Maqtal Imam Husain as I

No comment 1091 views

Islam adalah agama yang dibangun atas dasar cinta dan ketaatan kepada Allah, Rasul dan Ahlul Bayt as. Iman seseorang tidak akan sempurna hingga mencintai Rasulullah melibihi dirinya sendiri. Seorang mukmin adalah orang yang telah meleburkkan dirinya dalam kecintaan kepada Rasulullah dan Ahlul baytnya as, larut dalam kegembiraan dan kesedihan mereka. Riwayat menyebutkan: “Syiah kami adalah orang yang bergembira karena kegembiraan kami, dan bersedih karena kesedihan kami”.

Tidak ada hari yang sangat menyedihkan bagi Rasulullah saw dan keluarganya, seperti bulan Muharram. Imam Ridlo as mengisahkan: “Ayahku, apabila memasuki bulan Muharram (syuro), tidak pernah terlihat ketawa, kesedihannya tampak sekali hingga sepuluh hari. Apabila memasuki hari kesepuluh (10 syuro), maka hari itu adalah hari musibah, hari kesedihan dan tanginsan baginya. Inilah hari dimana al-Husain as dibunuh”. Imam Ridlo juga bersabda: “Barangsiapa yang meningalkan urusan dunianya di hari Asyuro, maka Allah akan menyelesaikan urusan dunia dan akhiratnya, dan barangsiapa yang menjadikan Asyuro sebagai hari musibah dan kesedihan serta tangisannya, maka Allah akan menjadikan hari kiamat sebagai hari kegembiran dan kesenangan baginya, dan karena kami, maka surga akan menjadi hiburan baginya. Barangsiapa menjadikan Asyuro sebagai hari keberkahan dan hari untuk mengumpulkan hartanya di rumahnya, maka Allah tidak akan memberkahi apa yang telah dikumpulkannya dan kelak di hari kiamat akan dibangkitkan bersama Yazid, Ubaidillah Ibnu Ziyad dan Umar bin Sa`ad yang terkutuk”.

Benar, 10 asyura adalah hari dibantainya keluarga Nabi saw oleh Bani Umaiyah. Perisatiwa ini tidak lepas dari akibat sikap kaum muslimin yang menolak menerima pesan Nabi setelah wafatnya (berpegang pada al-Quran dan ahlul baytnya). Sehingga khilafah yang seharusnya dipegang oleh manusia-manusia suci, jatuh di tangan orang-orang seperti Muawiyah dan Yazid bin Mua`wiyah. Yazid adalah sosok manusia jahat seperti ayahnya Mu`awiyah. Jika Muawiyah berhasil membunuh Ali bin Abi Tholib dan Al-Hasan bin Ali, maka Yazid pun berusaha menyingkirkan Imam Husain as dengan memaksanya baiat kepadanya, namun beliau menolaknya.

Imam Husain dikejar untuk dibunuh. Madinah tidak lagi aman baginya. Beliau pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah. Selama di Makkah, 12000 surat telah beliau terima dari Kufah, yang isinya meminta agar Al-Husian datang ke untuk melakukan perlawanan terhadap Yazid. Al-Husain mengutus Muslim bin Agil ke Kufah untuk mempersiapkan kehadirannya.
Ibnu Ziyad ke Kufah

Namun kehadiran Muslim dan persiapan rakyat Kufah menyambut Al-Husain, membuat Yazid bin Muawiyah marah. Ubaidillah Ibnu Ziyad gubernur Basyrah diperintahkan mengambil alih kepemimpinan Nukman bin Basyir di Kufah sekaligus membunuh Muslim bin Aqil dan pendukungnya.

Muslim pergi dan bersembunyi di sebuah rumah yang dihuni oleh seorang wanita tua. Ketika malam tiba, Muslim bin Aqil bergegas hendak meninggalkan rumah tersebut, namun tiba-tiba sorang pemuda datang dan masuk ke dalam rumah. Muslim segera kembali ke tempat persembunyiannya. Pemuda itu adalah putra wanita tersebut dan bekerja sebagai tentara Ibnu Ziyad. Ketika menyaksikan sikap ibunya yang mencurigakan, pemuda itu mendesak ibunya untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.

Dengan sumpah serapah, pemuda itu berjanji tidak akan menceritakan kepada siapapun.
Di pagi yang cerah, pemuda itu terbangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju Istana Ibnu Ziyad, menceritakan bahwa Muslim bin Aqil bersembunyi di rumahnya. Ibnu Ziyad tersentak, lima ratus pasukan berkuda segera diperintahkan untuk menangkap Muslim bin Aqil.

Bagaikan harimau yang kelaparan, Muslim menyeruak, menyerang ke kanan dan kekiri hingga banyak korban berjatuhan. Muslim dikepung dari berbagai arah, sebagain menyerang dengan panah dan tombak, sebagian lainnya dengan pedang, beliau terdesak dan tertangkap. Dengan tangan diikat, Muslim diseret dengan kuda menuju Istana Ibnu Ziyad. Seluruh tubuhnya terluka, darah segar membasahi raut wajahnya. Muslim dihadapkan kepada Ubaidillah Ibnu Ziyad. Dengan tatapan mata yang buas dan kejam, Ibnu Ziyad memaksa Muslim menunduk memberi hormat kepadanya. Sembari wajah dan tubuh berlumur darah, dengan gagah Muslim menolak memberi hormat. Baginya, Ibnu Ziyad tidak lebih hanyalah seonggok binatang buas yang hina. Dengan tegas beliau berkata:
“Demi Allah, aku tidak memiliki pemimpin kecuali Al-Husain. Dan tidak ada yang tunduk kepada Yazid kecuali karena penakut”.
Darah Ibnu Ziyad mendidih, dengan suara lantang ia menyuruh algojonya membawa Muslim ke atap Istana untuk dibunuh. Tangan dan kakinya diikat, tubuhnya berlumur darah. Sambil menahan rasa sakit, Muslim memohon untuk melakukan shalat dua rekaat sebelum dirinya dibunuh. Umar bin Sa`ad menolak dan tidak mengijinkannya.

