallâh, demi ayah dan ibuku. Berperanglah demi mempertahankan anak zuriat Muhammad saw…”

Tak lama setelah ia keluar, terdengar lantunan salam, “Alaika minnis salam ya Aba ‘Abdillâh.” ‘Abdullâh bin Umair gugur. Kepalanya dilemparkan ke kemah Husain. Ummu Umair menyambut kepala sang suami dengan senyum penuh keimanan. Dibersihkannya pipinya yang tak berleher dari pasir-pasir Karbala. Suaranya lirih, “Hanîan laka bil jannah…” “Selamat… selamat atas keberhasilanmu wahai suamiku tercinta. Sur-galah balasan bagimu dari Allah…”

Suara lirih istri sejati ini terdengar oleh Syimir. Dengan geram ia perintahkan kepala Ummu Umair juga dipenggal. Jadilah ia wanita pertama yang syahid di Karbala.

‘Amir bin Qarthah al-Anshârî juga adalah sahabat Husain yang sangat setia. Ia tidak ingin sedikitpun luka mengenai putra Fâthimah al-Zahra ini. Setiap kali anak panah ditujukan kepada Husain, ia pasang badan untuk melindunginya. Ia berjuang mati-matian untuk menjaga putra Nabi dengan segala daya, hingga badannya ditancap-tancap pulu-han anak panah. Amir tidak lagi merasakan sakitnya tu-sukan tombak dan panah. Cintanya kepada Husain me-ngobati seluruh deritanya di Kar-bala. Dengan tubuh yang ber-simbah darah seperti itu ia menghadap.

“A wafaitu ya Husain…” “Apakah aku telah tunaikan kesetiaanku untukmu ya Husain?”

“Na’am. Anta amâmi fil jannah. Faqra’ Rasûlallâh ‘annîs salâm…” “Ya. Engkau akan berada di hadapanku kelak di surga. Dan sampaikan salamku kepada Rasulullah…”

Demikian pula dengan Muslim bin ‘Ausajah.

Riwayat berkata bahwa sebelum Muslim bin ‘Ausajah gugur, Habib bin Muzahir sempat memeluknya dan mencium-cium pipinya. Habib berkata, “Ya Muslim, seandainya engkau punya wasiat yang bisa kusampaikan, katakanlah kepadaku…”

Muslim berkata, “Ya, Habib! Aku berwa-siat kepadamu agar kau bela Husain bin ‘Alî sam-pai tetes darahmu yang terakhir. Pastikan dirinya selamat meskipun kau gugur karenanya.”

Bahkan anak-anak remaja Karbala tak mau ketinggalan dalam membela Husain as. Putra Wahab tiba-tiba keluar dari kemahnya sesaat sete-lah melihat ayahnya jatuh ditebas musuh. Husain sempat menghalanginya.

“Wahai anakku! Engkau masih belum wa-jib berjihad.” Kata Husain. “Ayahmu baru saja terbunuh. Ibumu tentu tidak ingin kehilanganmu setelah ayahmu syahid?”

Anak remaja ini kemudian datang meme-luk Husain sambil berkata, “Demi jiwaku yang ada di tangan Allah. Ya Husa-in, ibuku bangga denganku apa-bila aku bisa ter-bunuh dalam mem-belamu. Perke-nankan aku ke-luar membela-mu, ya Husain…”

Remaja ini kemudian gugur menyusul sang ayah.

Demikian juga dengan put-ra Muslim bin Ausajah. Ayah-nya gugur. Kepala-nya dipenggal. Sang ibu memintanya untuk mem-bela Husain. Sang ibu tidak rela anaknya hidup sementara Husain dan anak-anak Nabi yang lain disakiti. Ia perintahkan putranya keluar. Tak lama berselang kepala putra Ausjah tercinta dilempar-kan ke kemah sang ibu yang mulia ini. Bukan je-ritan tangis yang diraungkannya. Bukan suara se-sal yang dikumandangkannya. Bukan rasa iba yang dipintanya. Ia berkata dengan suara yang dide-ngar oleh isi alam semesta: “Ahsanta ya bunayya…”

“Demi Allah! Ahsanta ya bunayya…Engkau telah berbuat baik dan telahberbakti kepadaku wahai putraku dan penyejuk hatiku … Engkau telah senangkan hati Fâthimah al-Zahra. Engkau telah bahagiakan jiwa Rasulullah… Engkau telah mengabdi kepada Husain bin ‘Alî…”

Kesyahidan mereka kemudian disusul oleh syahadah putra-putra Ahlul Bait Nabi saw. ‘Alî Akbar minta izin dari ayahnya untuk keluar ke medan perang Karbala. Pemuda tampan ini adalah putra Husain yang berwajahkan datuknya Muhammad saw. Sehingga Husain sering berkata, “Apabila kami rindu kepada Rasulullah, maka kami akan melihat wajah ‘Alî Akbar.”

Husain terasa berat memberi izin putra-nya. Apakah ia akan biarkan ‘Alî Akbar pergi menjemput maut? Husain mengangkat tangannya ke arah langit dan berdoa, “Sak-sikan ya Allah, telah mengha-dap mereka sese-orang yang paling mirip wajah-nya dengan wajah Rasulullah….”

