Di Jakarta, Amerika Memoles Wajah

No comment 499 views

Jatuh miskin. Kehilangan pekerjaan. Terusir dari rumah sendiri. Ini menu resesi rakyat di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Menu yang dingin mengingat resesi itu – dan berita menyedihkan seputar keterpurukan hidup jutaan orang orang di sana – tak kunjung selesai hingga hari ini. Apa yang baru?

Yang baru mungkin karena justru di sini, di Jakarta ini, di saat resesi masih menunjukkan taringnya di Amerika Serikat, Kedutaan mereka justru membelanjakan uang yang banyak sekadar ‘memanjakan’ anak-anak muda Jakarta. Laporan sejumlah media menyebutkan kalau Kedutaan Amerika, pada Rabu pekan ini, telah meresmikan sebuah “pusat kebudayaan” berteknologi canggih, termasuk berpuluh-puluh unit komputer mewah iPad.

Berlokasi di Pacific Place Mall, America, nama pusat kebudayaan Amerika itu, mengambil ruang 600 meter persegi. Ini mall supermewah Jakarta dengan harga sewa selangit. Pihak Kedutaan mengatakan America adalah tempat anak-anak muda Indonesia “mengeksplorasi, merasakan dan menunjukkan ketertarikannya” pada “keragaman, budaya, pendidikan, politik dan sejarah” Amerika.

Tentu saja ini skandal. Sebab di saat anak-anak muda Jakarta santai menekan-nekan layar sentuh iPad yang dibeli dengan uang pajak rakyat Amerika, 16.500 kilometer di Amerika sana, ada jutaan orang yang hatinya meranggas karena resesi.

Di negara bagian Hawaii, demi penghematan anggaran daerah, pemerintah telah meliburkan sekolah setiap Jumat. Di sebuah keresidenan di negara bagian Georgia, pemerintah telah menghentikan semua layanan bus bersubsidi dan di Colorado Springs, kota berpenduduk 380.000 jiwa, sepertiga dari penerangan jalan telah dipadamkan guna menekan anggaran listrik.

Daftar kesemrawutan ekonomi Amerika Serikat masih panjang. Di Ventura California – sebuah kota pinggir pantai yang mewah – sekitar 20% penduduknya terancam kehilangan rumah. Mereka yang hidup bergelimangan harta kini berumah di mobil-mobil mewah mereka di pojok-pojok jalan kota. Dan dengan mobil-mobil mewah itu, kata seorang pejabat Salvation Army, mereka datang ke dapur-dapur umum untuk mengantri makan gratis.

Media internasional, termasuk Press TV, tv satelit berbasis Tehran, Iran, belakangan memberitakan kalau satu dari delapan orang dewasa Amerika dan satu dari empat anak-anak di Amerika kini hidup dengan mengadalkan kupon makan pemerintah.

Suramnya kehidupan di Amerika saat ini mungkin mendorong Arianna Huffington, seorang kolumnis online ternama di Amerika Serikat, November lalu, menulis kalau negaranya kini “terancam terpuruk menjadi Negara Ketiga”.

Utang Amerika Serikat angkanya kini hampir menyamai nilai perdagangan barang dan jasa di sana dalam setahun. Jauh lebih buruk ketimbang angka ekonomi negara-negara miskin di Afrika.

Kembali ke pusat kebudayaan Amerika di Jakarta. Tak begitu jelas adakah dengan piranti canggih di sana anak-anak muda Jakarta diberi keleluasaan penuh untuk mengakses dan mendiskusikan segala hal seputar Amerika, termasuk yang tabu bagi lingkungan diplomat Amerika di seluruh dunia. Contoh: atletisme militer Amerika di Irak dan Afghanistan. Atau kasus teranyar dan kini jadi pembicaraan orang banyak di Jakarta: skandal spionasi Kedutaan Amerika yang terekspor seiring publikasi telegram diplomatik Amerika Serikat. (daruttaqrib/Islam Times/sa)

No Response

Leave a reply "Di Jakarta, Amerika Memoles Wajah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.