Muslim menangis, air matanya berderai membasahai wajahnya. Dengan posisi kaki diikat di atas dan kepala dibawah, Muslim digantung di atas Istana. Mulutnya tak henti-hentinya berdoa dan berzikir kepada Allah serta mengutuk manusia-manusia durjana. Tak lama kemudian Muslim dilempar dari atas Istana, terjungkal jatuh dan kepalanya pecah. Muslim mengerang kesakitan. Para durjana itu segera mengejar Muslim bin Aqil yang sedang sekarat dan tanpa belas kasihan, mereka memenggal kepala Muslim bin Aqil teterlepas dari tubuhnya. Hani bin Urwah yang mendekam di penjara, diseret, diinjak-injak tubuhnya dan ditebas kepalanya dengan sebilah pedang hingga putus dari lehernya. Kedua kepala tersebut kemudian dikirim oleh Ubaidillah Ibnu Ziyad kepada Yazid sebagai hadiah.

Imam Husain Ke Kufah:
Dengan terbunuhnya Muslim bin Aqil, berita tentang Kufah tidak lagi pernah datang. Al-Husain dicekam kebingungan dan kesedihan. Seluruh keluarganya dikumpulkan dan diajak pergi menuju Kufah.

Riwayat menyebutkan; sebelum berangkat ke Kufah Al-Husain sempat mampir ke Madinah dan berziarah di makam kakeknya Rasulullah saw. Setelah melakukan shalat dua rekaat, diiringi derai air mata dan kesedihan yang mendalam, Al-Husain mengadahkan tangannya ke langit dan berdoa:

“Ya Allah ini adalah kubur nabi-Mu, aku adalah cucu nabi-Mu. Aku telah mendapat kesulitan yang telah Engkau ketahui. Ya Allah, aku cinta kebaikan dan benci kemunkaran. Berkat kuburan ini, aku memohon kepada-Mu, tunjukkanlah daku ke jalan yang Kau ridloi dan nabi-Mu”.

Tanpa bisa menahan tangis, Al-Husain menaruh kepalanya di atas pusara kakeknya Rasulullah sambil berkata:
“Ya Rasulullah, aku adalah Husain putra Fatimah kesayanganmu. Aku adalah cucumu yang kau titipkan pada umatmu. Saksikanlah wahai Rasulullah bahwa mereka sesungguhnya telah menghinakanku dan memusuhiku”.

Al-Husain tertidur sejenak di atas pusara kakeknya. Dalam tidurnya beliau melihat Rasulullah mendatanginya diiringi para malaikat. Al-Husain dirangkul, dipeluk dan diciumnya penuh kerinduan. Pada wajah Rasulullah tergambar kesedihan yang mendalam. Rasulullah berkata kepada Al-Husian:

“Wahai cucu kesayanganku Husain, seakan aku melihat sebentar lagi kau akan berlumur darah, tersembeleh di Karbala karena kekejaman umatku, sedang engkau dalam keadaan kehausan. Setelah itu, mereka mengharap syafaatku, tidak..! Allah tidak akan memberi syafaatku kepada mereka di hari kiamat. Kekasihku Husain, ayah, ibu dan saudaramu telah datang menemuiku, mereka sangat merindukan kedatanganmu…!”

Al-Husain menangis sedih. Di dalam tidurnya beliau berkata kepada kakeknya:
“Wahai Rasulullah! Ajaklah aku, masukkanlah aku ke dalam kuburmu ini bersamamu hingga aku tidak perlu lagi kembali ke bumi”.

Sambil menangis sedih Rasulullah menjawab:
“Wahai anakku! Kau harus kembali ke bumi hingga kesyahidan menjemputmu untuk mendapatkan apa yang telah Allah tulis dari pahala yang besar”

Al-Husain terbangun dari tidurnya, kemudian bergegas pamit kepada Muhammad Al-Hanafiah yang saat itu sedang sakit. Dengan wajah terheran-heran dan kebingungan, Muhammad Al-hanfiah berpesan kepada saudaranya Al-Husain untuk tetap tinggal di Madinah atau kembali ke Makkah.

Al-Husain tidak bisa mengubah keputusannya. Sambil menangis Muhammad Al-hanafiah merangkul dan memeluk saudaranya Al-Husain, keduanya tidak bisa menahan air mata kesedihan. Seluruh keluarga pun bersedih pilu dan isak tangis tak bisa lagi dibendung. Itu adalah pertemuan terakhir yang kemudian akan berpisah selamanya.

Beberapa hari Al-Husain dan rombongan berjalan mengarungi gurun sahara yang panas. Rasa capek dan haus membuat mereka beristirahat. Dari kejauhan tampak rombongan berkuda mendatangi Al-Husain. Mereka adalah seribu pasukan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Hur Ar-Riyahi. Mereka menggiring Al-Husain dan rombongannya hingga sampai di suatu tempat. Tiba-tiba kuda yang dinaiki Al-Husain terhenti tanpa sebab. Al-Husain pindah ke kuda yang lainnya hingga tujuh kali, namun kuda tetap tidak mau berjalan.

Al-Husain turun dari kudanya, bertanya tentang nama daerah tersebut. Mereka menjawab, daerah itu bernama Al-Ghodiriyah, juga sering disebut Nainawa dan Karbala.

Ketika mendengar nama Karabala, Al-Husain as menghela nafas panjang dan berkata:
(karbun wa bala) ”Daerah kesusahan dan penderitaan.

Al-Husain menyuruh rombongannya turun dari kuda-kuda mereka dan mendirikan kemah: “Turunlah kalian!!. Di sinilah tempat tinggal kita. Di sinilah darah-darah kita akan teralirkan. Di sinilah kohormatan kita akan tercabik-cabik. Demi Tuhan, di sinilah kita akan terbunuh. Demi Allah, di sinilah bayi-bayi kita akan tersembeleh. Demi Allah di tanah ini kita akan dikuburkan. Kakekku telah ceritakan itu kepadaku dan sabdanya tak akan pernah keliru”

Padang Karbala

Di tengah terik matahari yang menyengat, al-Husain bersama rombongan mendirikan kemah sebagai pelindung. Makanan dan air minum telah habis, setetes airpun tidak ada, anak-anak dan keluarganya bertahan dalam kelaparan dan kehausan.