‘Alî Akbar keluar dengan ke-tangkasan pe-rang ‘Alî bin Abi Thalib. Lebih dari seratus mu-suh-musuhnya tewas di pedang-nya. Tapi kehau-san yang mence-kiknya memaksanya pulang ke kemah ayahnya.

“Wahai ayah tercinta.” Kata Akbar. “Rasa haus telah mencekikku. Besi yang berat ini telah menghimpitku. Adakah setetes air yang bisa kuteguk?”

Di dalam riwayat dikatakan bahwa Hu-sain memberikan kepadanya cincinnya untuk di-kecup. Sebagian yang lain berkata bahwa Husain mengulurkan lidahnya untuk diisap oleh putra-nya tercinta. Tapi apa daya. Lidah Husain lebih kering dari kayu-kayu sahara yang kering.

‘Alî Akbar keluar lagi dari kemahnya untuk kedua kali. Ia kini tidak segagah sebelum-nya. Dalam keadaan badan yang sudah mulai goyah tiba-tiba kepalanya dipukul dari belakang oleh seorang durjana. ‘Alî berteriak, “ya abatâh…” “Duhai ayahku Husain…”

Kuda ‘Alî berlari tanpa tujuan yang jelas, hingga membawanya ke kemah musuh. Di sana ‘Alî dikepung dari berbagai sudut. Badan ‘Alî dicabik-cabik dengan tombak-tombak yang tajam. Pedang yang tajam mengiris-iris mukanya yang memancar sinar Muhammad saw. Suaranya yang parau kemudian mengirim salam terakhir untuk ayahnya, “’Alaika minnis salam ya Aba ‘Abdillâh…”

Setelah satu persatu isi keluarganya gugur, harapan Husain tertumpu pada saudaranya Abul Fadhl ‘Abbas. Ia adalah pembawa bendera pasukan Husain sekaligus pelindung putri-putri al-Zahra yang kini mulai yatim di Karbala.

Suara tangis mereka yang haus di kemah Karbala yang panas telah mengiris-iris hati Abbas bin ‘Alî as. Ia berjanji akan menembus pasukan musuh untuk bisa menjemput air. Ia berjanji kepada wajah-wajah Fâthimah dan Khâdijah untuk bisa meminum walau setetes air Furat.

Sebelum tiba di tepi sungai Syimir menyaksi-kan gelagat ‘Abbas yang ingin mengambil air. Dengan suara lantang ia berkata, “Hai anak Abu Turab, sekiranya seluruh air di dunia ini berada di bawah kekuasaanku, aku tidak akan berikan setetes pun kepada kalian sebelum kalian memberikan bai’atnya kepada Yazid…”

Ketangkasannya memang bisa menghantar-nya sampai ke tepian sungai. ‘Abbas ingin minum menghilangkan rasa haus yang telah mencekiknya selama tiga hari. Tangannya telah penuh dengan air. Bibirnya hampir-hampir saja menyentuh sejuknya air Furat. Namun ia teringat akan Husain dan keluarga Nabi di kemah sana. “Demi Allah.” Kata ‘Abbas. “Tidak layak aku minum air ini sementara kehausan telah mencekik saudaraku Husain…”

Syimir kemudian memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk menghadang Abbas dan merampas atau menumpahkan airnya. Abbas menghadapi mereka dengan ketangkasan perang ‘Alî bin Abi Thalib. Dari balik pohon kurma, tiba-tiba seorang pengecut menebaskan pedangnya memotong tangan kanan Abbas. Abbas menang-kap wadah air dengan tangan kirinya. Ia ingin menyelamatkan air itu agar bisa diminum oleh bibir-bibir kecil Fâthimah. Pedang yang lain kemudian menebas tangan kirinya. Abbas masih berusaha menyelamatkan air itu dengan menggi-git talinya. Tapi para durjana itu memanah wadah air itu sampai tumpah dan jatuh dari mulutnya. Kepalanya kini terhantam besi. Badannya disayat-sayat dengan pedang yang tajam. Perutnya ditikam. Abbas menangis, bukan karena sakit. Ia menangis karena tak dapat menghilangkan haus putri-putri Fâthimah. Tak lama Husain mende-ngar suara Abbas yang terakhir, ‘alaika minnis salam ya Aba ‘Abdillâh…”

Sepeninggalnya Abbas, Husain berkata, “Kini tulang punggungku patah sudah. Kini saatnya aku menghadap Tuhanku…”

Husain berdiri kokoh di hadapan ribuan musuh yang mengepungnya. Husain menguman-dangkan falsafah perjuangannya di Karbala.