Pada malam 10 Asyuro adalah malam di mana drama kesedihan keluarga Rasulullah saw dimulai. Malam itu Imam Husain bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya telah dikepung oleh musuh-musuhnya. Tiada makanan, tiada pula persediaan air. Sungai Furat yang mengalir deras, airnya yang melimpah menghidupi setiap binatang dan pepohonan, namun tidak demikian bagi Abu Abdillah al-Husain dan keluarganya. Ribuan pasukan musuh menutup semua jalan ke arah sungai dan tidak seorangpun dari keluarga Al-Husain di ijinkan mereguknya. Dari dalam kemah kini hanya terdengar suara tangis dan rintihan tasbih, tahlil, doa dan munajat orang-orang yang telah merindukan Tuhannya.

Sementara, para wanita dan anak-anak dari putra-putri Al-Husain tidur dengan menahan lapar dan haus. Imam Husain hanya bisa menatap mereka dengan mata yang kosong. Anak-anak yang tak berdosa ini, akan terbantai satu demi satu karena kekejaman musuh. Al-Husain mendatangi keluarga Imam Hasan, keluarga Ja`far, keluarga Abbas, keluarga Aqil dan lainnya agar pergi meninggalkannya sendirian di tengah kegelapan malam. Namun mereka tetap betahan dan bersumpah setia untuk membelanya. Imam Husain terharu, air matanya mengalir, beliau bersedih dan hanya bisa pasrah serta berdoa kepada Sang Pencipta.
Perang Karbala Dimulai

Keesokan harinya, setelah Imam Husain menunaikan salat subuh bersama para sahabat, beliau memberikan ceramah singkat untuk membangiktkan semangat mereka. Kemudian beliau keluar dari kemah untuk menyaksikan para musuh yang telah mengepungnya dari berbagai arah. Duapuluh ribu pasukan berkuda dipimpin Syamr Zil Jausyan bersiaga di sebelah kanan, duapuluh ribu lainnya bersiaga di sebalah kiri di bawah komando Hauli bin Yazid Al-Asbahi dan ribuan lainnya siaga di tengah sebagai pertahanan.

Al-Husain as dengan pasukannya yang sangat terbatas, beliau menyuruh sahabat-sahabatnya menggali parit mengitari kemah, dipenuhi kayu lalu dibakar agar peperangan dari satu arah. Zuhair Ibnul Qoin bersama dualupuh pasukan berkuda berada di sebalah kanan, Hilal bin Nafi` al-bajali dengan beberapa orang lainnya berjaga di sebalah kiri, sedang Al-Husain dan Habib ibnu Madohir serta beberapa sahabt lainnya berada di tengah sambil mengamankan anak-anak kecil dan para wanita yang ada di dalam kemah. Sementara Al-abbas bertugas membawa panji-panji Al-husain as.

Pertama kali anak panah melesat ke arah Al-Husain dalam perang Karbala adalah milik Umar bin Saad. Dengan bangga dia menghardikkan anak panahnya sambil berteriak: “Berikanlah kesaksian kalian di hadapan sang pemimpin Yazid bahwa akulah yang pertama kali melepaskan anak panahku ke arah Al-Husain”.

Imam Husain segera memerintahkan sahabat-sahabatnya bersiaga, anak panah itu adalah pesan bahwa perang akan segera dimulai. Dengan pasukan yang terbatas, Imam Husain menuyruh pasukannya melawan musuh dengan perang tanding. Dengan gagah berani sahabat-sahabat Al-Husain satu persatu maju ke medan laga menghadapi ribuan musuh. Mereka menyeruak ke kanan dan ke kiri bagaikan harimau kelaparan hingga pasukan besar musuh itu pun berantakan.

Perang tak seimbang itu berlangsung hingga pertengahan hari. Ketika waktu zuhur tiba, Al-Husain menyuruh sahabtnya azan, dan beliau berseru kepada Umar bin Saad:
“Wahai Umar bin Sa`ad! Apakah kamu lupa syariat Islam? Tidakkah kita berhenti perang sebentar dan melakukan sala?”
Umar bin Saad membisu dan perang terus berkecamuk. Al-Husain segera melakukan salat berjamaah bersama sahabat-sahabatnya dan meminta Umar bin Furdoh Al-Anshori untuk melindunginya dirinya dari serangan anak panah. Dengan tulus dan bangga, Umar bin Furdloh menyambut perintah tersebut. Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng ratusan tombak dan panah yang mengarah kepada al-Husaian. Sementara itu, al-Husain tenggelam dalam kerinduannya kepada Tuhannya. Dalam keadaan lemah dan terluka parah, Umar bin Furdoh Al-Anshori mendekati Al-Husian, dengan suaranya yang terpatah-patah, beliau berkata: “Wahai Aba Abdillah! Sudah cukupkah aku setia membelamu”. Dan tak lama kemudian beliau menghembuskan nyawanya di hadapan Al-Husain.

Dalam riawayat disebutkan; “setelah Umar bin Furdloh terbunuh, Habib bin Madohir yang sedang siap melakukan salat berjama`ah, diminta oleh Al-Husian untuk menahan musuh. Dengan pedangnya yang terhunus, Habib berpamitan sambil berkata:
“Wahai junjunganku, aku ingin menyelesaikan salatku ini di surga, dan akan aku sampaikan salammu kepada kakek, ayah dan saudaramu”

Beliau menyerbu musuh, mengamuk hingga banyak korban berjatuhan. Dalam keadaan terluka parah dan terhuyung-huyung, tiba-tiba seorang musuh dari belakang mengayunkan sebilah pedangnya ke arah leher Habib bin Madohir, beliau tersungkur jatuh dan kepalanya lepas dari tubuhnya.

Al-Husain bersedih telah kehilangan habib bin Madohir, sambil memujinya beliau berucap:
“Sungguh mulia kamu wahai Habib, kamu telah menghatamkan Al-Quran dalam satu malam”.

Ketika melihat kematian Habib bin Madohir dan kesedihan Al-Husain yang begitu dalam, Zuhair Ibnul Qoin tidak bisa menahan kesabarannya. Beliau meminta ijin kepada Al-Husain untuk berperang melawan musuh Allah:
“Wahai junjunganku, ijinkanlah aku untuk berperang melawan musuh!”.

Al-Husain pun mengijinkannya. Dengan gagah berani Zuhair Ibnu Al-Qoin berlari ke medan laga, menyeruak ke tengah musuh hingga banyak korban yang terbunuh. Karena takut terlambat salat, Zuhair kembali kepada Al-Husain dan melanjutkan salat bersamanya hingga selesai.

Riwayat menyebutkan; meskipun tubuhnya penuh luka, Zuhair Ibnul Qoin kembali maju ke medan perang, menyeruak ke tengah musuh hingga banyak korban berjatuhan. Dalam keadaan lemah dan rasa haus yang terus melilitnya, tiba-tiba datang seorang musuh mengayunkan pedangnya menghantam kepala Zuhair Ibnu Al-Qoin. Darah segar menyembur, Zuhair terjatuh dari kudanya dan meninggal seketika.

Riwayat menceritakan: Seorang budak Romawi yang setia kepada Abu Abdillah al-Husain, ikut berperang melawan musuh. Tubuhnya terkoyak oleh anak panah dan sabetan pedang. Dia tersungkur dari kudanya dan pingsan, matanya tertutup oleh darah. Imam Husain segera mendatanginya dan memeluk tubuhnya. Al-Husain menaruh kepala budak tersebut ke dalam pangkuannya sambil membersihkan darah yang menutupi matanya. Ketika budak Romawi ini tersadar, matanya melihat wajah al-Husain, dia tersenyum dan berkata: “Oh siapakah aku ini dibanding putra Rasulullah saw, beliau kini telah menaruh pipinya di atas pipiku”.

Riwayat juga menceritakan; Abdullah bin Umair al-Kalbi adalah orang yang dikenal sebagai seorang pemberani. Dia telah membawa ibu dan istrinya yang baru saja dinikahi beberapa hari untuk bergabung bersama Al-Husain. Ketika beliau terluka parah dan terjatuh dari kudanya, beliau kembali menemui Abu Abdillah al-Husain sambil berbangga diri karena bisa membela Imamnya.

Dengan tubuh berlumur darah, beliau berkata kepada ibunya yang berada di sampingnya: “Wahai ibu, sudah ridlokah kamu kepadaku?”. Sang ibu menjawab: “Aku tidak akan pernah ridlo kepadamu hingga kamu terbunuh di hapan al-Husain as putra Fatimah az-Zahra”. Istrinya menangis terisak-isak, sambil memegangi pakaian suminya, sang istri berkata: “Demi Allah, jangan engkau tinggalkan aku sendirian dengan terbunuhnya dirimu”. Ibunya kembali berkata: Wahai putraku, jangan kamu perdulikan ucapannya, kembalilah berperang membela putra Rasulullah saw, kelak kamu akan mendapat syafaat kakeknya di hari kiamat.

Meski terhuyung-huyung, Abdullah al-Kalbi kembali berperang melawan musuh. Dia terjatuh bersimbah darah, lalu datanglah seorang musuh menghampirinya dan menghujamkan pedangnya ke leher Abdullah. Kepalanya pun lepas dari tubuhnya dan dilempar menggelinding ke arah ibunya. Kepala tanpa tubuh itu diambil oleh ibunya, didekap dalam dadanya sambil berkata: “Putraku, kini aku telah ridlo kepadamu, kamu telah menjalankan kewajibanmu dengan baik”.

Sambil memegang kepala putranya, sang ibu berkata: “Kami tidak akan meminta kembali apa yang telah kami korbankan di jalan Allah”. Kemudian kepala putranya itu dilempar ke arah musuh. Sambil mengejar pembunuh putranya, wanita itu berkata kepada Imam Husain: “Junjunganku, aku adalah wanita tua, renta, tiada tenanaga, tubuhku kurus dan sebentar lagi akan binasa. Aku akan berperang dengan keras untuk membela putra Fatimah yang mulia”.

Dalam riwayat diceritakan: Jun adalah seorang yang berkulit hitam. Di malam 10 syura Imam Husain memberi kesempatan kepadanya agar pergi meninggalkannya. Namun demi Abu Abdillah, Jun menolak dan berkata: “Wahai putra rasulullah, dalam keadaan lapang aku selalu bersamamu, apakah dalam kesulitan aku harus meninggalkanmu? Demi Allah, bau tubuhku busuk, nasabku orang-orang yang jahat, warna kulitku hitam. Aku ingin bermandikan air surga agar bau tubuhku menjadi wangi, nasabku menjadi mulia, warnaku menajdi putih. Demi Allah aku tidak akan meninggalkanmu sejengkal pun hingga darahku yang hitam ini bercampur dengan darah-darahmu”.

Ketika Jun ini terbunuh, Imam Husain menghampiri jasadnya dan berdoa: “Ya Allah, putihkanlah wajahnya, wangikanlah bau tubuhnya, bangkitlah dia bersama orang-orang baik dan kenalkan dia dengan Muhammad dan keluarga Muhammad”.

Terbunuhnya Al-Abbas as

Satu persatu sahabat Al-Husain berguguran. Panasnya padang karbala membuat para wanita dan anak-anak kecil tidak mampu menahan rasa haus. Al-Husain menyuruh Al-abbas untuk menembus sungai Furat
Al-Abbas memacu kudanya menembus pasukan musuh hingga berhasil masuk ke sungai Furat. Girbo yang dibawanya dipenuhi air.