Al-mautu awla min rukub al-‘ari

Wal ‘aru aula min dukhulin nari

Anal Husain ibnu ‘Alî

‘alaitu an la antsani

ahmi ‘iyalati abi

amdhi ‘ala dinin nabi

(Sungguh, mati lebih utama ketimbang jatuh pada kehinaan;

dan lebih utama ketimbang masuk ke dalam api neraka jahannam

akulah Husain bin ‘Alî

yang tak akan pernah tunduk pada kezaliman

aku bela keluarga ayahku

aku berjalan di atas agama sang Nabi)

Sejarah mencatat banyak lawan tewas di tangannya. Husain dikepung oleh ribuan orang. Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukannya menyerang Husain dari berbagai penjuru. Dia berkata. “Celaka kalian. Inilah putra singa orang Arab. Inilah putra ‘Alî bin Abi Thalib. Serang dan kepung dia dari berbagai sudut!!!”

Peperangan yang tak seimbang itu akhir-nya memaksa Husain duduk sejenak istirahat melepas rasa letihnya. Tiba-tiba Abu Hatuf membidikkan anak panahnya ke dahi Husain. Tempat sujud itu kini menyemprotkan darah segar. Wajah Husain bersimbah darah. Janggutnya kini berwarna merah. Husain berkata, “Ya Allah. Engkau saksikan sendiri apa yang dilakukan oleh hamba-hambamu yang durhaka ini ke-padaku. Ya Allah hancurkan mereka. Habisi me-reka. Jangan Kausisakan satupun mereka di atas muka bumi. Jangan Kau ampuni mereka…”

Husain berdiri lagi dengan tenaga yang tersisa. Darahnya yang banyak tumpah telah menguras seluruh tenaganya. Saat wajahnya terang-kat, tiba-tiba sebuah batu besar dilemparkan dan per-sis mengenai dahinya yang luka. Darahnya tambah tumpah. Sebagian darah suci itu menutupi matanya. Husain mengambil ujung bajunya untuk member-sihkan matanya. Tengah tangannya terangkat tiba-tiba sebuah anak panah bermata tiga ke-mudian dilesatkan dan persis mengenai jan-tungnya. Dada Husain luka. Jantungnya robek. Anak panah itu bahkan menembus dadanya hingga ke belakang. Husain menyebut-nyebut nama Allah, “Dengan asma’ Allah. Dengan ban-tuan Allah. Dan di atas agama Allah. Ilahi Engkau Maha tahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra Nabi-Mu yang masih ada di atas muka bumi ini…”

Darah tumpah itu ditampung dengan kedua tangannya, lalu dilemparkannya ke langit. Demi Allah, tidak setetespun dari darah itu yang kemudian jatuh ke bumi. Demi Allah, sungguh darah Husain tidak lebih hina dari darahnya unta Nabi Shaleh as.

Husain mengambil sisa-sisa darah yang ada lalu mengoles-oleskannya ke wajahnya seraya berkata, “Seperti inilah aku akan berjumpa de-ngan datukku Muhammad saw. Aku akan katakan bahwa yang membunuhku adalah Fulan bin Fulan…”

Husain jatuh tersungkur. Wajahnya bukan hanya berlumuran darah. Pasir Karbala hampir-hampir menyelimuti se-kujur tubuhnya. Saat Husain tergeletak Umar bin Sa’ad berteriak, “Turun kalian dan penggal lehernya!!!”

Imam Bâqir as berkata, “Setelah itu mereka perlakukan Husain sedemikian buruk hingga kepada anjingpun mereka dilarang memperlakukan sedemi-kian.”

Mereka tusuk Husain dari belakang. Mereka sobek Husain dengan pedang yang tajam. Mereka tombak kepala Husain. Mereka lempar Husain dengan batu. Bahkan, mereka penggal kepalanya yang mulia…

Beliau pun berkata: “Sesungguhnya langit menangis untuk al-Husain selama 40 hari (sejak kesyahidannya). Matahari memerah di kala terbit dan memerah di kala terbenam.”

Lihatlah Ummu Kultsum, ketika melihat pusara kakeknya, Rasulullah saww. Dia roboh di depan pintu masjid kakeknya; menangis sambil merangkak dan berusaha mendekati pusara Rasulullah saww.

“Salam sejahtera atas kakekku! Oh, betapa kami tersiksa karena rindu padamu! Kini, akulah wanita tanpa pelindung; bawalah aku bersamamu…”

Ali Zainal Abidin menyusul bibinya; menghampiri pusara kakeknya sambil menangis.

“Salam sejahtera bagimu, Rasulullah! Kami sungguh kesepian dan sengsara, umatmu telah membunuh putramu dan menganiaya putri-putrimu…”

Imam Muhammad al-Baqir berkata,

Aku tidak bisa menceritakan lebih jauh tentang derita al Husain. Sungguh bibir ini kelu, dan lisan ini seakan terkunci, tidak keluar darinya kecuali tangisan, keluhan dan ratapan. Semoga kakekmu Muhammad al Mustofa, Ayahmu Ali al Murtadho, bundamu azzahra dan cucumu, penuntut balas derita dan darahmu meridhoi dan menerima apa yang kami lakukan ini.

Wa ‘alaika minnas salâm ya Abâ ‘Abdillâh…

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.

*Sebagian dari Maqtal Ustad Husein Shahab

(daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Maqtal Imam Husain as III"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.