Rasa haus yang mencekik lehernya membuat Al-Abbas mengulurkan tangannya ke dalam air dan mengangkatnya di dekat mulutnya. Tiba-tiba beliau teringat Al-Husain dan para wanita serta anak-anak dalam kemah menunggunya dalam keadaan kehausan. Al-Abbas tersentak, sambil membuang air di tangannya beliau berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan mereguk dinginnya air ini sementara junjunganku Al-Husain dan keluargnya dalam keadaan kehausan”.

Dengan cepat Al-Abbas melompat dari sungai membawa gerbo penuh air. Ribuan pasukan musuh yang menghadangnya tidak mampu menghalangi langkahnya. Puluhan anak panah yang menancap ditubuhnya seakan tak dirasakan lagi. Kelincahan tangan Al-Abbas memainkan pedangnya membuat pasukan musuh porak-poranda hingga tangan kanannya terputus. Dengan gigih beliau bertahan dengan tangan kirinya sambil menyelamatkan air yang dibawanya hingga tangan kirinya terputus. Dengan pantang menyerah, Al-Abbas singa Bani Hasyim ini mengambil pedangnya dengan mulut dan air diamankan di atas punggungnya.

Umar bin Saad menyaksikan kegigihan al-Abbas yang sedemikian dahsyat, ia menyuruh pasukannya untuk memanah girbo tempat air yang dibawa Al-Abbas. Air itupun tumpah tak terselamatkan. Dengan menahan rasa sakit yang tiada tara, al-Abbas tetap bertahan. Tiba-tiba seorang kafir datang dari belakang mengayunkan sebatang besi menghantan kepala Al-Abbas. Kepala suci itu pun pecah, Al-Abbas tersungkur jatuh dari kudanya. Al-Abbas menjerit kesakitan sambil memanggil Al-Husain: (ya Aba Abdillah `alaika minni salam )
Ketika Al-Husain mendengar jeritan sakit yang menyayat hati itu, beliau mengejarnya sambil berteriak: ( wa akhoh, wa `abbasah, wamuhjata qolbah) Al-Husain menemukan Al-Abbas sudah tidak bernyawa lagi. Sambil menangis sedih, Al-Husain mengucapkan rasa terimakasih kepada Al-Abbas yang sudah tak bernyawa itu:
“Semoga Allah membalasmu kebaikan dari seorang saudara yang telah berjihad di jalan-Nya dengan sebaik-baik jihad”.

Dalam riwayat lain disebutkan; sebelum al-Abbas menghembuskan nafasnya, beliau sempat perpesan kepada al-Husain as: “Saudaraku, jangan engkau katakan kepada Sukainah, Ruqoiyah, Ummi Kalstum dan anak-anak lainnya bahwa aku telah gagal membawakan air minum untuk mereka”.

Sambil menangis sedih Al-Husain membawa mayat yang berlumuran darah itu ke dalam kemah. Zainab dan seluruh wanita dalam kemah menangis, anak-anak kecil keluarga nabi meraung-raung histeris.

Di tengah terik matahari yang membakar, kini Al-Husain tinggal sendirian. Beliau menoleh ke kanan dan ke kiri, tak satupun dari sahabatnya yang tersisa kecuali tubuh-tubuh para syuhada tanpa nyawa. Al-Husain memanggil-manggil minta tolong:
“Tidakkah ada orang yang ingin membantu kami, tidakkah ada orang yang ingin menolong kami, tidakkah ada orang yang ingin membela kami. Tidakkah ada orang yang ingin surga lalu membentu kami, tidakkah ada orang yang takut siksa neraka lalu mengasihani kami, tidakkah ada orang yang siap membantu kesulitan kami”

Taubatnya Hur Arriyahi
Seruan itu telah menembus telinga Hur bin Yazid Arriyahi. Beiau bergegas menemui anaknya untuk membantu Al-Husain.
Dengan gerakannya seakan ingin menyerbu Imam Husain, Al-Hur bersama anaknya melarikan diri dari pasukan Umar bin Saad. Di hadapan Al-Husain, Hur dan anaknya bersimpuh sujud, menangis menyesali perbuatannya:
“Wahai junjunganku! Akulah yang menghalangimu kembali ke Madinah. Demi Allah, aku tidak tahu bila mereka akan memperlakukanmu sedemikian jahat. Kini aku datang menyerahkan diriku kepadamu, masih adakah pintu taubat bagiku dan kesempatan mempersembahkan jiwaku untukmu?”

Al-Husain menjawab: “Jika kamu bertaubat, Allah akan menerima taubatmu dan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu..”.

Dengan bangga dan gembira, Al-Hur menyuruh anaknya berperang menyerbu musuh hingga syahid. Al-Hur yang sejak tadi merindukan kesyahidan, beliau berpamitan kepada Al-Husian untuk maju ke medan laga:

“Junjunganku, ijinkanlah aku berperang melawan mereka untuk membelamu, karena akulah orang pertama yang lari dari mereka.Aku ingin terbunuh syahid di hadapanmu”.

Dengan suara haru Al-Husain berkata: “Pergilah, mudah-mudahan Allah memberkatimu”
Sambil menyerbu musuh, dengan suara lantang Al-Hur berseru kepada orang-orang Kufah:
“Wahai penduduk Kufah, wahai para penipu, alasan apa kalian memanggil Imam yang suci ini, kalian janjikan untuk setia membelanya. Tapi ketika beliau datang, kalian tipu, kalian musuhi, kalian kepung dari berbagai arah. Kalian melarangnya pergi bersama keluarganya ke mana yang beliau sukai. Kini beliau berada di hadapanmu seorang diri. Kalian larang bersama keluarganya mereguk setetes air Furat, sementara kalian ijinkan Yahudi, Nasrani, Anjing dan babi meminumnya? Sungguh celaka, kalian berani menentang nabimu dan keluarganya. Mudah-mudahan Allah tidak akan memberi minum kalian di hari yang sangat dahsyat”.

Al-Hur menyerbu musuh, menyeruak ke kanan dan ke kiri hingga tubuhnya terkoyak oleh anak panah bagaikan seekor landak. Dengan darah mengucur deras, beliau terjatuh lemas. Kemudian datang seseorang sambil menggenggam sebilah pedang mendekatinya, dan dengan biadab kepala suci Al-Hur itu pun dipenggalnya dan dilempar ke arah Al-Husain.
Al-Husain berlari mengambil kepala tanpa tubuh itu, dibersihkan darahnya sambil berkata: “Sungguh tidak salah jika ibumu memberimu nama Hur (bebas), bebas di dunia dan bahagia di akhirat. Semoga Allah mengampunimu”.

Terbunuhnya Qosim dan Ahmad
Kini Al-Husain kembali sendirian. Dengan lidahnya yang kering kilu, beliau memanggil-manggil meminta tolong, mencari orang yang bisa menolongnya:
“Oh.. alangkah asingnya, alangkah hausnya, alangkah sedikit penolongnya, tidakkah ada orang yang ingin membantu kami, tidakkah adaorang yang ingin menolong kami, tidakkah ada orang yang ingin membela kehormatan keluarga Rasulullah saw…?”

Dari dalam kemah, keluar dua anak muda, wajahnya bersinar bagaikan bulan. Mereka adalah Ahmad dan Qosim putra Imam Hasan as. Kedua pemuda itu menghadap pamannya untuk berperang. Imam Husain melarang mereka, namun mereka memaksa untuk tetap berperang. Dengan perasaan berat dan cemas, sedih dan haru, Imam Husain mengijinkan mereka. Dengan gagah Qosim yang baru berusia empatbelas tahun itu, menyandang pedang dan memacu kudanya berperang melawan musuh hingga tujupuluh tentara terbunuh karenanya. Tanpa disadari, datang seorang musuh dari belakang mengayunkan pedangnya menghantam kepala suci Qosim. Kepala suci itu pecah, Qosim tersungkur jatuh bersimbah darah. Qosim menjerit meminta tolong kepada pamannya:
“Wahai paman, tolonglah aku!”

Al-Husain tersentak, beliau lari menolongnya namun telah terlambat. Dengan perasaan menyesal dan derai air mata membasahi wajahnya, Al-Husain memandangi tubuh Qosim yang tak bernyawa itu sambil berkata: “Mudah-mudahan Allah memuliakan pamanmu yang telah kamu panggil namun tidak dapat menolongmu”
Mayat tak bernyawa itu diambil dan dikumpulkan dengan mayat-mayat para syuahada yang lain.

Tak lama kemudian disusul oleh adiknya Ahmad. Dia adalah anak kecil berusia enam tahun. Dengan pedangnya yang terseret-seret, beliau mengamuk menyerang musuh-musuhnya. Di tengah-tengah melawan musuhnya yang dahsyat, matanya terasa berkunang-kunang karena kehausan, pada saat itu pula Ahmad menjerit: “Wahai paman! Adakah setetes air yang dapat membasahi tenggorokanku, untuk memperkuat tubuhku memerangi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya?”
Sambil berlari dan menangis haru, Al-Husain menjawab: “Wahai nandaku, bersabarlah sebentar hingga kamu bertemu kakekmu Rasulullah. Beliau akan memberimu minum hingga kamu tidak akan pernah haus selamanya”

Terbunuhnya Ali Akbar
Kemudian datang Ali Akbar putra Imam Husain. Dengan beringas bagaikan harimau kelaparan beliau menyerbu musuh-musuhnya. 180 dari mereka terbunuh karenanya. Tiba-tiba sosok laki-laki kafir datang dari belakang, dengan sebatang besi digenggamnya, lalu dihantamkan ke kepala Ali Akbar, kepala suci itupun pecah. Ali Akbar tersungkur jatuh bersimbah darah. Ali Akbar berteriak memanggil ayahnya:
“Wahai ayah! Salamku kepadamu. Ini kakekku Rasulullah dan ini ayahku Ali, dan ini nenekku Fatimah. Mereka memanggilmu, cepatlah engkau datang! wahai ayah!! Mereka sangat merindukanmu! ( wa alaika minni salam )
Seluruh para wanita di dalam kemah menangis dan menjerit histeris. Sementara itu, Al-Husain menghela napas panjang, mengenakan pakaian perang dan berserban. Dengan sebilah pedang zulfikar digenggamnya, wajahnya tampak mirip Rasulullah.

Lalu beliau mamcu kudanya menyerbu musuh hingga sampai di dekat mayat Ali Akbar. Kepala tanpa tubuh itu diambilnya dan ditaruh di atas pangkuannya, dibersihkan darah dan tanah yang menempelnya. Al-Husain tak bisa menahan tangisnya. Sambil membawa mayat anaknya beliau mengutuk pembunuhnya. Seluruh wanita dalam kemah menangis sejadi-jadinya, Zainab menjerit histeris tak tersadarkan diri.

Al-Husain menaruh mayat anaknya di atas pangkuannya, sambil menangis beliau mengucap:
“Wahai anakku! Kau kini telah tenang di singgahsana dari penderitaan dunia, kau telah melangkah dengan penuh ketenangan. Kini tinggal ayahmu dan sebentar lagi aku pasti akan menyusulmu”

Terbunuhnya Ali Asghor
Suasana sedih nan haru semakin menyelimuti keluarga nabi. Al-Husain menemui Zainab dan berpesan: “Wahai saudara perempuanku, aku titipkan anakku terkecil ini kepadamu, jagalah ia baik-baik”

Bayi itu adalah Ali ashgor yang baru berusia enam bulan. Dengan tangisan yang tak dapat dibendung, Zainab menjawab: “Wahai suadaraku! Anak ini sudah tiga hari tidak kemasukan air, mintalah setetes air dari mereka untuknya”.
Bayi kecil itu diangkat, didekap dan diciumnya, lalu dibawa keluar kemah. Diangkatnya tinggi-tinggi sambil Al-Husain berteriak: “Wahai kaum, kalian telah membunuh saudaraku, anak-anakku dan sahabat-sahabatku tanpa ada yang tersisa kecuali bayi kecil ini. Ia pingsan karena kehausan, berilah stetes air untuk membasahi teggorokannya”

Sebelum usai berbicara, anak panah melesat dari busurnya dengan cepat dan menembus leher bayi itu. Ia mengglepar-glepar ditangan Al-Husain dan meninggal seketika. Darah segar menyembur membasahi tubuh Al-Husain. Al-Husain melemparkan darah suci itu ke langit dan tidak pernah turun kembali. Lalu Al-Husain mengangkat tangannya kelangit, sambil menangis beliau berdoa: “Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu bahwa mereka telah nandar tidak akan menyisakan satupun dari keturunan nabi-Mu hidup”

Kemudian bayi yang tersembeleh itu dibawanya ke dalam kemah dan diserahkan kepada Zainab. Sambil menangis Al-Husain berdoa:
“Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku sendirian, wahai Rabbi, mereka telah melanggar yang berlebihan.
Mereka telah menjadikan kami diantara mereka seorang budak, dengan perbuatan itu mereka mengharap rido dari Yazid.

Kemudian Al-Husain memanggil keluarganya, Zainab, Ummi Kulsum, Sukainah, Ruqoiyah dan keluarga lainnya. Al-Husain berpamitan kepada mereka, dan berpesan kepada Zainab untuk menjaga Ali Zainal Abidin as.
Seluruh para wanita menangis, itu adalah pertemuan terakhir kalinya, Zainab menjerit sejadi-jadinya: “Oh, kenapa aku harus menyaksikan kejadian hari ini”. Al-Husain merangkulnya dan berkata: “Wahai adikku bersabarlah….kematian adalah pasti, kesyahidan adalah pasti,…..aku titipkan keluargaku kepadamu, pimpinlah mereka setalah aku syahid, rawatlah anak-anak kecil dari keluarga kita ini”
Syahidnya Imam Husain

Usai berpamitan, Al-Husain memacu kudanya ke arah musuh. Kepada mereka beliau berseru: “Wahai kaum, celaka lah kalian!!…..atas dasar apa kalian memerangiku. Karena kebenaran yang aku tinggalkan, ataukah sunnah aku ubah, atau syariat aku ganti?”

Mereka menjawab: “Kami memerangimu karena kebencian kami terhadap ayahmu, sebagai balas dendam terhadap apa yang pernahdilakukan kepada orang-orang tua kami di Hunain dan Badar”

Jawaban itu, membuat Al-Husain tak mampu menahan tangisnya, air matanya mengalir sedih. Beliau menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang bisa membantunya. Sambil meneteskan air mata kesedihan, beliau memanggil-manggil nama para sahabatnya yang telah terbunuh. Mayat-mayat para syuhada yang berserakan seakan bergetar berusaha menjawabnya.

Kini Al-Husaian menghadapi musuh-musuhnya sendirian. Di bawah terik matahari yang menyengat, beliau berdiri tegak, menyerang dan menyeruak di tengah-tengah musuh dengan gigih. Umar bin Sa`ad yang menyaksikan keadaan tersebut, segera menyuruh pasukannya untuk mengkroyok Al-Husain dari berbagai arah. Sebagian menyerangnya dengan pedang dan tombak, sebagian yang lain dengan panah dan batu hingga sekujur tubuh Al-Husain penuh luka.

Tubuh Al-Husain kini mulai melemah. Saleh bin Wahab Al-Muzanni memanfaatkan keadaan tersebut, dia segera mengejarnya dan menusukkan tombaknya ke pinggang Al-Husain. Beliau tersungkur jatuh dari kudanya dengan berlumur darah.
Syimr segera menyuruh pasukannya untuk menghabisi nyawa cucunda nabi yang tak berdaya ini. Zar`ah bin Syuraik memicu kudanya dengan cepat dan menghantamkan pedangnya ke pundak kiri Al-Husain. Al-Husain membalasnya dan Zar`ah dibantingnya terkapar di atas tanah.

Seorang lagi datang mendekatinya, dengan ganas ia mengayunkan pedangnya ke pundak kanan al-Husain, beliau terjatuh di atas tanah. Dengan susah payah beliau merangkak mencoba untuk bangkit kembali. Tiba-tiba Sinan bin Anas An-Nakho`i mengejarnya dan menusukkan tombaknya ke dada Al-Husian (tombak bermata dua). Sinan mencabut tombaknya dan menusukkan kembali ke dada Al-Husain. Tidak puas dengan itu, Sinan membidikkan panahnya ke arah Al-Husain. Anak panah itu bersarang tepat pada suci Al-Husain. Beliau terjatuh dan mengerang kesakitan. Sambil tertunduk menahan rasa sakit, beliau berusaha mencabut anak panah itu dari lehernya. Darah segar mengucur deras. Al-Husain mengusapkan darahnya itu di kepala dan janggutnya seraya berkata: “Dengan seperti ini, aku akan menghadap Allah dan kakekku. Tubuhku berlumur darah dan hakku terampas”.

Tak lama kemudian Imam Husain terkulai lemas dan pingsan tak tersadarkan diri. Ketika siuman dan berusaha bangkit, tubuhnya tak berdaya lagi. Al-Husain menangis dan menjerit sedih:
“Aku terbunuh teraniaya dan kakekku Mustofa, aku tersembeleh kehausan dan ayahku Murtadlo, aku dihina dan ibuku Fatimah”

Jeritan pilu a-Al-Husain itu membuat seluruh wanita dalam kemah histeris. Zainab berlari mengejar Al-Husain kakaknya. Sambil menangis ia menggerak-gerakkan tubuh Al-Husain yang tak berdaya itu seraya berkata:
“Saudaraku (Husain)… demi kakekku Rasulullah bicaralah kepadaku!..Demi ayahku Amiril mukminin ngomonglah kepadaku!…Wahai belahan jiwaku! demi ibukku Fatimah Zahra jawablah aku!….Wahai cahaya mataku, wahai belahan hidupku sahutlah kata-kataku!

Dengan suara yang terpatah-patah, Al-Husain menjawab:
“Saudariku, ini adalah hari yang paling duka. Inilah hari yang dijanjikan kakekku itu, dan kini beliau sangat merindukanku”.

Zainab meratap, tak mampu menahan derai air mata kesedihannya. Al-Husain menyuruhnya segera kembali ke kemah untuk menjaga keluarganya yang tersisa. Dengan hati yang luka, Zainab pergi meninggalkan Al-Husain dalam keadaan tak berdaya.

Sementara itu, di dalam kemah, jerit, tangis dan ratapan putri-putri Al-Husain saling bersahutan. Suasana haru dan pilu menyelimuti jiwa mereka. Tiba-tiba Abdullah putra Imam Hasan yang masih kecil, berlari mengejar pamannya yang tergeletak.

Zainab berlari mengejarnya dari belakang namun terlepas. Abdullah merangkul tubuh pamannya yang bersimbah darah itu dan berkata: “Demi Allah aku tidak ingin berpisah dengan pamanku”. Tiba-tiba seorang musuh datang mengayunkan pedangnya untuk membunuh Al-Husian. Abdullah menangkisnya dengan tangannya, tangan mungil itu pun patah. Ia menjerit kesakitan: “Wahai ibu, wahai paman lihatlah, dia telah mematahkan tanganku”. Imam Husain mendekapnya dan berkata:”
“Wahai keponakanku, bersabarlah atas apa yang telah menimpamu, anggaplah itu sebuah kebaikan, karena sesungguhnya Allah akan mempertemukanmu dengan ayah-ayahmu yang saleh”.

Khauli bin Yazid al-Asbahi seorang durjana, dia menghunus pedangnya mendekati Al-Husain untuk membunuhnya. Ketika matanya menatap wajah Al-Husain, tubuhnya bergetar dahsyat. Dia menyaksikan wajah itu mirip wajah Rasulullah saw, dia lari ketakutan dan mengurungkan niatnya.

Sesaat suasana menjadi hening. Kemudian, layaknya orang kesurupan Syimr datang mendekati Al-Husain. Tubuh suci al-Husain itu ditendang dan diinjak dadanya, sambil berkata: “Jangan dikira aku takut membunuhmu seperti yang lainnya…wahai Husain”
Imam Husain terkejut, sambil menahan sakit beliau:
“Celaka, siapakah kamu! benarinya kamu menginjak dada yang sering dicium nabi?
Laki-laki itu menjawab:“Aku adalah Syimr”.
“Tidakkah kamu kenal aku? Kata Al-Husian bertanya.
Syimr menjawab: “Kamu adalah Husaian, ayahmu Ali, ibumu Fatimah Zahra, kakekmu Mustofa Muhammad dan nenekmu Khodijah Al-Kubro”.
“Sungguh terkutuk, kamu kenal aku kenapa kamu membunuhku?” tanya Al-Husain
Sambil ketawa terbahak-bahak Syimr menjawab: “Dengan membunuhmu, aku akan mendapat hadiah dari Yazid”.
“Mana yang kamu sukai, syafaat kakeku Rasulullah ataukah hadiah dari Yazid?” tanya Al-Husain
Sambil mengejek Syimr menjawab: “Hadiah sedikit dari Yazid, jauh lebih aku sukai darpada syafaat kakekmu”.

Dan yang terakhir kalinya Imam, Husain meminta kepada Syimr agar memberikan setetes air untuk membasahi tenggorokannya:
Tanpa belas kasihan Syimr menjawab: “Sama sekali tidak. Demi Allah, kamu tidak akan pernah mereguk setetes airpun hingga kamu merasakan kematian yang mencekik karena dahaga”. Wahai Aba Turab! Tidakkah kamu beranggapan bahwa ayahmu telah menunggumu di khaud (telaga) dan akan memberi minum siapa saja yang dicintainya? Sabarlah sebentar hingga ayahmu memberi minum kepadamu”.

Riwayat menceritakan; Saat itu Al-Husain mengeluarkan lidahnya karena keahausan sambil berkata; Air…air…beri aku sedikit air…pinta Al-Husian as kepada Syimr.

Manusia durjana ini tidak menggubrisnya, bahkan dengan ganas dan beringas, tubuh suci Al-Husain dibalik, diinjak lehernya dan diangkat kepalanya. Al-Husain menjerit kesakitan:
wa Muhammadah, wa `Aliyah, wa Hasanah, wa Jaafaroh, wa Hamzatah, wa `aqilah, wa abbasah, wa qotilah, wa qilata nasiroh, wa gurbatah”

Lalu dengan kejam, Syimr menghujamkan pedangnya ke leher Al-Husain dan menggoroknya, kepala suci itupun lepas dari tubuhnya…….….disertai gema takbir (Allahu Akbar)…….bumi mendadak bergetar, langit gelap, petir menyambar-nyambar dan hujan darah membasahi padang Karbala.

Diriwayatkan: Tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan, mereka lalu melucuti barang-barang yang dikenakan Al-Husain. Ishaq bin Haubah merampas baju Al-Husain. Abhur bin Ka`ab melucuti celana yang dikenakan Al-Husain. Sedang Bajal bin Sulaiman merampas cincin yang berada di jari Al-Husain, dan karena sulit dilepas, maka jari-jari tangan suci Al-Husain itupun dipatahkan dan dipotongnya. Tidak hanya puas dengan itu, tubuh suci Al-Husain tanpa kepala itu diinjak-injak oleh ratusan kaki kuda hingga seluruh tubuhnya berserakan. ……..

Oh, betapa kejam dan jahatnya mereka, Ya Allah
Oh, betapa hinanya perlakuan mereka, Ya Rasulullah
Cucumu terbaring penuh luka dan dahaga, Ya Rasulullah
Buah hatimu bersimbah darah dan teraniaya, wahai Fatimah
Putramu diinjak-injak tanpa belas kasihan, Wahai Amiril Mukminin

*Maqtal Ust. Miqdad Turkan untuk Arbain 1430/2009 di Jepara

(daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Maqtal Imam Husain as I"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.